Arsip

Archive for November 24, 2009

Kunjungi Kami Segera

November 24, 2009 Tinggalkan komentar

Baca artikelnya beli tabloinya
cuma : Rp 10.000

Kategori:Uncategorized

Ada Minimalis Bali di Karibia

November 24, 2009 Tinggalkan komentar

Arsitektur Bali ada di Karibia. Benarkah, bagi penjelajah dunia maya tentunya tidak kaget. Di mana di sini ada sebuah pulau yang dikosep dengan gaya arsitektur Bali. Ingin liburan ke sana ? Booking sekarang dapatnya 10 tahun lagi…..hahaha bisa gila kalee nunggunya

Karibia, Negara satu ini adalah bagian dari Eropa. Ada sesuatu yang unik di tempat ini. Bisa dibilang mirip Bali. Satu lagi kiprah orang Bali di luar negeri yang membuat bangga sebagai orang Bali. Adalah tayangan di Travel Channel yang berjudul Owned Islands, sebuah acara TV yang berisi listing pulau-pulau terkenal yang dimiliki secara pribadi di seluruh belahan dunia termasuk Karibia yang ternyata mendominasi kepimilikan pulau-pulau pribadi.

Kenapa Karibia? Selain faktor keindahan pantai dan mudahnya birokrasi pembelian pulau, faktor pentingnya adalah karena jaraknya yang dekat pusat kapitalis Amerika.

Salah satu pulau yang masuk dalam daftar tersebut adalah Necker Island yang  terletak di British Virgin Island. Luas pulau tersebut hanyalah 74 are dengan sebuah resort pribadi yang berdiri di atasnya. Pemilik pulau pribadi tersebut adalah Sir Richard Branson, yang punya Virgin Airlines dan juga raksasa industri Virgin Music di US sana.

Yang cukup mengesankan adalah resort pribadi tersebut bergaya 80% nuansa Bali yang tentu saja diarsiteki orang Bali. Sayang dalam narasinya tidak disebutkan nama, hanya disebut Balinese architect. Memang dalam tayangan itu jelas sekali terlihat gaya Balinya baik dari segi bentuk bangunan, atap maupun dari segi landscaping, plus tentunya patung-patung batu yang banyak dijumpai di daerah Gianyar. Bahan-bahan pun langsung didatangkan dari Bali.

Mau liburan ke sana? Harganya ‘hanya’ $56.000 sehari (akomodasi tok, excluding makan dll). Bookingnya yang susah. Pulau tersebut sudah fully booked untuk 10 tahun ke depan. Jadi kalau mau liburan ke sana tahun 2019, harus booking dari sekarang. Saya hanya wonder, dengan level seperti itu, kira-kira bagaimana bayaran arsitek dari Bali itu?

Kategori:unik

Menangkal Upas dengan Obat Tradisional

November 24, 2009 Tinggalkan komentar


Bayak penyakit yang tidak bisa ditangani dengann cara medis. Berbagai upaya telah ditempuh seperti cek darah, urine dan lain-lain termasuk melakukan rotgen, ternyata penyakit si-pasien tak nampak sama sekali.

Upas merupakan jenis penyakit yang dominan menyerang kekebalan tubuh, dengan tanda-tanda lemas, letih, lesu, mual dan pusing dan akhirnya orang yang bersangkutan muntah darah karena yang diserang adalah pencernaan.lewat pencernaan upas akan menyebar ke seluruh tubuh melalui darah menuju otak dan saraf.

Bagi orang Bali bila terkena upas (racun) kecil kemungkinan bisa disemmbuhkan walaupun telah mendapat perawatan di rumah sakit/dokter. Orang Bali biasanya memiliki cara tersendiri untuk menembuhkan penyakit jenis satu ini. Apabila sakit berupa letih di tangan dan kaki, ngantuk serta panas pada dada.

Tetapi walaupun ngantuk si sakit tidak bisa tidur nyenyak, karena disertai batuk-batuk. Upas sejenis ini dinamakan Upas Dok. Obatnya : akar glagah, daun pepe, bawang ditambus, sebagai jatonnya bunga kelapa. Semua bahan dihaluskan kemudian dimakankan kepada si sakit.

Bila wajahnya terlihat letih, lesu, dan terasa tebal serta  kelihatan bengkak di muka dan bagian kaki serta  terasa seperti mengantuk, orang yang bersangkutan terkena upas yang bernama Upas Bintaro.obatnya  Kulit kayu juwet putih,  kulit kayu canigra, daun kopi. Semua bahan dipanggang,selanjutnya diseduh dengan air mendidih serta diisi kacang komal 4 biji, lalu diendapkan.

Setelah hangat-hangat kuku ramuan tersebut diminum 2 X sehari pagi dan sore. Sedangkan untuk sarana bedak (boreh) babakan tanggulun, kunyit warangan, gamongan, katumbar, musi, menyan, lungid, ragi, asaban cendana dan jeruk nipis. Upas Kebo Putih cirinya sering keluar air liur dan mengeluarkan nanah pada mulutnya disertai tertidur nyenyak.

Obatnya setiap akar rumput yang tumbuh pada kotoran sapi, bawang ditambus, adas, ketan, gajih, dipakai jatonnya air, dan kotoran orang sakit yang didapat dengan cara mencuri. Semua bahan diberikan pada si sakit. Apabila si-sakit demam berkepanjangan, tidak dapat tidur dan tidak enak makan, dinamakan Upas Segara. Obatnya, berjenis-jenis rempah-rempahan, garam dicampur arang dapur, daun bangle, air jeruk, daun dausa keling, daun kakang yuyu.

Caranya : semua bahan direbus dengan 3 gelas. Biarkan hingga air rebusan itu menjadi 1 gelas. Setelah dingin diminum pada yang sakit 2 X dalam sehari. Ampasnya bisa digunakan sebagai param/boreh.

Boreh merupakan salah satu obat tradisional yang banyak dilakukan oleh orangtua zaman dahulu untuk mengatasi dan mengobati berbagai penyakit. Selain untuk obat rematik, boreh yang terbuat dari bahan tumbuh-tumbuhan berkualitas juga dipercaya dapat menangkal berbagai jenis upas.

Karena boreh berasal dari tumbuhan-tumbuhan berkhasiat tinggi dipercaya dapat merangsang aktivitas urat, sehingga peredaran darah dalam tubuh menjadi lancar. Tetapi, di zaman serba canggih ini, terutama para anak muda jarang yang mau menggunakan boreh untuk kesehatan, karena dinilai cara ini cara kuno dan kotor.

Tidak heran jika muda-mudi zaman sekarang gampang terserang penyakit reumatik padahal jika dilihat dari usia, masih sangat muda dan produktif.

Kategori:Usada

Ritual Unik di Pura Dalem Jambangan

November 24, 2009 Tinggalkan komentar

Ritual yang namanya pecaruan sanak catur dan pabayuhan melik  jarang dilakukan, bahkan tergolong langka. Hanya orang-orang yang pahamlah melakukan upacara ini. Karena belum banyak diketahui. Ritual ini bertujuan memperpanjang umur dan terhindar dari maut, karena orang-orang mamelik disenangi roh-roh halus dan dewa-dewi untuk dijadikan korban.

Reporter : I A Md. Sadnyari

Pura Dalem Jambangan, Mengwi (21/12) lalu dipadati pamedek. Semuanya antusias mengikuti acara pacaruan sanak catur dan pebayuhan melik. “Dibandingkan acara yang digelar sebelumnya, kali ini memang terjadi peningkatan jumlah orang yang mengikuti pacaruan sanak catur dan pebayuhan melik. Ini melebihi perkiraan yang kami targetkan sebelumnya,” ungkap Yande panitia acara.

Peserta pecaruan sanak catur, pebayuhan melik, serta ada pula yang melakukan pawintenan menjadi sutri berasal dari seluruh Bali berjumlah kurang lebih 120 orang.

Pecaruan sanak catur (nyama pat) ini sangat penting dilaksanakan karena nyama pat inilah yang paling berperan dalam pribadi manusia. Jika ini yang tidak seimbang maka akan menimbulkan penderitaan.

Sanak catur erat kaitannya dengan yadnya. Di mana dasar yadnya diambil dari diri manusia sehingga pertemuan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit menunggal dengan Ida Sang Hyang Widhi.

Tujuan pelaksanaannya adalah untuk mendapatkan kerahayuan, serta membuang semua apes (kesusahan). Hendaknya manusia menyadari kehidupannya ini berasal dari yadnya. Demikian nyama pat yang ada dalam diri, diberi posisi sesuai dengan tempatnya, jadi yadnya pada diri sendiri tidak kurang pentingnya.

Tri Hita Karana menjaga hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, serta manusia dengan lingkungan alam. “Yang jarang dilakukan adalah bagaimana menjaga hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Ini sangat perlu menyelaraskan apa yang ada dalam diri. Sebab sebesar apapun upacara yang dilakukan tanpa diri sendiri benar maka tidak akan bisa mencapai tujuan,” ungkap Mangku Gede Sukarta, pemangku Pura Dalem Jambangan, Mengwi.

Setiap manusia yang terlahir ke dunia ini membawa karmanya masing-masing.

Dalam karma tersebut tidak luput dari kesusahan serta apes yang menjadi bagian dari hidupnya. Dalam keadaan susah dan apes semua tidak ada artinya. Inilah perlu dilakukan upacara pacaruan sanak catur. “Dalam lontar Lingga Gumana disebutkan bahwa kalau ada manusia yang tidak sembuh-sembuh diobati maka kembali pelaku tersebut harus memikirkan kejadian-kejadian seperti ini yang disebut sanak catur, pebayuhan melik, pebayuhan oton.

Dengan panangkan paran (penyebab terjadinya sesuatu) kembali para medis memikirkan dirinya sendiri. Sanak catur yang diberikan caru, dinetralisir diberikan caru sesuai dengan kedudukannya.

Menetralisir masing-masing kedudukan empat sanak lima pancer yang ada dalam diri yang tidak jauh bedanya dengan yadnya biasanya. Sesuai purana, Tuhan ada di mana-mana termasuk dalam diri, dengan demikian melakukan upacara pacaruan sanak catur untuk diri otomatis melakukan yadnya pada Beliau.

Sebab bagaimana manusia bisa membuat banten, menghaturkan canang jika manusianya sakit. “Untuk itu upacara ini lebih penting dari karya ngenteg linggih. Mulailah seimbangkan hubungan diri sendiri dengan jiwa barulah bisa menjaga hubungan sekala ke luar,” ungkap Mangku Gede.

Mengenai pelaksanaannya yaitu di Pura Dalem, menurut Mangku Gede Sukarta ini terkait dengan dunia yang penuh keinginan-keinginan. Dalem dalam artian dunia yang tidak ada batasannya.

Sanak catur dan pabayuh melik dipuput Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba, dari Griya Muding Indah, Kerobokan bersifat umum. Orang yang telah madwijati yang muput karena sifat Siwa sebagai pelebur, melebur penyebab kegagalan antara lain lingkungan diri sendiri, lingkungan karang paumahan, dan tata ruang.

Berbeda dengan pabayuhan oton dilakukan masing-masing sesuai dengan kelahirannya. Pemangku boleh, balian boleh, yang sudah maekajati.

Pebayuhan melik perlu dilakukan oleh orang-orang yang memang melik. Melik atau tidaknya seseorang biasanya diketahui setelah matetuun pada balian. Orang yang melik mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang biasa pada umumnya.  Ia disenangi semua golongan  roh-roh halus, baik yang bersifat negatif (bhuta_red) juga dewa-dewi. Tanda-tanda orang mamelik biasanya terlihat dari tubuh orang yang bersangkutan. Dari kelahiran biasanya memang sudah ada tanda-tanda yang dibawa sejak lahir. Misalnya saja dari bentuk lesung pipi yang dimiliki, bentuk gigi taring yang kurang menonjol tidak sewajarnya, pancaran mata, atau rambut gimbal juga bisa menandakan seseorang memelik.

Orang yang melik mudah melihat roh-roh halus.  Hal ini disebabkan adanya benang yang menghubungkan keduanya teramat dekat sehingga terjadi kontak yang sangat cepat jika tiba-tiba ada makhluk lain yang ada di sekitarnya maka ia akan mampu merasakan bahkan melihatnya secara kasat mata. Biasanya ada batasan waktu yang diberikan kepada mereka yang memelik untuk dapat menjalani kehidupan. Diungkapkan,  orang yang memelik akan cepat diambil dari kehidupannya karena menjadi rebutan dari roh-roh halus.

Semakin cepat seseorang mengetahui dirinya memelik maka semakin bagus sehingga akan segera dibuatkan upacara penebusan untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk dari memelik. Jika tidak mendapat banten penebusan maka biasanya orang yang memelik sesuai dengan kelahirannya ada yang diambil pada saat baru bisa berjalan, ketika baru menikah, dan ada juga pada saat baru mempunyai anak.

Dengan pebayuhan melik akan dinetralisir kekurangan yang ada dalam dirinya (menghilangkan apes pengaruh melik). Supaya semua kekuatan bersinergi, agar dapat keseimbangan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit.

“Ini sudah yang kesebelas kalinya kami menyelenggarakan upacara Sanak Catur dan pebayuhan melik. Dilakukan secara massal untuk menekan biaya serta menambah rasa kekeluargaan. Upacara yang termasuk manusa yadnya ini semakin sering dilaksanakan akan semakin bagus,” ungkapnya. Upacara ini tergolong unik karena tidak banyak orang yang mengetahuinya. Untuk kepentingan umat, jika ada yang hendak melaksanakan upacara ini bisa menghubungi pihak Pura Dalem Jambangan di nomor telpon 081338584188, 0361 8000803. 8

Kategori:Uncategorized

Bhisama Ida Bhatara Dalem Tarukan

November 24, 2009 Tinggalkan komentar

Om Awignamastu,

Mudah-mudahan tiada halangan !

Permohonan maaf hamba ke hadapan arwah para leluhur yang disemayamkan dalam wujud Ongkara dan selalu dipuja dengan hati suci. Dengan memuja dan memuji kebesaran Sanghyang Siwa semoga penulis terhindar dari segala kutukan, derita, cemar, duka-nestapa, dan halangan lainnya. Mudah-mudahan tujuan hamba yang suci ini berhasil serta bebas dari dosa-dosa karena menguraikan cerita leluhur di masa lampau, semoga direstui sehingga mendapat kejayaan, keselamatan, keabadian, panjang usia, sampai dengan seluruh keluarga turun temurun.

“wahai kamu sekalian rakyat Tampuwagan, janganlah lagi kamu me-“cokor I Dewa” terhadapku. Kamu boleh menyapaku dengan “I Ratu, Gusti atau Jero”, karena aku akan tetap menyamar agar tidak diketahui keberadaanku di sini sehingga bebas dari pengejaran pasukan kakakku, Dalem Samprangan”.

Yang dimaksud dengan Bisama Ide Bhathara Dalem Tarukan adalah pesan beliau yang bersifat sakral ditujukan kepada semua keturunan beliau menyangkut tentang hak, kewajiban, larangan, dan keharusan dalam penyelenggaraan kehidupan, hal mana bila dilanggar dipercaya akan mendapat kutukan dan akan mendatangkan bencana.

Namun kami mohon maaf sebelumnya, karena ini mengungkap masalah Bhisamanya saja maka berikut berupa penggalan dari babad yang ada. Seperti Bhisama yang menyebutkan bahwa : Ida Dalem bisa dipanggil atau disapa dengan I ratu, Gusti atau Jero, karena sudah dibantu Krama untuk bersembunyi dari kejaran Pasukan Dalem Samprangan.

……….Di suatu tanah persawahan beliau melihat banyak orang sedang menanam padi. Ada seorang petani yang sedang membuang kotoran di sungai, dan bajunya ditinggalkan di tepi sungai. Baju itu lalu diambil oleh Dalem Tarukan, dikenakan, lalu beliau turut serta dengan para petani menanam padi. Seketika datanglah pasukan Dulang Mangap yang mengagetkan para petani.

Kiyai Parembu bertanya, apakah para petani melihat Dalem Tarukan di sekitar situ. Para petani serentak menjawab, tidak melihat siapa-siapa apalagi Dalem Tarukan. Pasukan Dulang Mangap memeriksa sekali lagi dan meneruskan pengejaran ke utara. Beberapa saat kemudian si petani yang selesai membuang kotoran itu bangkit dari sungai, mencari bajunya namun tidak ditemukan.

Dalem Tarukan berdiri sambil membuka penyamarannya. Seketika para petani terkesima karena baru kali itu mereka menatap sosok Dalem Tarukan yang tinggi besar, gagah perkasa, dengan raut wajah yang sangat tampan namun berwibawa. Kulit kehitaman dan rambut berombak yang panjangnya sebatas bahu menambah kewibawaan beliau. Para petani sujud menyembah serta mohon maaf karena tidak mengetahui kehadiran beliau di antara mereka.

Beliau, Dalem Tarukan menjelaskan secara singkat halangan yang menimpa, serta berpesan : “wahai kamu sekalian rakyat Tampuwagan, janganlah lagi kamu me-“cokor I Dewa” terhadapku. Kamu boleh menyapaku dengan “I Ratu, Gusti atau Jero”, karena aku akan tetap menyamar agar tidak diketahui keberadaanku di sini sehingga bebas dari pengejaran pasukan kakakku, Dalem Samprangan”.  Walaupun tidak rela, para petani itu serempak menyembah beliau dan merasa iba dengan nasib malang yang menimpa junjungan mereka itu. Dari Tampuwagan Dalem Tarukan meneruskan perjalanan ke desa lainnya.

Bhisama yang diturunkan Ida Bhatara Dalem Tarukan

  1. Tidak merabas pohon atau memakan buah: Jawa, Jali.
  2. Tidak mengurung, membunuh, atau memakan daging burung Puyuh dan Perkutut.
  3. Tidak memakan beras mentah.
  4. Mayat yang dikubur atau dibakar kepalanya di arah Barat.
  5. Tidak memelihara dan memakan daging Manjangan.
  6. Tidak menerima sebutan/ucapan: “cai” dan “cokor I Dewa”
  7. Boleh menerima sebutan/ucapan: “Jero”, “Ratu”, “Gusti”
  8. Upacara pelebon boleh menggunakan:

*. Sebagaimana layaknya seorang Raja.

*. Pemereman Padma Terawang

*. Pemereman Bade Tumpang Pitu

*. Benusa Tumpang salu dari bambu “ampel” kuning

*. Ulon Jempana

*. Rurub Kajang Pulasari

*. Daun Pisang Kaikik

*. Bale Gumi berundak tujuh

*. Bale Silunglung

*. Damar kurung

*. Upacara ngaskara lengkap

9.Tidak membuang atau menyia-nyiakan makanan, minuman, dan uang.

Setelah minggu lalu Ida Bhatara Dalem Tarukan mengeluarkan Bisama yang harus ditaati sepanjang masa oleh seluruh Pratisentana dari Pulasari yakni tetang “Tidak menerima sebutan/ucapan: “cai” dan “cokor I Dewa”. Kali ini akan diceritakan bagaimana sebenarnya akhlikhwal bahwasannya pantang bagi keturunan Pulasari untuk menggunakan busana sesuai dengan tata-cara sebagai seorang Raja beserta dengan segala upacaranya, paling kecil menggunakan pemereman.

Dalam Babad yang kami rangkum menyebutkan, : Kembali diceritakan keadaan beliau, Ide Bethara Dalem Tarukan di desa Pulasari. Tidak ada lagi pasukan yang mengejar-ngejar beliau, sehingga kehidupan beliau aman tentram. Beliau meningkatkan ilmu kepanditaan, sampai akhirnya mampu menjadi nabe bagi para dukuh yang setia mengikuti beliau, yaitu: Dukuh Bunga, Dukuh Pantunan, Dukuh Jatituhu, Dukuh Darmaji, Ki Pasek Bunga, Ki Pasek Daya, Ki Pasek Jatituhu, Ki Pasek Pemuteran, Ki Pasek Ban, Ki Pasek Penek, dan Ki Pasek Sikawan.

Kepada para putranya beliau memberikan bisama sebagai berikut: “Putra-putraku, dengarkanlah bisama yang aku berikan kepadamu dan segenap keturunanmu kelak di kemudian hari: Jika kamu meninggal dunia dan diupacarai ngaben (pelebon), dibenarkan kalian menggunakan busana sesuai dengan tata-cara sebagai seorang Raja beserta dengan segala upacaranya, paling kecil menggunakan pemereman berupa padma terawang, atau bade bertumpang tujuh, menggunakan banusa dengan galar dari bambu kuning, tumpang salu dari bambu kuning, ma-ulon, ma-jempana, kajang Pulasari, daun pisang kaikik, bale gumi berundak tujuh, bale silunglung, damar kurung, serta upacara ngaskara selengkapnya.

Selain itu janganlah menerima panggilan “cai”, tetapi terimalah panggilan : Jero, Gusti dan Ratu. Bisama ini aku berikan kepadamu karena kamu adalah keturunanku, keturunan Dalem” Pemberian bisama itu disaksikan oleh para Dukuh dan para Pasek yang disebutkan di atas. Mereka menyatakan akan selalu mentaati dan menjaga terlaksananya bisama itu. Tiada berapa lama setelah memberikan bisama, Ide Bethara Dalem Tarukan sakit selama tiga bulan lalu meninggal dunia pada hari Kamis Kliwon, wara Ukir, panglong ping pitu, sasih kedasa, isaka 1321 atau bila dengan kalender Masehi, pada hari Kamis, bulan April tahun 1399 M. Jika diperkirakan beliau lahir pada tahun 1352 M (dua tahun setelah ayahanda : Dalem Sri Kresna Kepakisan menjadi Raja Samprangan) maka Ide Bethara Dalem Tarukan meninggal dunia pada usia 47 tahun.
Upacara pelebon Ide Bethara Dalem Tarukan dilaksanakan di setra Tampuwagan pada hari Sabtu, Pahing, wuku Warigadean, panglong ping pitu, sasih Jiyesta, rah tunggal, tenggek kalih, isaka 1321, atau bila dengan kalender Masehi, pada hari Sabtu, bulan Juni tahun 1399 M. Manggala dan pemuput karya upacara pelebon adalah : Dukuh Bunga, Dukuh Pantunan, Dukuh Jatituhu, Kiyai Poh Tegeh, Ki Pasek Pemuteran, Ki Pasek Penek, Ki Pasek Temangkung, Ki Pasek Ban, Ki Pasek Sikawan, Ki Pasek Bunga, Ki

Pasek Jatituhu, dan I Gusti Ngurah Kubakal.

Tata laksana pelebon sebagai Raja, yaitu: pemereman bade tumpang pitu, petulangan lembu nandaka ireng ditempatkan dengan kepala di arah Barat, tirta pemuput dari Besakih, sulut pembakaran memakai keloping nyuh gading, kayu bakar memakai kayu cendana. Setelah itu abu tulang dihanyutkan di sungai Congkang. Sebulan kemudian diadakan upacara meligia di mana abu “sekah” dipendem di cungkup sebuah Pura yang dibangun sebagai Pedarman Ide Bethara Dalem Tarukan. Berhubung sudah disucikan sebagai Bethara Raja Dewata, maka sejak saat meligia itu beliau amari aran (berganti gelar) menjadi : Ide Bethara Dalem Tampuwagan Mutering Jagat.
Selama berlangsungnya upacara pelebon dan meligia, tiada henti-hentinya seluruh rakyat pegunungan mulai dari perbatasan barat: Bondalem (Buleleng), perbatasan timur: Tianyar (Karangasem), perbatasan selatan: Pantunan (Bangli) menghaturkan uang kepeng bolong dan bahan-bahan “lebeng-matah” sebagai tanda bakti, setia, hormat, dan duka cita karena ditinggalkan junjungan mereka. Aturan berupa makanan langsung disantap oleh para putra, para Ibu, keluarga, serta semua yang hadir. Karena terlalu banyak sampai tidak habis dimakan, dibiarkan membusuk sehingga menimbulkan bau tidak sedap.
Setelah semua rangkaian upacara selesai, bau busuk dari sisa-sia makanan, beras, uang kepeng bolong dan lain-lain makin menjadi-jadi, tidak tahan menciumnya. Para putra lalu memerintahkan rakyatnya membuang ke sungai, sampai air sungai itu berubah seperti bubur. Uang kepeng bolong yang dihanyutkan menyangkut menutupi sumber mata air sungai. Rakyat yang tinggal di hilir terheran-heran melihat air sungai berubah seperti bubur; banyak yang mengambil nasi, tumpeng, beras itu untuk diberi makan anjing atau babi.
Lalu Bagaimana sebenarnya pelaksanaan ngaben ini dan juga menyebut cai pada keturunan Pulasari ? Menurut seorang warga dari Pulasari yang kebetulan bernama Ari Pulasari menyebutkan bahwasannya hal ini di jaman sekarang ini sudah lumrah. Namun dirinya juga sangat menghormati hal tersebut. Namun juga namanya kehidupan di masyarakat sudah barang tentu menjadi hal biasa apalagi itu di daerah pedesaan.

Sebelumnya disebutkan masalah pengabenan, kini Ida Bhatara Dalem Tarukan menurunkan Bhisama yang mengharuskan atau melarang warga keturunan untuk tidak memakan beras mentah. Bagaimana penggalan kisah ini?

Disebutkan, pemikiran Dalem Ketut itu nampaknya terbaca oleh Kiyai Kebon Tubuh. Segera ia menawarkan agar Dalem Ketut memerintah dari Gelgel, bukan dari Samprangan. Dengan kata lain Kerajaan seolah-olah sudah dipindahkan ke Gelgel. Tawaran ini disetujui Dalem Ketut dan segeralah beliau berangkat ke Gelgel (tahun 1380 M atau 1302 Isaka).

Dalem Ketut Ngulesir membangun istana di Gelgel di kebun kelapa milik Kiyai Kebon Tubuh. Berita ini didengar oleh Dalem Wayan namun tidak bereaksi karena beliau sudah kehilangan gairah hidup.  Sementara itu Dalem Wayan makin parah sakitnya dan akhirnya beliau moksah pada tahun 1383 M atau 1305 Isaka. Setelah Dalem Wayan moksah barulah Dalem Ketut menyelenggarakan upacara penobatan Raja (biseka Ratu) dengan gelar Ide Bethara Dalem Semara Kepakisan.

Kiyai Kebon Tubuh kembali ke Suwecapura dan melaporkan penolakan Dalem Tarukan tersebut. Dalem Ketut kecewa karena maksud baik beliau tidak ditanggapi oleh Dalem Tarukan, namun beliau dapat memahami pemikiran kakak beliau itu. Dalem Tarukan yang menduga bahwa para menteri di Suwecapura dan para pengejar dari Samprangan telah mengetahui tempat persembunyian beliau, lalu memutuskan untuk meninggalkan pedukuhan Bunga. Berangkatlah rombongan keluarga besar itu diiringi oleh Dukuh Darmaji dan beberapa rakyatnya menuju Desa Sekahan, hanya semalam. Kemudian meneruskan perjalanan  ke Sekardadi, Kintamani, Panarajon di sini rombongan beliau dihembus angin topan sehingga sebelas pengiring beliau meninggal dunia. Setelah topan reda, rombongan meneruskan perjalanan ke Besa Balingkang. Merasa aman, di sini beliau tinggal selama tiga bulan; setelah itu rombongan menuju Desa Sukawana.

Segenggam Beras Pembawa Maut

Dalam perjalanan yang melelahkan ini putri beliau yang berusia 4 tahun, Gusti Luh Wanagiri menangis karena lapar. Dalem Tarukan lalu bertanya kepada Dukuh Darmaji apakah membawa makanan. Dukuh menjawab, tidak membawa makanan, hanya beberapa genggam beras. Dalem Tarukan lalu tergesa-gesa memberikan beras itu kepada putrinya, karena tidak sempat lagi memasaknya. Beberapa saat kemudian putrinya sakit perut karena memakan beras mentah dan akhirnya tidak tertolong.

Putri yang dicintainya meninggal dunia. Betapa sedih beliau dan terucaplah kata-kata beliau: “Ya, Tuhan betapa besar cobaan yang kami terima, sangat besarlah penyesalan kami karena seolah-olah memberi jalan kematian putriku. Nah agar hal ini tidak terulang lagi, wahai semua putra dan semua keturunanku, kelak di kemudian hari janganlah sekali-kali kalian memakan beras mentah”

Setelah itu Dalem Tarukan lalu meminta Ki Pasek Sikawan mengubur jenazah putrinya. Karena letak Desa Sukawana di sebelah timur bukit Penulisan, maka agar prabu layon berada di “hulu” dikuburlah jenazah putrinya dengan kepala di arah barat. Di saat ini terucaplah bhisama beliau agar seketurunan beliau bila meninggal atau di-aben agar kepala berada di arah barat, sebagai tanda ingat akan peristiwa menyedihkan ini.

Sejak gugurnya Ide Bethara Siang Kangin, rakyat pegunungan menderita kekalahan terus-menerus dalam peperangan. Untuk mencegah korban yang lebih banyak, maka para pemimpin rakyat pegunungan berunding lalu mengambil keputusan untuk menyelamatkan para putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan.

Cara menyelamatkan para putra disepakati sebagai berikut : Gusti Gede Sekar dan Gusti Gede Pulasari diiringi ibunda beliau Gusti Luh Puwaji beserta empat orang saudaranya ke Puri Gelgel meminta perlindungan Dalem Ketut. Gusti Gede Bandem pergi ke Desa Keling (Karangasem). Gusti Gede Belayu berangkat ke arah Tabanan, menetap di suatu tempat yang kini bernama Desa Belayu. Gusti Gede Balangan menetap di Desa Pantunan atas jaminan keselamatan dari Gusti Agung Pasek Gelgel. Gusti Gede Dangin atas permintaan beliau, tidak mau turut ke Gelgel, lalu berangkat menuju daerah Den Bukit (Buleleng) diiringi rakyat 12 orang, menuju Desa Sudaji. Demikianlah keenam bersaudara itu berpisah menuju tempatnya masing-masing. Sedih dan pilu hati mereka karena harus berpisah dan meninggalkan kampung halaman, namun pasrah menyerahkan nasibnya kepada Ide Sanghyang Widhi Wasa.

Setibanya Gusti Gede Sekar dan Gusti Gede Pulasari di Puri Gelgel, langsung menghadap Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan. Betapa gembiranya Dalem Ketut menerima kemenakan-kemenakan beliau, namun terasa agak kecewa karena tidak semua kemenakannya mau hadir. Tetapi akhirnya beliau maklum setelah mendapat penjelasan dari Gusti Agung Pasek Gelgel,  keputusan untuk menuju tempat masing-masing sudah dipertimbangkan dengan baik. Dalem Ketut kemudian memberikan penugrahan kepada para kemenakannya sebagai berikut:

“Kemenakanku semua, janganlah kalian menyamai (memadai) kedudukanku, karena kalian keturunan Kesatria yang telah diturunkan wangsanya dan kini menjadi Wesia Dalem. Sebab-sebab diturunkan wangsamu karena peristiwa di Puri Tarukan yang melibatkan kakakku Ide Bethara Dalem Tampuwagan. Di kemudian hari bila kalian dan keturunanmu melaksanakan upacara pelebon dibolehkan menggunakan tata-cara seorang Raja karena kalian masih menjadi satu keturunan denganku. Cuntaka hanya tiga malam sebagaimana halnya wangsa Brahmana, Kesatria (para Ratu). Setelah cuntaka habis segeralah mabersih di mata air, selanjutnya ngayab banten pebersihan; setelah itu barulah kembali kesucianmu. Jika kalian berani menyamai kedudukanku, akan kukutuk kalian tiga kali. Hal lain yang harus kalian ingat, janganlah melupakan pura-pura kahyangan jagat di seluruh Bali, serta janganlah menyia-nyiakan para Pendeta/Sulinggih dan orang-orang suci agar jagat Bali selalu trepti. Janganlah kalian melakukan hubungan suami istri di luar pernikahan karena perbuatan itu akan membawa kehancuran sehingga orang-orang Bali tidak lagi bersatu. Peringatan-peringatanku ini berlaku seterusnya sampai ke anak cucu keturunanmu selanjutnya. Bila ada yang melanggar mudah-mudahan menemui bencana dalam hidupnya”

Setelah berlalu beberapa masa, datanglah seorang keturunan Ide Bethara Hyang Genijaya dari Majapahit bernama Sangkul Putih bersama istri dan para putranya. Beliau mendarat di Padang lalu langsung ke Puri Gelgel menghadap Dalem Ketut. Bertepatan saat itu Ide Dalem Ketut sedang memberikan penugrahan kepada para putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan yang kali ini hadir secara lengkap, yaitu: Gusti Gede Sekar, Gusti Gede Pulasari, Gusti Gede Bandem, Gusti Gede Belayu, Gusti Gede Balangan, dan Gusti Gede Dangin, sehingga Sangkul Putih turut mendengarkan wejangan beliau sebagai berikut: “Wahai para kemenakanku semua, kini lanjutkan penugrahan yang telah kuberikan beberapa waktu yang lalu sebagai berikut: Jika kalian memahami tentang kemoksan seharusnya kalian menjadi seorang Sulinggih karena kalian adalah seketurunan denganku, yaitu keturunan Brahmana.

Oleh karena itu pula kalian harus selalu berbakti di Kahyangan Brahmana di Tolangkir (Besakih) jangan melewatkan upacara-upacara di sana sekalipun. Jika kalian melupakan, kukutuk kalian menjadi orang Sudra dan kalian tidak lagi menjadi seketurunan denganku. Demikian juga kalian harus berbakti di Kahyangan Ide Bethara Hyang Genijaya yang ada di Lempuyang dan di Tolangkir sesuai sabda Ide Bethara Brahma. Jika kalian melalaikan peringatanku ini mudah-mudahan hidupmu susah senantiasa kekurangan, kesasar tidak menemukan arah hidup. Kalian adalah keturunan Brahmana, maka bila meninggal dunia, layon harus dibungkus oleh daun muda pisang gedang Kaikik sebab ketika leluhur kita lahir beliau dialasi oleh daun muda pisang gedang Kaikik. Jika tidak demikian kalian dan keturunan kalian bukan warih Dalem.

……….. Jika kalian melupakan, kukutuk kalian menjadi orang Sudra dan kalian tidak lagi menjadi seketurunan denganku. Demikian juga kalian harus berbakti di Kahyangan Ide Bethara Hyang Genijaya yang ada di Lempuyang dan di Tolangkir sesuai sabda Ida Bathara Brahma. Jika kalian melalaikan peringatanku ini mudah-mudahan hidupmu susah senantiasa kekurangan, kesasar tidak menemukan arah hidup. Kalian adalah keturunan Brahmana, maka bila meninggal dunia, layon harus dibungkus oleh daun muda pisang gedang Kaikik sebab ketika leluhur kita lahir beliau dialasi oleh daun muda pisang gedang Kaikik. Jika tidak demikian kalian dan keturunan kalian bukan warih Dalem.

Selanjutnya beliau Dalem Ketut bersabda : “Apa yang aku anugrahkan kepadamu tadi dan selanjutnya ini adalah wahyu dari Ide Bethara Hyang Genijaya yang berstana di Lempuyang. Kalian para kemenakanku, janganlah lupa memuja dan memohon anugerah kepada Ide Bethara di Penataran Agung, Tolangkir, juga kepada I Ratu Pande, I Ratu Gede Penyarikan, serta nuntun para arwah leluhurmu untuk distanakan di tempat keturunanmu. Taatlah melaksanakan kedharmaan, jangan menentang peraturan-peraturan. Diantara keturunan-keturunanmu janganlah satu sama lain tiada mengakui bersaudara, paling tidak mengaku memisan atau memindon. Di mana pun kamu berada tetaplah mengaku bersaudara; jika lupa atau tidak mengakui saudara, mudah-mudahan kamu kehilangan “soda”, yaitu selalu kekurangan makanan dan minuman.

Beberapa waktu kemudian, Ide Dalem Ketut kembali mengumpulkan para kemenakan beliau (putra-putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan) lalu meneruskan penugrahan yang diterima dari para putra-putri Sanghyang Pasupati, yaitu Ide Bethara Mahadewa yang berstana di Tolangkir dan adik beliau Ide Bethari Dewi Danu yang berstana di Danau Batur sebagai berikut: Apabila diantara kalian atau keturunanmu di kemudian hari ada yang mampu Madwijati, diperkenankan pada upacara pelebon menggunakan padma trawang, pisang gedang kaikik, gamet (kapas), kesumba, serta bertingkat 5 (nista), 7 dan 9 (madia), dan 11 (utama).

Mesti Ngeleb Awu

Itu adalah demi kesejahteraanmu. Jika mayat kalian dibakar, cuntake hanya 3 (tiga) malam; jika ditanam 7 (tujuh) malam; Jika mayat kalian dibakar, harus dilakukan upacara ngeleb awu ke segara/sungai disertai upacara ngirim; jika dilalaikan, mudah-mudahan kamu menjadi manusia yang derajatnya paling rendah karena tidak membela kewangsaan serta tidak mengenal kawitan.

Selanjutnya Dalem Ketut bersabda: “Kalian kemenakanku, walaupun kalian telah disurud-wangsakan, namun kalian masih aku anugerahi hak-hak sebagai berikut: seketurunan kalian tidak kena kewajiban-kewajiban/pungutan (pajak), tidak kena pejah pajungan (hukuman mati), tidak kena cecangkriman (pembuangan), tidak kena ambungan (hukuman cambuk), tidak kena sasarandana (pungutan adat), tidak kena pepanjingan (larangan masuk ke suatu wilayah), tidak kena pecatuan (iuran di Pura), tidak kena perintah.

Para penguasa di daerah, yaitu Manca dan Punggawa diberitahu semua penugrahan Ide Bethara Dalem Ketut tersebut untuk ditaati dan diindahkan, ditambah lagi penekanan agar mereka senantiasa menghormati para kemenakan beliau seketurunan. Apabila ada yang berani menentang atau tidak melaksanakan, mudah-mudahan hilang kesaktiannya dan luntur kewibawaannya.

Tirta Yeh Tunggang

Beberapa waktu kemudian Ide Dalem Ketut memberikan tambahan wejangan setelah mendapat wahyu dari Ide Bethara Brahma: “Jika kalian dan keturunanmu meninggal, kalian harus memohon melalui Sangkulputih tirta Yeh-Tunggang dari Gunung Agung sebagai tirta pengentas. Oleh karena itu kawitan serta semua arwah leluhurmu berstana di Gunung Agung (Tolangkir) sehingga kamu wajib berbakti kepada kawitan dan arwah leluhurmu di Pedarmaan Besakih.

Bila ada keturunanmu yang sudah mebersih wenang naik-turun di pelinggih-pelinggih di Tolangkir dalam upacara yadnya. Bila ada keturunanmu yang mampu Madwijati/Madiksa, wenang mengajarkan ilmu, sastra, dan kedharmaan kepada saudara-saudaranya sehingga menjadi orang-orang yang terhormat serta diikuti petunjuk-petunjuknya oleh orang lain. Jika semuanya kalian taati dan laksanakan dengan kokoh dan tekun, mudah-mudahan kalian dapat mencapai moksah.

Selain memberikan penugrahan di bidang agama dan kedharmaan, Ide Dalem Ketut juga memberikan “Mantri sesana”, yaitu tata susila sebagai pejabat yang bertugas dan berkedudukan sebagai berikut : I Gusti Gede Sekar sebagai Manca di Nongan diberikan tanah kebun 15 sikut disertai Ibunda beliau Ni Gusti Luh Puaji. I Gusti Gede Pulasari kembali ke Pulasari sebagai Dukuh menguasai pedukuhan Pulasari (Bunga), Tampuwagan, Peninjoan, Karang-suwung, dan Manikaji. I Gusti Gede Bandem diberi kedudukan sebagai Manca di Nagasari, meliputi: Tihingan, Kayuputih, Uma-anyar, dan Bangkang. I Gusti Gede Belayu diangkat sebagai Manca di Ogang, meliputi: Semseman, Mijil, Sanggem, Sangkan Gunung, Pakel, dan Sangkungan. I Gusti Gede Balangan tetap tinggal di istana Gelgel. I Gusti Gede Dangin kembali ke Sudaji.

Kecuali I Gusti Gede Dangin, semua putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan diberikan pamancanggah yang memuat penugrahan tersebut di atas ditambah dengan gambar rerajahan rurub kajang dan rerajahan daun pisang Kaikik selengkapnya. Pamancanggah itu disahkan dan diumumkan oleh Ide Dalem Ketut pada Hari Kamis, Umanis, wuku Ukir, panglong ping 13 (telulas) sasih Kapat, Isaka 1339 (1417 M). Pamancanggah itu diupacarai/dipasupati sebagaimana mestinya. Sesampainya di tempat kedudukan masing-masing, para putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan menempatkannya di pelinggih pemerajan dan dipuja oleh seketurunan beliau-beliau. Bila ada yang mengabaikan kewajiban memuja dan mentaati pamancanggah itu mudah-mudahan dikutuk oleh Ide Bethara Kawitan.

Kategori:Bhisama

Ida Pedanda Istri Raka Kelaci

November 24, 2009 Tinggalkan komentar
  • Nama Walaka         : Ida Ayu Kade Sindhu
  • Tempat tgl. lahir     : Griya Sangging Wanasari, Tabanan, 28 Agustus 1938
  • Alamat Griya          : Griya Braban, Denpasar.
  • Riwayat Pendidikan : SPG TK tahun 1974
  • Riwayat Pendidikan : Guru TK di TK Negeri, Singaraja, Kanwil P&K.
  • Suami                      : Ida Pedanda Raka Gede Kelaci (alm)
  • Nama walaka          : Drs. Ida Bagus Raka
  • Riwayat Pekerjaan   : Kepala Bidang Kesenian
  • Didiksa                    : Wrespati Pn Landep, 21 Maret 1991
  • Nabe                        : Ida Pedanda Gede Putra Timbul
  • Alamat Nabe           : Griya Puseh Timbul, Intaran, Sanur.
Kategori:Sulinggih

Batu Terbang, Gemparkan Karangasem

November 24, 2009 Tinggalkan komentar

Batu besar yang terbang dari atas bukit di Karangasem ini ternyata palinggihan Ida Bhatara Lingsir Pancering Jagat Manik Angkeran, yang malinggih di Gunung Agung. Batu ini sempat berubah warna dan wangsuhannya bisa dipergunakan sebagai tamba. Aneh dan Ajaib kejadian ini. Berikut ulasannya. 

Gempar, itulah yang terjadi tatkala sebuah kejadian aneh terjadi di Bumi Bali yang terkenal dengan ketengetannya ini. Jelas saja, hal-hal yang aneh ini terkadang memang tidak masuk akal. Hal serupa juga terjadi beberapa waktu lalu di Desa Padang Tunggal, Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem. Krama setempat digemparkan dengan adanya batu sebesar mobil carry pic up di dapur seorang krama setempat.

Menemui lokasi desa di mana ada kejadian batu makeber tidaklah begitu sulit. Jika dari Denpasar langsung menuju ke Klungkung, di timur jembatan Tukad Unda ada pertigaan ke Kanan menuju Padangbai sedangkan yang ke kiri menuju Sidemen, Karangasem. Nah jalan ke kiri tersebutlah dilalui, kira-kira sekitar 25 Km ada sebuah pertigaan ke kiri menuju lokasi.

Saat itu sekitar jam setengah 7 (tujuh) malam 12 Desember 2008 lalu keluarga sebuah rumah yang dihuni 3 KK digemparkan dengan masuknya sebuah batu besar ke dalam dapur. Demikian Wayan Konten (70) mengawali ceritanya kepada Bali Aga. Sesampainya kami di lokasi kejadian, mendadak krama berdatangan, berhamburan dari rumahnya menuju lokasi batu terbang. Mereka dengan polosnya menceritakan kejadian yang sebenarnya. Wayan Konten sendiri tidak tahu dengan jelas kejadiannya, karena ini peristiwa yang sangat langka dan aneh.

“Kalau saja secara alami batu ini jatuh dari atas bukit semestinya dapur tiang sudah hancur dan bahkan rumah warga lainnya di timurnya juga ikut hancur,” ujarnya. Benar memang, dilihat dari begitu besarnya batu ini tidak mungkin bisa jatuh tanpa merusak tanaman di sekitarnya dan bahkan yang rusak hanyalah tembok dapur itu saja. Begitu juga bolong tembok tersebut hanyalah sebesar batu yang masuk dapur itu.

Konten menyebutkan, tempat di mana batu berada, dulunya adalah tempat makanan seperti telur, besar, minyak dan yang lainnya. Namun aneh, makanan-makanan ini tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Telur dan beras pun berpindah tempat agak ke timur sedikit.

Sementara di sebelah barat dapur (yang langsung berhadapan dengan tebing bukit yang tingginya sekitar 500 meter_red), juga tidak lesag akibat gelindingan batu besar ini. Uniknya batu tersebut tidak mengganggu kandang babi yang juga ada di sebelah barat dapur ini.

Menurut istri Konten, dirinya tidak mengalami firasat apa-apa sebelum kejadian ini. Sebelumnya hanya terdengar suara angin kencang yang datang dari atas bukit, hal ini juga didengar oleh krama setempat (rumah krama ngomplek-red). Demikian juga  ada yang melihat dari selatan seberkas cahaya merah terbang turun dari atas bukit ini. Cahaya tersebut datang bersamaan dengan terbangnya batu dan gemuruh suara angin dari atas bukit. Kenapa dikatakan terbang? Karena jelas tidak terdengar gelindingan batu besar itu yang memungkinkan membuat getaran di tanah. Dan juga batu tersebut ada di dapur juga tidak merusak dapur. Yang mana lazimnya jika batu berukuran 2×2 meter ini jatuh apalagi dari atas bukit tentunya akan membuat kerusakan yang besar.

Kelihan Adat setempat, Wayan Wartama yang juga pemilik rumah meyebutkan hal yang sama. Mengenai tindak lanjutnya sudah dilaksanakan oleh keluarganya sendiri. Di mana sudah dilaksanakan kegiatan nunasang kepada Jro Tapakan bahkan tidak satu Jro Tapakan saja. Selain tapakan dari Desa setempat juga nunasang ke daerah lain (kawasan Selat). Dari pawisik yang didapatkan dengan jelas disebutkan bahwasannya batu tersebut merupakan palinggihan Ida Bhatara Lingsir Pancering Jagat Manik Angkeran, yang malinggih di Gunung Agung.

Dari hasil pawisik disebutkan Ida Bhatara meminta agar pemilik rumah dan krama setempat ikhlas dengan hal ini. Selain itu juga berkeinginan untuk tinggal di tempat tersebut, dengan membuatkan palinggih di Ratu Dalem. Semenjak nunasang juga sudah dibuatkan banten wong-wongan. Selain itu juga batu besar ini sudah dibalut dengan kain poleng dan kain merah.

Batu Berubah Warna

Wangsuhannya untuk Tamba

Setiap hari banyak krama yang datang, selain ada yang hanya untuk melihat saja, juga ada yang sengaja datang untuk memohon berkah. Selain krama dari Selat dan sekitarnya ada juga yang datang dari Denpasar, dan bahkan ada juga yang datang dari Buleleng. Menurut Sri Keneh, yang juga tinggal di rumah ini menyebutkan orang yang datang ini sengaja datang untuk nunasang tamba karena sejak lama dia inginkan keturunan. Dia datang tanpa ada yang memberi tahu hanya berdasarkan pawisik yang diterimanya lewat mimpi saja.

Sedangkan dari pamuwus sendiri memang benar disebutkan jika ada orang yang minta tamba atau apa saja, agar memakai air wangsuhan dari batu keramat ini. Selain itu juga sangat berguna untuk menyembuhkan binatang piaraan yang mengalami sakit. Disebutkan juga, sebelumnya batu keramat ini berwarna hitam. Namun setelah nusas bawos, ternyata sudah berubah warna menjadi keputih-putihan.

Ida Bhatara juga meminta agar piodalannya  dilaksanakan pada Buda Wage Kelau. Entah kenapa, warga setempat juga tidak mengerti. Namun yang jelas sesuai kesepakatan krama, juga akan dibuatkan palinggih khusus.

Untuk diketahui, batu ini sebenarnya dulunya ada di atas bukit dan sebagian tertanam dan tempatnya pun tidak dipinggir, malahan ada di tepat di tengah bukit yang cukup landai. Selain itu juga setiap rerahinan pemilik lahan sering menghaturkan banten. Di sebelah barat bukit ada Pura Dalem Setempat. 8

Reporter : Budikrista

Foto : budikrista

Kategori:Tenget
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.