Arsip

Archive for November 24, 2009

Kunjungi Kami Segera

November 24, 2009 Tinggalkan komentar

Baca artikelnya beli tabloinya
cuma : Rp 10.000

Kategori:Uncategorized

Ada Minimalis Bali di Karibia

November 24, 2009 Tinggalkan komentar

Arsitektur Bali ada di Karibia. Benarkah, bagi penjelajah dunia maya tentunya tidak kaget. Di mana di sini ada sebuah pulau yang dikosep dengan gaya arsitektur Bali. Ingin liburan ke sana ? Booking sekarang dapatnya 10 tahun lagi…..hahaha bisa gila kalee nunggunya

Karibia, Negara satu ini adalah bagian dari Eropa. Ada sesuatu yang unik di tempat ini. Bisa dibilang mirip Bali. Satu lagi kiprah orang Bali di luar negeri yang membuat bangga sebagai orang Bali. Adalah tayangan di Travel Channel yang berjudul Owned Islands, sebuah acara TV yang berisi listing pulau-pulau terkenal yang dimiliki secara pribadi di seluruh belahan dunia termasuk Karibia yang ternyata mendominasi kepimilikan pulau-pulau pribadi.

Kenapa Karibia? Selain faktor keindahan pantai dan mudahnya birokrasi pembelian pulau, faktor pentingnya adalah karena jaraknya yang dekat pusat kapitalis Amerika.

Salah satu pulau yang masuk dalam daftar tersebut adalah Necker Island yang  terletak di British Virgin Island. Luas pulau tersebut hanyalah 74 are dengan sebuah resort pribadi yang berdiri di atasnya. Pemilik pulau pribadi tersebut adalah Sir Richard Branson, yang punya Virgin Airlines dan juga raksasa industri Virgin Music di US sana.

Yang cukup mengesankan adalah resort pribadi tersebut bergaya 80% nuansa Bali yang tentu saja diarsiteki orang Bali. Sayang dalam narasinya tidak disebutkan nama, hanya disebut Balinese architect. Memang dalam tayangan itu jelas sekali terlihat gaya Balinya baik dari segi bentuk bangunan, atap maupun dari segi landscaping, plus tentunya patung-patung batu yang banyak dijumpai di daerah Gianyar. Bahan-bahan pun langsung didatangkan dari Bali.

Mau liburan ke sana? Harganya ‘hanya’ $56.000 sehari (akomodasi tok, excluding makan dll). Bookingnya yang susah. Pulau tersebut sudah fully booked untuk 10 tahun ke depan. Jadi kalau mau liburan ke sana tahun 2019, harus booking dari sekarang. Saya hanya wonder, dengan level seperti itu, kira-kira bagaimana bayaran arsitek dari Bali itu?

Kategori:unik

Menangkal Upas dengan Obat Tradisional

November 24, 2009 Tinggalkan komentar


Bayak penyakit yang tidak bisa ditangani dengann cara medis. Berbagai upaya telah ditempuh seperti cek darah, urine dan lain-lain termasuk melakukan rotgen, ternyata penyakit si-pasien tak nampak sama sekali.

Upas merupakan jenis penyakit yang dominan menyerang kekebalan tubuh, dengan tanda-tanda lemas, letih, lesu, mual dan pusing dan akhirnya orang yang bersangkutan muntah darah karena yang diserang adalah pencernaan.lewat pencernaan upas akan menyebar ke seluruh tubuh melalui darah menuju otak dan saraf.

Bagi orang Bali bila terkena upas (racun) kecil kemungkinan bisa disemmbuhkan walaupun telah mendapat perawatan di rumah sakit/dokter. Orang Bali biasanya memiliki cara tersendiri untuk menembuhkan penyakit jenis satu ini. Apabila sakit berupa letih di tangan dan kaki, ngantuk serta panas pada dada.

Tetapi walaupun ngantuk si sakit tidak bisa tidur nyenyak, karena disertai batuk-batuk. Upas sejenis ini dinamakan Upas Dok. Obatnya : akar glagah, daun pepe, bawang ditambus, sebagai jatonnya bunga kelapa. Semua bahan dihaluskan kemudian dimakankan kepada si sakit.

Bila wajahnya terlihat letih, lesu, dan terasa tebal serta  kelihatan bengkak di muka dan bagian kaki serta  terasa seperti mengantuk, orang yang bersangkutan terkena upas yang bernama Upas Bintaro.obatnya  Kulit kayu juwet putih,  kulit kayu canigra, daun kopi. Semua bahan dipanggang,selanjutnya diseduh dengan air mendidih serta diisi kacang komal 4 biji, lalu diendapkan.

Setelah hangat-hangat kuku ramuan tersebut diminum 2 X sehari pagi dan sore. Sedangkan untuk sarana bedak (boreh) babakan tanggulun, kunyit warangan, gamongan, katumbar, musi, menyan, lungid, ragi, asaban cendana dan jeruk nipis. Upas Kebo Putih cirinya sering keluar air liur dan mengeluarkan nanah pada mulutnya disertai tertidur nyenyak.

Obatnya setiap akar rumput yang tumbuh pada kotoran sapi, bawang ditambus, adas, ketan, gajih, dipakai jatonnya air, dan kotoran orang sakit yang didapat dengan cara mencuri. Semua bahan diberikan pada si sakit. Apabila si-sakit demam berkepanjangan, tidak dapat tidur dan tidak enak makan, dinamakan Upas Segara. Obatnya, berjenis-jenis rempah-rempahan, garam dicampur arang dapur, daun bangle, air jeruk, daun dausa keling, daun kakang yuyu.

Caranya : semua bahan direbus dengan 3 gelas. Biarkan hingga air rebusan itu menjadi 1 gelas. Setelah dingin diminum pada yang sakit 2 X dalam sehari. Ampasnya bisa digunakan sebagai param/boreh.

Boreh merupakan salah satu obat tradisional yang banyak dilakukan oleh orangtua zaman dahulu untuk mengatasi dan mengobati berbagai penyakit. Selain untuk obat rematik, boreh yang terbuat dari bahan tumbuh-tumbuhan berkualitas juga dipercaya dapat menangkal berbagai jenis upas.

Karena boreh berasal dari tumbuhan-tumbuhan berkhasiat tinggi dipercaya dapat merangsang aktivitas urat, sehingga peredaran darah dalam tubuh menjadi lancar. Tetapi, di zaman serba canggih ini, terutama para anak muda jarang yang mau menggunakan boreh untuk kesehatan, karena dinilai cara ini cara kuno dan kotor.

Tidak heran jika muda-mudi zaman sekarang gampang terserang penyakit reumatik padahal jika dilihat dari usia, masih sangat muda dan produktif.

Kategori:Usada

Ritual Unik di Pura Dalem Jambangan

November 24, 2009 Tinggalkan komentar

Ritual yang namanya pecaruan sanak catur dan pabayuhan melik  jarang dilakukan, bahkan tergolong langka. Hanya orang-orang yang pahamlah melakukan upacara ini. Karena belum banyak diketahui. Ritual ini bertujuan memperpanjang umur dan terhindar dari maut, karena orang-orang mamelik disenangi roh-roh halus dan dewa-dewi untuk dijadikan korban.

Reporter : I A Md. Sadnyari

Pura Dalem Jambangan, Mengwi (21/12) lalu dipadati pamedek. Semuanya antusias mengikuti acara pacaruan sanak catur dan pebayuhan melik. “Dibandingkan acara yang digelar sebelumnya, kali ini memang terjadi peningkatan jumlah orang yang mengikuti pacaruan sanak catur dan pebayuhan melik. Ini melebihi perkiraan yang kami targetkan sebelumnya,” ungkap Yande panitia acara.

Peserta pecaruan sanak catur, pebayuhan melik, serta ada pula yang melakukan pawintenan menjadi sutri berasal dari seluruh Bali berjumlah kurang lebih 120 orang.

Pecaruan sanak catur (nyama pat) ini sangat penting dilaksanakan karena nyama pat inilah yang paling berperan dalam pribadi manusia. Jika ini yang tidak seimbang maka akan menimbulkan penderitaan.

Sanak catur erat kaitannya dengan yadnya. Di mana dasar yadnya diambil dari diri manusia sehingga pertemuan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit menunggal dengan Ida Sang Hyang Widhi.

Tujuan pelaksanaannya adalah untuk mendapatkan kerahayuan, serta membuang semua apes (kesusahan). Hendaknya manusia menyadari kehidupannya ini berasal dari yadnya. Demikian nyama pat yang ada dalam diri, diberi posisi sesuai dengan tempatnya, jadi yadnya pada diri sendiri tidak kurang pentingnya.

Tri Hita Karana menjaga hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, serta manusia dengan lingkungan alam. “Yang jarang dilakukan adalah bagaimana menjaga hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Ini sangat perlu menyelaraskan apa yang ada dalam diri. Sebab sebesar apapun upacara yang dilakukan tanpa diri sendiri benar maka tidak akan bisa mencapai tujuan,” ungkap Mangku Gede Sukarta, pemangku Pura Dalem Jambangan, Mengwi.

Setiap manusia yang terlahir ke dunia ini membawa karmanya masing-masing.

Dalam karma tersebut tidak luput dari kesusahan serta apes yang menjadi bagian dari hidupnya. Dalam keadaan susah dan apes semua tidak ada artinya. Inilah perlu dilakukan upacara pacaruan sanak catur. “Dalam lontar Lingga Gumana disebutkan bahwa kalau ada manusia yang tidak sembuh-sembuh diobati maka kembali pelaku tersebut harus memikirkan kejadian-kejadian seperti ini yang disebut sanak catur, pebayuhan melik, pebayuhan oton.

Dengan panangkan paran (penyebab terjadinya sesuatu) kembali para medis memikirkan dirinya sendiri. Sanak catur yang diberikan caru, dinetralisir diberikan caru sesuai dengan kedudukannya.

Menetralisir masing-masing kedudukan empat sanak lima pancer yang ada dalam diri yang tidak jauh bedanya dengan yadnya biasanya. Sesuai purana, Tuhan ada di mana-mana termasuk dalam diri, dengan demikian melakukan upacara pacaruan sanak catur untuk diri otomatis melakukan yadnya pada Beliau.

Sebab bagaimana manusia bisa membuat banten, menghaturkan canang jika manusianya sakit. “Untuk itu upacara ini lebih penting dari karya ngenteg linggih. Mulailah seimbangkan hubungan diri sendiri dengan jiwa barulah bisa menjaga hubungan sekala ke luar,” ungkap Mangku Gede.

Mengenai pelaksanaannya yaitu di Pura Dalem, menurut Mangku Gede Sukarta ini terkait dengan dunia yang penuh keinginan-keinginan. Dalem dalam artian dunia yang tidak ada batasannya.

Sanak catur dan pabayuh melik dipuput Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba, dari Griya Muding Indah, Kerobokan bersifat umum. Orang yang telah madwijati yang muput karena sifat Siwa sebagai pelebur, melebur penyebab kegagalan antara lain lingkungan diri sendiri, lingkungan karang paumahan, dan tata ruang.

Berbeda dengan pabayuhan oton dilakukan masing-masing sesuai dengan kelahirannya. Pemangku boleh, balian boleh, yang sudah maekajati.

Pebayuhan melik perlu dilakukan oleh orang-orang yang memang melik. Melik atau tidaknya seseorang biasanya diketahui setelah matetuun pada balian. Orang yang melik mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang biasa pada umumnya.  Ia disenangi semua golongan  roh-roh halus, baik yang bersifat negatif (bhuta_red) juga dewa-dewi. Tanda-tanda orang mamelik biasanya terlihat dari tubuh orang yang bersangkutan. Dari kelahiran biasanya memang sudah ada tanda-tanda yang dibawa sejak lahir. Misalnya saja dari bentuk lesung pipi yang dimiliki, bentuk gigi taring yang kurang menonjol tidak sewajarnya, pancaran mata, atau rambut gimbal juga bisa menandakan seseorang memelik.

Orang yang melik mudah melihat roh-roh halus.  Hal ini disebabkan adanya benang yang menghubungkan keduanya teramat dekat sehingga terjadi kontak yang sangat cepat jika tiba-tiba ada makhluk lain yang ada di sekitarnya maka ia akan mampu merasakan bahkan melihatnya secara kasat mata. Biasanya ada batasan waktu yang diberikan kepada mereka yang memelik untuk dapat menjalani kehidupan. Diungkapkan,  orang yang memelik akan cepat diambil dari kehidupannya karena menjadi rebutan dari roh-roh halus.

Semakin cepat seseorang mengetahui dirinya memelik maka semakin bagus sehingga akan segera dibuatkan upacara penebusan untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk dari memelik. Jika tidak mendapat banten penebusan maka biasanya orang yang memelik sesuai dengan kelahirannya ada yang diambil pada saat baru bisa berjalan, ketika baru menikah, dan ada juga pada saat baru mempunyai anak.

Dengan pebayuhan melik akan dinetralisir kekurangan yang ada dalam dirinya (menghilangkan apes pengaruh melik). Supaya semua kekuatan bersinergi, agar dapat keseimbangan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit.

“Ini sudah yang kesebelas kalinya kami menyelenggarakan upacara Sanak Catur dan pebayuhan melik. Dilakukan secara massal untuk menekan biaya serta menambah rasa kekeluargaan. Upacara yang termasuk manusa yadnya ini semakin sering dilaksanakan akan semakin bagus,” ungkapnya. Upacara ini tergolong unik karena tidak banyak orang yang mengetahuinya. Untuk kepentingan umat, jika ada yang hendak melaksanakan upacara ini bisa menghubungi pihak Pura Dalem Jambangan di nomor telpon 081338584188, 0361 8000803. 8

Kategori:Uncategorized

Bhisama Ida Bhatara Dalem Tarukan

November 24, 2009 Tinggalkan komentar

Om Awignamastu,

Mudah-mudahan tiada halangan !

Permohonan maaf hamba ke hadapan arwah para leluhur yang disemayamkan dalam wujud Ongkara dan selalu dipuja dengan hati suci. Dengan memuja dan memuji kebesaran Sanghyang Siwa semoga penulis terhindar dari segala kutukan, derita, cemar, duka-nestapa, dan halangan lainnya. Mudah-mudahan tujuan hamba yang suci ini berhasil serta bebas dari dosa-dosa karena menguraikan cerita leluhur di masa lampau, semoga direstui sehingga mendapat kejayaan, keselamatan, keabadian, panjang usia, sampai dengan seluruh keluarga turun temurun.

“wahai kamu sekalian rakyat Tampuwagan, janganlah lagi kamu me-”cokor I Dewa” terhadapku. Kamu boleh menyapaku dengan “I Ratu, Gusti atau Jero”, karena aku akan tetap menyamar agar tidak diketahui keberadaanku di sini sehingga bebas dari pengejaran pasukan kakakku, Dalem Samprangan”.

Yang dimaksud dengan Bisama Ide Bhathara Dalem Tarukan adalah pesan beliau yang bersifat sakral ditujukan kepada semua keturunan beliau menyangkut tentang hak, kewajiban, larangan, dan keharusan dalam penyelenggaraan kehidupan, hal mana bila dilanggar dipercaya akan mendapat kutukan dan akan mendatangkan bencana.

Namun kami mohon maaf sebelumnya, karena ini mengungkap masalah Bhisamanya saja maka berikut berupa penggalan dari babad yang ada. Seperti Bhisama yang menyebutkan bahwa : Ida Dalem bisa dipanggil atau disapa dengan I ratu, Gusti atau Jero, karena sudah dibantu Krama untuk bersembunyi dari kejaran Pasukan Dalem Samprangan.

……….Di suatu tanah persawahan beliau melihat banyak orang sedang menanam padi. Ada seorang petani yang sedang membuang kotoran di sungai, dan bajunya ditinggalkan di tepi sungai. Baju itu lalu diambil oleh Dalem Tarukan, dikenakan, lalu beliau turut serta dengan para petani menanam padi. Seketika datanglah pasukan Dulang Mangap yang mengagetkan para petani.

Kiyai Parembu bertanya, apakah para petani melihat Dalem Tarukan di sekitar situ. Para petani serentak menjawab, tidak melihat siapa-siapa apalagi Dalem Tarukan. Pasukan Dulang Mangap memeriksa sekali lagi dan meneruskan pengejaran ke utara. Beberapa saat kemudian si petani yang selesai membuang kotoran itu bangkit dari sungai, mencari bajunya namun tidak ditemukan.

Dalem Tarukan berdiri sambil membuka penyamarannya. Seketika para petani terkesima karena baru kali itu mereka menatap sosok Dalem Tarukan yang tinggi besar, gagah perkasa, dengan raut wajah yang sangat tampan namun berwibawa. Kulit kehitaman dan rambut berombak yang panjangnya sebatas bahu menambah kewibawaan beliau. Para petani sujud menyembah serta mohon maaf karena tidak mengetahui kehadiran beliau di antara mereka.

Beliau, Dalem Tarukan menjelaskan secara singkat halangan yang menimpa, serta berpesan : “wahai kamu sekalian rakyat Tampuwagan, janganlah lagi kamu me-”cokor I Dewa” terhadapku. Kamu boleh menyapaku dengan “I Ratu, Gusti atau Jero”, karena aku akan tetap menyamar agar tidak diketahui keberadaanku di sini sehingga bebas dari pengejaran pasukan kakakku, Dalem Samprangan”.  Walaupun tidak rela, para petani itu serempak menyembah beliau dan merasa iba dengan nasib malang yang menimpa junjungan mereka itu. Dari Tampuwagan Dalem Tarukan meneruskan perjalanan ke desa lainnya.

Bhisama yang diturunkan Ida Bhatara Dalem Tarukan

  1. Tidak merabas pohon atau memakan buah: Jawa, Jali.
  2. Tidak mengurung, membunuh, atau memakan daging burung Puyuh dan Perkutut.
  3. Tidak memakan beras mentah.
  4. Mayat yang dikubur atau dibakar kepalanya di arah Barat.
  5. Tidak memelihara dan memakan daging Manjangan.
  6. Tidak menerima sebutan/ucapan: “cai” dan “cokor I Dewa”
  7. Boleh menerima sebutan/ucapan: “Jero”, “Ratu”, “Gusti”
  8. Upacara pelebon boleh menggunakan:

*. Sebagaimana layaknya seorang Raja.

*. Pemereman Padma Terawang

*. Pemereman Bade Tumpang Pitu

*. Benusa Tumpang salu dari bambu “ampel” kuning

*. Ulon Jempana

*. Rurub Kajang Pulasari

*. Daun Pisang Kaikik

*. Bale Gumi berundak tujuh

*. Bale Silunglung

*. Damar kurung

*. Upacara ngaskara lengkap

9.Tidak membuang atau menyia-nyiakan makanan, minuman, dan uang.

Setelah minggu lalu Ida Bhatara Dalem Tarukan mengeluarkan Bisama yang harus ditaati sepanjang masa oleh seluruh Pratisentana dari Pulasari yakni tetang “Tidak menerima sebutan/ucapan: “cai” dan “cokor I Dewa”. Kali ini akan diceritakan bagaimana sebenarnya akhlikhwal bahwasannya pantang bagi keturunan Pulasari untuk menggunakan busana sesuai dengan tata-cara sebagai seorang Raja beserta dengan segala upacaranya, paling kecil menggunakan pemereman.

Dalam Babad yang kami rangkum menyebutkan, : Kembali diceritakan keadaan beliau, Ide Bethara Dalem Tarukan di desa Pulasari. Tidak ada lagi pasukan yang mengejar-ngejar beliau, sehingga kehidupan beliau aman tentram. Beliau meningkatkan ilmu kepanditaan, sampai akhirnya mampu menjadi nabe bagi para dukuh yang setia mengikuti beliau, yaitu: Dukuh Bunga, Dukuh Pantunan, Dukuh Jatituhu, Dukuh Darmaji, Ki Pasek Bunga, Ki Pasek Daya, Ki Pasek Jatituhu, Ki Pasek Pemuteran, Ki Pasek Ban, Ki Pasek Penek, dan Ki Pasek Sikawan.

Kepada para putranya beliau memberikan bisama sebagai berikut: “Putra-putraku, dengarkanlah bisama yang aku berikan kepadamu dan segenap keturunanmu kelak di kemudian hari: Jika kamu meninggal dunia dan diupacarai ngaben (pelebon), dibenarkan kalian menggunakan busana sesuai dengan tata-cara sebagai seorang Raja beserta dengan segala upacaranya, paling kecil menggunakan pemereman berupa padma terawang, atau bade bertumpang tujuh, menggunakan banusa dengan galar dari bambu kuning, tumpang salu dari bambu kuning, ma-ulon, ma-jempana, kajang Pulasari, daun pisang kaikik, bale gumi berundak tujuh, bale silunglung, damar kurung, serta upacara ngaskara selengkapnya.

Selain itu janganlah menerima panggilan “cai”, tetapi terimalah panggilan : Jero, Gusti dan Ratu. Bisama ini aku berikan kepadamu karena kamu adalah keturunanku, keturunan Dalem” Pemberian bisama itu disaksikan oleh para Dukuh dan para Pasek yang disebutkan di atas. Mereka menyatakan akan selalu mentaati dan menjaga terlaksananya bisama itu. Tiada berapa lama setelah memberikan bisama, Ide Bethara Dalem Tarukan sakit selama tiga bulan lalu meninggal dunia pada hari Kamis Kliwon, wara Ukir, panglong ping pitu, sasih kedasa, isaka 1321 atau bila dengan kalender Masehi, pada hari Kamis, bulan April tahun 1399 M. Jika diperkirakan beliau lahir pada tahun 1352 M (dua tahun setelah ayahanda : Dalem Sri Kresna Kepakisan menjadi Raja Samprangan) maka Ide Bethara Dalem Tarukan meninggal dunia pada usia 47 tahun.
Upacara pelebon Ide Bethara Dalem Tarukan dilaksanakan di setra Tampuwagan pada hari Sabtu, Pahing, wuku Warigadean, panglong ping pitu, sasih Jiyesta, rah tunggal, tenggek kalih, isaka 1321, atau bila dengan kalender Masehi, pada hari Sabtu, bulan Juni tahun 1399 M. Manggala dan pemuput karya upacara pelebon adalah : Dukuh Bunga, Dukuh Pantunan, Dukuh Jatituhu, Kiyai Poh Tegeh, Ki Pasek Pemuteran, Ki Pasek Penek, Ki Pasek Temangkung, Ki Pasek Ban, Ki Pasek Sikawan, Ki Pasek Bunga, Ki

Pasek Jatituhu, dan I Gusti Ngurah Kubakal.

Tata laksana pelebon sebagai Raja, yaitu: pemereman bade tumpang pitu, petulangan lembu nandaka ireng ditempatkan dengan kepala di arah Barat, tirta pemuput dari Besakih, sulut pembakaran memakai keloping nyuh gading, kayu bakar memakai kayu cendana. Setelah itu abu tulang dihanyutkan di sungai Congkang. Sebulan kemudian diadakan upacara meligia di mana abu “sekah” dipendem di cungkup sebuah Pura yang dibangun sebagai Pedarman Ide Bethara Dalem Tarukan. Berhubung sudah disucikan sebagai Bethara Raja Dewata, maka sejak saat meligia itu beliau amari aran (berganti gelar) menjadi : Ide Bethara Dalem Tampuwagan Mutering Jagat.
Selama berlangsungnya upacara pelebon dan meligia, tiada henti-hentinya seluruh rakyat pegunungan mulai dari perbatasan barat: Bondalem (Buleleng), perbatasan timur: Tianyar (Karangasem), perbatasan selatan: Pantunan (Bangli) menghaturkan uang kepeng bolong dan bahan-bahan “lebeng-matah” sebagai tanda bakti, setia, hormat, dan duka cita karena ditinggalkan junjungan mereka. Aturan berupa makanan langsung disantap oleh para putra, para Ibu, keluarga, serta semua yang hadir. Karena terlalu banyak sampai tidak habis dimakan, dibiarkan membusuk sehingga menimbulkan bau tidak sedap.
Setelah semua rangkaian upacara selesai, bau busuk dari sisa-sia makanan, beras, uang kepeng bolong dan lain-lain makin menjadi-jadi, tidak tahan menciumnya. Para putra lalu memerintahkan rakyatnya membuang ke sungai, sampai air sungai itu berubah seperti bubur. Uang kepeng bolong yang dihanyutkan menyangkut menutupi sumber mata air sungai. Rakyat yang tinggal di hilir terheran-heran melihat air sungai berubah seperti bubur; banyak yang mengambil nasi, tumpeng, beras itu untuk diberi makan anjing atau babi.
Lalu Bagaimana sebenarnya pelaksanaan ngaben ini dan juga menyebut cai pada keturunan Pulasari ? Menurut seorang warga dari Pulasari yang kebetulan bernama Ari Pulasari menyebutkan bahwasannya hal ini di jaman sekarang ini sudah lumrah. Namun dirinya juga sangat menghormati hal tersebut. Namun juga namanya kehidupan di masyarakat sudah barang tentu menjadi hal biasa apalagi itu di daerah pedesaan.

Sebelumnya disebutkan masalah pengabenan, kini Ida Bhatara Dalem Tarukan menurunkan Bhisama yang mengharuskan atau melarang warga keturunan untuk tidak memakan beras mentah. Bagaimana penggalan kisah ini?

Disebutkan, pemikiran Dalem Ketut itu nampaknya terbaca oleh Kiyai Kebon Tubuh. Segera ia menawarkan agar Dalem Ketut memerintah dari Gelgel, bukan dari Samprangan. Dengan kata lain Kerajaan seolah-olah sudah dipindahkan ke Gelgel. Tawaran ini disetujui Dalem Ketut dan segeralah beliau berangkat ke Gelgel (tahun 1380 M atau 1302 Isaka).

Dalem Ketut Ngulesir membangun istana di Gelgel di kebun kelapa milik Kiyai Kebon Tubuh. Berita ini didengar oleh Dalem Wayan namun tidak bereaksi karena beliau sudah kehilangan gairah hidup.  Sementara itu Dalem Wayan makin parah sakitnya dan akhirnya beliau moksah pada tahun 1383 M atau 1305 Isaka. Setelah Dalem Wayan moksah barulah Dalem Ketut menyelenggarakan upacara penobatan Raja (biseka Ratu) dengan gelar Ide Bethara Dalem Semara Kepakisan.

Kiyai Kebon Tubuh kembali ke Suwecapura dan melaporkan penolakan Dalem Tarukan tersebut. Dalem Ketut kecewa karena maksud baik beliau tidak ditanggapi oleh Dalem Tarukan, namun beliau dapat memahami pemikiran kakak beliau itu. Dalem Tarukan yang menduga bahwa para menteri di Suwecapura dan para pengejar dari Samprangan telah mengetahui tempat persembunyian beliau, lalu memutuskan untuk meninggalkan pedukuhan Bunga. Berangkatlah rombongan keluarga besar itu diiringi oleh Dukuh Darmaji dan beberapa rakyatnya menuju Desa Sekahan, hanya semalam. Kemudian meneruskan perjalanan  ke Sekardadi, Kintamani, Panarajon di sini rombongan beliau dihembus angin topan sehingga sebelas pengiring beliau meninggal dunia. Setelah topan reda, rombongan meneruskan perjalanan ke Besa Balingkang. Merasa aman, di sini beliau tinggal selama tiga bulan; setelah itu rombongan menuju Desa Sukawana.

Segenggam Beras Pembawa Maut

Dalam perjalanan yang melelahkan ini putri beliau yang berusia 4 tahun, Gusti Luh Wanagiri menangis karena lapar. Dalem Tarukan lalu bertanya kepada Dukuh Darmaji apakah membawa makanan. Dukuh menjawab, tidak membawa makanan, hanya beberapa genggam beras. Dalem Tarukan lalu tergesa-gesa memberikan beras itu kepada putrinya, karena tidak sempat lagi memasaknya. Beberapa saat kemudian putrinya sakit perut karena memakan beras mentah dan akhirnya tidak tertolong.

Putri yang dicintainya meninggal dunia. Betapa sedih beliau dan terucaplah kata-kata beliau: “Ya, Tuhan betapa besar cobaan yang kami terima, sangat besarlah penyesalan kami karena seolah-olah memberi jalan kematian putriku. Nah agar hal ini tidak terulang lagi, wahai semua putra dan semua keturunanku, kelak di kemudian hari janganlah sekali-kali kalian memakan beras mentah”

Setelah itu Dalem Tarukan lalu meminta Ki Pasek Sikawan mengubur jenazah putrinya. Karena letak Desa Sukawana di sebelah timur bukit Penulisan, maka agar prabu layon berada di “hulu” dikuburlah jenazah putrinya dengan kepala di arah barat. Di saat ini terucaplah bhisama beliau agar seketurunan beliau bila meninggal atau di-aben agar kepala berada di arah barat, sebagai tanda ingat akan peristiwa menyedihkan ini.

Sejak gugurnya Ide Bethara Siang Kangin, rakyat pegunungan menderita kekalahan terus-menerus dalam peperangan. Untuk mencegah korban yang lebih banyak, maka para pemimpin rakyat pegunungan berunding lalu mengambil keputusan untuk menyelamatkan para putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan.

Cara menyelamatkan para putra disepakati sebagai berikut : Gusti Gede Sekar dan Gusti Gede Pulasari diiringi ibunda beliau Gusti Luh Puwaji beserta empat orang saudaranya ke Puri Gelgel meminta perlindungan Dalem Ketut. Gusti Gede Bandem pergi ke Desa Keling (Karangasem). Gusti Gede Belayu berangkat ke arah Tabanan, menetap di suatu tempat yang kini bernama Desa Belayu. Gusti Gede Balangan menetap di Desa Pantunan atas jaminan keselamatan dari Gusti Agung Pasek Gelgel. Gusti Gede Dangin atas permintaan beliau, tidak mau turut ke Gelgel, lalu berangkat menuju daerah Den Bukit (Buleleng) diiringi rakyat 12 orang, menuju Desa Sudaji. Demikianlah keenam bersaudara itu berpisah menuju tempatnya masing-masing. Sedih dan pilu hati mereka karena harus berpisah dan meninggalkan kampung halaman, namun pasrah menyerahkan nasibnya kepada Ide Sanghyang Widhi Wasa.

Setibanya Gusti Gede Sekar dan Gusti Gede Pulasari di Puri Gelgel, langsung menghadap Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan. Betapa gembiranya Dalem Ketut menerima kemenakan-kemenakan beliau, namun terasa agak kecewa karena tidak semua kemenakannya mau hadir. Tetapi akhirnya beliau maklum setelah mendapat penjelasan dari Gusti Agung Pasek Gelgel,  keputusan untuk menuju tempat masing-masing sudah dipertimbangkan dengan baik. Dalem Ketut kemudian memberikan penugrahan kepada para kemenakannya sebagai berikut:

“Kemenakanku semua, janganlah kalian menyamai (memadai) kedudukanku, karena kalian keturunan Kesatria yang telah diturunkan wangsanya dan kini menjadi Wesia Dalem. Sebab-sebab diturunkan wangsamu karena peristiwa di Puri Tarukan yang melibatkan kakakku Ide Bethara Dalem Tampuwagan. Di kemudian hari bila kalian dan keturunanmu melaksanakan upacara pelebon dibolehkan menggunakan tata-cara seorang Raja karena kalian masih menjadi satu keturunan denganku. Cuntaka hanya tiga malam sebagaimana halnya wangsa Brahmana, Kesatria (para Ratu). Setelah cuntaka habis segeralah mabersih di mata air, selanjutnya ngayab banten pebersihan; setelah itu barulah kembali kesucianmu. Jika kalian berani menyamai kedudukanku, akan kukutuk kalian tiga kali. Hal lain yang harus kalian ingat, janganlah melupakan pura-pura kahyangan jagat di seluruh Bali, serta janganlah menyia-nyiakan para Pendeta/Sulinggih dan orang-orang suci agar jagat Bali selalu trepti. Janganlah kalian melakukan hubungan suami istri di luar pernikahan karena perbuatan itu akan membawa kehancuran sehingga orang-orang Bali tidak lagi bersatu. Peringatan-peringatanku ini berlaku seterusnya sampai ke anak cucu keturunanmu selanjutnya. Bila ada yang melanggar mudah-mudahan menemui bencana dalam hidupnya”

Setelah berlalu beberapa masa, datanglah seorang keturunan Ide Bethara Hyang Genijaya dari Majapahit bernama Sangkul Putih bersama istri dan para putranya. Beliau mendarat di Padang lalu langsung ke Puri Gelgel menghadap Dalem Ketut. Bertepatan saat itu Ide Dalem Ketut sedang memberikan penugrahan kepada para putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan yang kali ini hadir secara lengkap, yaitu: Gusti Gede Sekar, Gusti Gede Pulasari, Gusti Gede Bandem, Gusti Gede Belayu, Gusti Gede Balangan, dan Gusti Gede Dangin, sehingga Sangkul Putih turut mendengarkan wejangan beliau sebagai berikut: “Wahai para kemenakanku semua, kini lanjutkan penugrahan yang telah kuberikan beberapa waktu yang lalu sebagai berikut: Jika kalian memahami tentang kemoksan seharusnya kalian menjadi seorang Sulinggih karena kalian adalah seketurunan denganku, yaitu keturunan Brahmana.

Oleh karena itu pula kalian harus selalu berbakti di Kahyangan Brahmana di Tolangkir (Besakih) jangan melewatkan upacara-upacara di sana sekalipun. Jika kalian melupakan, kukutuk kalian menjadi orang Sudra dan kalian tidak lagi menjadi seketurunan denganku. Demikian juga kalian harus berbakti di Kahyangan Ide Bethara Hyang Genijaya yang ada di Lempuyang dan di Tolangkir sesuai sabda Ide Bethara Brahma. Jika kalian melalaikan peringatanku ini mudah-mudahan hidupmu susah senantiasa kekurangan, kesasar tidak menemukan arah hidup. Kalian adalah keturunan Brahmana, maka bila meninggal dunia, layon harus dibungkus oleh daun muda pisang gedang Kaikik sebab ketika leluhur kita lahir beliau dialasi oleh daun muda pisang gedang Kaikik. Jika tidak demikian kalian dan keturunan kalian bukan warih Dalem.

……….. Jika kalian melupakan, kukutuk kalian menjadi orang Sudra dan kalian tidak lagi menjadi seketurunan denganku. Demikian juga kalian harus berbakti di Kahyangan Ide Bethara Hyang Genijaya yang ada di Lempuyang dan di Tolangkir sesuai sabda Ida Bathara Brahma. Jika kalian melalaikan peringatanku ini mudah-mudahan hidupmu susah senantiasa kekurangan, kesasar tidak menemukan arah hidup. Kalian adalah keturunan Brahmana, maka bila meninggal dunia, layon harus dibungkus oleh daun muda pisang gedang Kaikik sebab ketika leluhur kita lahir beliau dialasi oleh daun muda pisang gedang Kaikik. Jika tidak demikian kalian dan keturunan kalian bukan warih Dalem.

Selanjutnya beliau Dalem Ketut bersabda : “Apa yang aku anugrahkan kepadamu tadi dan selanjutnya ini adalah wahyu dari Ide Bethara Hyang Genijaya yang berstana di Lempuyang. Kalian para kemenakanku, janganlah lupa memuja dan memohon anugerah kepada Ide Bethara di Penataran Agung, Tolangkir, juga kepada I Ratu Pande, I Ratu Gede Penyarikan, serta nuntun para arwah leluhurmu untuk distanakan di tempat keturunanmu. Taatlah melaksanakan kedharmaan, jangan menentang peraturan-peraturan. Diantara keturunan-keturunanmu janganlah satu sama lain tiada mengakui bersaudara, paling tidak mengaku memisan atau memindon. Di mana pun kamu berada tetaplah mengaku bersaudara; jika lupa atau tidak mengakui saudara, mudah-mudahan kamu kehilangan “soda”, yaitu selalu kekurangan makanan dan minuman.

Beberapa waktu kemudian, Ide Dalem Ketut kembali mengumpulkan para kemenakan beliau (putra-putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan) lalu meneruskan penugrahan yang diterima dari para putra-putri Sanghyang Pasupati, yaitu Ide Bethara Mahadewa yang berstana di Tolangkir dan adik beliau Ide Bethari Dewi Danu yang berstana di Danau Batur sebagai berikut: Apabila diantara kalian atau keturunanmu di kemudian hari ada yang mampu Madwijati, diperkenankan pada upacara pelebon menggunakan padma trawang, pisang gedang kaikik, gamet (kapas), kesumba, serta bertingkat 5 (nista), 7 dan 9 (madia), dan 11 (utama).

Mesti Ngeleb Awu

Itu adalah demi kesejahteraanmu. Jika mayat kalian dibakar, cuntake hanya 3 (tiga) malam; jika ditanam 7 (tujuh) malam; Jika mayat kalian dibakar, harus dilakukan upacara ngeleb awu ke segara/sungai disertai upacara ngirim; jika dilalaikan, mudah-mudahan kamu menjadi manusia yang derajatnya paling rendah karena tidak membela kewangsaan serta tidak mengenal kawitan.

Selanjutnya Dalem Ketut bersabda: “Kalian kemenakanku, walaupun kalian telah disurud-wangsakan, namun kalian masih aku anugerahi hak-hak sebagai berikut: seketurunan kalian tidak kena kewajiban-kewajiban/pungutan (pajak), tidak kena pejah pajungan (hukuman mati), tidak kena cecangkriman (pembuangan), tidak kena ambungan (hukuman cambuk), tidak kena sasarandana (pungutan adat), tidak kena pepanjingan (larangan masuk ke suatu wilayah), tidak kena pecatuan (iuran di Pura), tidak kena perintah.

Para penguasa di daerah, yaitu Manca dan Punggawa diberitahu semua penugrahan Ide Bethara Dalem Ketut tersebut untuk ditaati dan diindahkan, ditambah lagi penekanan agar mereka senantiasa menghormati para kemenakan beliau seketurunan. Apabila ada yang berani menentang atau tidak melaksanakan, mudah-mudahan hilang kesaktiannya dan luntur kewibawaannya.

Tirta Yeh Tunggang

Beberapa waktu kemudian Ide Dalem Ketut memberikan tambahan wejangan setelah mendapat wahyu dari Ide Bethara Brahma: “Jika kalian dan keturunanmu meninggal, kalian harus memohon melalui Sangkulputih tirta Yeh-Tunggang dari Gunung Agung sebagai tirta pengentas. Oleh karena itu kawitan serta semua arwah leluhurmu berstana di Gunung Agung (Tolangkir) sehingga kamu wajib berbakti kepada kawitan dan arwah leluhurmu di Pedarmaan Besakih.

Bila ada keturunanmu yang sudah mebersih wenang naik-turun di pelinggih-pelinggih di Tolangkir dalam upacara yadnya. Bila ada keturunanmu yang mampu Madwijati/Madiksa, wenang mengajarkan ilmu, sastra, dan kedharmaan kepada saudara-saudaranya sehingga menjadi orang-orang yang terhormat serta diikuti petunjuk-petunjuknya oleh orang lain. Jika semuanya kalian taati dan laksanakan dengan kokoh dan tekun, mudah-mudahan kalian dapat mencapai moksah.

Selain memberikan penugrahan di bidang agama dan kedharmaan, Ide Dalem Ketut juga memberikan “Mantri sesana”, yaitu tata susila sebagai pejabat yang bertugas dan berkedudukan sebagai berikut : I Gusti Gede Sekar sebagai Manca di Nongan diberikan tanah kebun 15 sikut disertai Ibunda beliau Ni Gusti Luh Puaji. I Gusti Gede Pulasari kembali ke Pulasari sebagai Dukuh menguasai pedukuhan Pulasari (Bunga), Tampuwagan, Peninjoan, Karang-suwung, dan Manikaji. I Gusti Gede Bandem diberi kedudukan sebagai Manca di Nagasari, meliputi: Tihingan, Kayuputih, Uma-anyar, dan Bangkang. I Gusti Gede Belayu diangkat sebagai Manca di Ogang, meliputi: Semseman, Mijil, Sanggem, Sangkan Gunung, Pakel, dan Sangkungan. I Gusti Gede Balangan tetap tinggal di istana Gelgel. I Gusti Gede Dangin kembali ke Sudaji.

Kecuali I Gusti Gede Dangin, semua putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan diberikan pamancanggah yang memuat penugrahan tersebut di atas ditambah dengan gambar rerajahan rurub kajang dan rerajahan daun pisang Kaikik selengkapnya. Pamancanggah itu disahkan dan diumumkan oleh Ide Dalem Ketut pada Hari Kamis, Umanis, wuku Ukir, panglong ping 13 (telulas) sasih Kapat, Isaka 1339 (1417 M). Pamancanggah itu diupacarai/dipasupati sebagaimana mestinya. Sesampainya di tempat kedudukan masing-masing, para putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan menempatkannya di pelinggih pemerajan dan dipuja oleh seketurunan beliau-beliau. Bila ada yang mengabaikan kewajiban memuja dan mentaati pamancanggah itu mudah-mudahan dikutuk oleh Ide Bethara Kawitan.

Kategori:Bhisama

Ida Pedanda Istri Raka Kelaci

November 24, 2009 Tinggalkan komentar
  • Nama Walaka         : Ida Ayu Kade Sindhu
  • Tempat tgl. lahir     : Griya Sangging Wanasari, Tabanan, 28 Agustus 1938
  • Alamat Griya          : Griya Braban, Denpasar.
  • Riwayat Pendidikan : SPG TK tahun 1974
  • Riwayat Pendidikan : Guru TK di TK Negeri, Singaraja, Kanwil P&K.
  • Suami                      : Ida Pedanda Raka Gede Kelaci (alm)
  • Nama walaka          : Drs. Ida Bagus Raka
  • Riwayat Pekerjaan   : Kepala Bidang Kesenian
  • Didiksa                    : Wrespati Pn Landep, 21 Maret 1991
  • Nabe                        : Ida Pedanda Gede Putra Timbul
  • Alamat Nabe           : Griya Puseh Timbul, Intaran, Sanur.
Kategori:Sulinggih

Batu Terbang, Gemparkan Karangasem

November 24, 2009 Tinggalkan komentar

Batu besar yang terbang dari atas bukit di Karangasem ini ternyata palinggihan Ida Bhatara Lingsir Pancering Jagat Manik Angkeran, yang malinggih di Gunung Agung. Batu ini sempat berubah warna dan wangsuhannya bisa dipergunakan sebagai tamba. Aneh dan Ajaib kejadian ini. Berikut ulasannya. 

Gempar, itulah yang terjadi tatkala sebuah kejadian aneh terjadi di Bumi Bali yang terkenal dengan ketengetannya ini. Jelas saja, hal-hal yang aneh ini terkadang memang tidak masuk akal. Hal serupa juga terjadi beberapa waktu lalu di Desa Padang Tunggal, Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem. Krama setempat digemparkan dengan adanya batu sebesar mobil carry pic up di dapur seorang krama setempat.

Menemui lokasi desa di mana ada kejadian batu makeber tidaklah begitu sulit. Jika dari Denpasar langsung menuju ke Klungkung, di timur jembatan Tukad Unda ada pertigaan ke Kanan menuju Padangbai sedangkan yang ke kiri menuju Sidemen, Karangasem. Nah jalan ke kiri tersebutlah dilalui, kira-kira sekitar 25 Km ada sebuah pertigaan ke kiri menuju lokasi.

Saat itu sekitar jam setengah 7 (tujuh) malam 12 Desember 2008 lalu keluarga sebuah rumah yang dihuni 3 KK digemparkan dengan masuknya sebuah batu besar ke dalam dapur. Demikian Wayan Konten (70) mengawali ceritanya kepada Bali Aga. Sesampainya kami di lokasi kejadian, mendadak krama berdatangan, berhamburan dari rumahnya menuju lokasi batu terbang. Mereka dengan polosnya menceritakan kejadian yang sebenarnya. Wayan Konten sendiri tidak tahu dengan jelas kejadiannya, karena ini peristiwa yang sangat langka dan aneh.

“Kalau saja secara alami batu ini jatuh dari atas bukit semestinya dapur tiang sudah hancur dan bahkan rumah warga lainnya di timurnya juga ikut hancur,” ujarnya. Benar memang, dilihat dari begitu besarnya batu ini tidak mungkin bisa jatuh tanpa merusak tanaman di sekitarnya dan bahkan yang rusak hanyalah tembok dapur itu saja. Begitu juga bolong tembok tersebut hanyalah sebesar batu yang masuk dapur itu.

Konten menyebutkan, tempat di mana batu berada, dulunya adalah tempat makanan seperti telur, besar, minyak dan yang lainnya. Namun aneh, makanan-makanan ini tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Telur dan beras pun berpindah tempat agak ke timur sedikit.

Sementara di sebelah barat dapur (yang langsung berhadapan dengan tebing bukit yang tingginya sekitar 500 meter_red), juga tidak lesag akibat gelindingan batu besar ini. Uniknya batu tersebut tidak mengganggu kandang babi yang juga ada di sebelah barat dapur ini.

Menurut istri Konten, dirinya tidak mengalami firasat apa-apa sebelum kejadian ini. Sebelumnya hanya terdengar suara angin kencang yang datang dari atas bukit, hal ini juga didengar oleh krama setempat (rumah krama ngomplek-red). Demikian juga  ada yang melihat dari selatan seberkas cahaya merah terbang turun dari atas bukit ini. Cahaya tersebut datang bersamaan dengan terbangnya batu dan gemuruh suara angin dari atas bukit. Kenapa dikatakan terbang? Karena jelas tidak terdengar gelindingan batu besar itu yang memungkinkan membuat getaran di tanah. Dan juga batu tersebut ada di dapur juga tidak merusak dapur. Yang mana lazimnya jika batu berukuran 2×2 meter ini jatuh apalagi dari atas bukit tentunya akan membuat kerusakan yang besar.

Kelihan Adat setempat, Wayan Wartama yang juga pemilik rumah meyebutkan hal yang sama. Mengenai tindak lanjutnya sudah dilaksanakan oleh keluarganya sendiri. Di mana sudah dilaksanakan kegiatan nunasang kepada Jro Tapakan bahkan tidak satu Jro Tapakan saja. Selain tapakan dari Desa setempat juga nunasang ke daerah lain (kawasan Selat). Dari pawisik yang didapatkan dengan jelas disebutkan bahwasannya batu tersebut merupakan palinggihan Ida Bhatara Lingsir Pancering Jagat Manik Angkeran, yang malinggih di Gunung Agung.

Dari hasil pawisik disebutkan Ida Bhatara meminta agar pemilik rumah dan krama setempat ikhlas dengan hal ini. Selain itu juga berkeinginan untuk tinggal di tempat tersebut, dengan membuatkan palinggih di Ratu Dalem. Semenjak nunasang juga sudah dibuatkan banten wong-wongan. Selain itu juga batu besar ini sudah dibalut dengan kain poleng dan kain merah.

Batu Berubah Warna

Wangsuhannya untuk Tamba

Setiap hari banyak krama yang datang, selain ada yang hanya untuk melihat saja, juga ada yang sengaja datang untuk memohon berkah. Selain krama dari Selat dan sekitarnya ada juga yang datang dari Denpasar, dan bahkan ada juga yang datang dari Buleleng. Menurut Sri Keneh, yang juga tinggal di rumah ini menyebutkan orang yang datang ini sengaja datang untuk nunasang tamba karena sejak lama dia inginkan keturunan. Dia datang tanpa ada yang memberi tahu hanya berdasarkan pawisik yang diterimanya lewat mimpi saja.

Sedangkan dari pamuwus sendiri memang benar disebutkan jika ada orang yang minta tamba atau apa saja, agar memakai air wangsuhan dari batu keramat ini. Selain itu juga sangat berguna untuk menyembuhkan binatang piaraan yang mengalami sakit. Disebutkan juga, sebelumnya batu keramat ini berwarna hitam. Namun setelah nusas bawos, ternyata sudah berubah warna menjadi keputih-putihan.

Ida Bhatara juga meminta agar piodalannya  dilaksanakan pada Buda Wage Kelau. Entah kenapa, warga setempat juga tidak mengerti. Namun yang jelas sesuai kesepakatan krama, juga akan dibuatkan palinggih khusus.

Untuk diketahui, batu ini sebenarnya dulunya ada di atas bukit dan sebagian tertanam dan tempatnya pun tidak dipinggir, malahan ada di tepat di tengah bukit yang cukup landai. Selain itu juga setiap rerahinan pemilik lahan sering menghaturkan banten. Di sebelah barat bukit ada Pura Dalem Setempat. 8

Reporter : Budikrista

Foto : budikrista

Kategori:Tenget

Selamatkan Bayi : Bekali Jimat Penolak Jin

November 24, 2009 Tinggalkan komentar

Hati-hatilah menjaga rare, terutama rare yang baru lahir. Salah jaga, orang jahat gampang menyakiti. Untuk itulah, rare perlu dibekali atau ditangkal dengan jimat khusus untuk rare sebagai penolak jin, setan, sihir dan kekuatan jahat lainnya.

Terkadang bayi selalu crewet (alias nyenye = bhs. Bali), suka nangis, bahkan selalu gelisah. Malam-malam nangis tanpa sebab. Menurut balian spesialis jimat, bayi baru lahir sudah bisa dibekali dengan rarajahan atau jimat. Jimat untuk rare disebut dengan Jimat Rare (baca bayi) penolak jin. Jimat tersebut kalau bayi baru lahir bisa dikemas dengan bentuk gelang dari kain putih yang melingkar di kaki atau di tangannya.

Kain ini di dalamnya diisi dengan rerajahan penolak jin. Hal itu diisyaratkan balian I Wayan Gulung yang tinggal di Banjar Selanbawak Kaja, Desa Selanbawak, Kecamatan Marga, Tabanan. Menurut balian yang sudah tenar dengan spesialis jimat ini, dirinya sudah banyak menolong rare dengan jimat. Rare yang sudah sakit parah pun bisa sembuh hanya dengan jimat.

Pasalnya, ujar balian yang jarang pakai baju di rumahnya, bayi sangat rentan dengan orang-orang jahat. “Khan sering bayi dicolek-colek walaupun kesannya hanya iseng, atau bercanda. Siapa tahu di balik colekan itu ada niat-niat yang tidak baik,” ingat balian yang suka memelihara ayam jago ini.

Dia meyakinkan dengan kalender, hampir tiap hari ada saja yang memesan jimat untuk kepentingan baik. Artinya berjaga-jaga agar tidak tertimpa hal-hal yang bersifat jahat, misalnya godaan jin, setan, aji ugig dan ilmu-ilmu jahat lainnya. Wayan Gulung yang kini setia menunggu orang yang datang untuk ditolong, selalu memberikan pesan agar hidup ini dibekali dengan jimat. “Jimat ini tidak ada tujuan jahat, semata-mata untuk tujuan baik,” tuturnya menegaskan.

Kembali kepada jimat bayi, dirinya paham dan tahu, kondisi labil pada bayi jangan dianggap enteng. Dirinya tahu, semenjak bayi lahir hingga lima tahun ke depan, dijaga oleh Sanghyang Kumara. Tapi, tidak menutup kemungkinan bayi mendapat serangan berat dari orang yang berniat jahat. Siapa tahu, aci-aci kepada Dewa Kumara kurang beres, sehingga bisa saja bayi  dimasuki roh-roh jahat.

Lebih lanjut, tegas balian yang kini berusia kurang lebih 65 tahun,  bayi yang sudah dibekali jimat penolak jin, akan aman sampai kapan pun. Walau terjadi kecelakaan pun bayi akan aman. Tidak lagi kekuatan jahat berani masuk, pun tidak akan crewet dan sakit-sakitan.

Kalau ingin mendapatkan jimat penolak jin kepada balian Wayan Gulung, datang saja dengan bawa atau tidak usah bawa canang. Karena dilakukan perjanjian dulu dengan mengetahui oton, kelahiran, nama dari bayi yang akan dibuatkan jimat. Kalau sudah cocok, barulah ada waktu datang lagi  kapan akan diberikan atau jimat itu diambil.

Biasanya, ujar Wayan Gulung, paling cepat dua hari. Karena dibutuhkan hari baik dalam membuat jimat tersebut. Masalah harga, khusus untuk rare, dirinya tidak pernah mematok sesari. “Ini tugas untuk menolong orang, terutama bagi rare atau orang sakit, beda dengan jimat yang tujuannya ngalih gae, usaha dan keperluan lainnya di luar sakit atau jimat bayi,” paparnya dengan santai.

selebihnya baca Tabloid Bali Aga Edisi 1 tahun 2009

Kategori:Utama

Putu Eka Yulistiari : Balian Bajang Jegeg Tembus Aura

November 24, 2009 1 komentar

Waktu itu, adalah rerahinan bagi umat Hindu Tumpek Wayang (Saniscara Kliwon Wayang). Kami berangkat berlima menuju ke Payangan, tepatnya di Banjar Pengaji, Desa Malinggih Kelod. Sampai di rumahnya gadis jelita ini, rombongan disambut dengan hangat, dengan tangan terbuka oleh sang ibunya.

Melihat ada tamu, Ni Komang Dariani, begitu nama lengkap ibu balian gadis ini, langsung mempersilakan tamunya duduk. Ternyata antara keluarga Ibu Komang dengan Kanjeng sudah akrab. Terbukti, istri Kanjeng sudah biasa masuk dapur dan berbincang kayaknya keluarga yang sudah akrab. Lebih-lebih, Putu Eka Yulistiari pun memanggil Kanjeng dengan Wa (baca “we”).

Setelah duduk sejenak, sementara Putu Eka Yulistiari belum tampak. Kanjeng pun melontarkan kalimat pertamanya, “Putu mana, Bu?”

“Masih sembahyang Kanjeng,” jawab Bu Komang dengan ramahnya. Ibu Komang masih muda, kulitnya putih bersih. Masih kelihatan cantik sekali dan ranum. Karena penasaran, Bali Aga pun nyeletuk melontarkan pertanyaan sok tahu saja. “Ibu kakak Putu, ya,” tanya Bali Aga.

“Oh, bukan, tiang ibunya Putu,” jawab Bu Komang diselingi ketawa renyah. Bali Aga pun sedikit tersipu, karena dugaan ST (sok tahu) menjadi (salah total),  sekilas tampak wajah Bu Komang dari dugaan usianya, termasuk wajahnya lebih dekat hubungan kakak beradik dengan Putu anaknya. Soalnya, wajahnya mirip sekali. Maklum Bali Aga kali pertama datang dan tahu wajah gadis cantik yang diinformasikan seorang Balian.

Begitu obrolan awal yang mampu memecah suasana asing menjadi lebih akrab, layaknya keluarga saja. Bali Aga pun merasakan di rumah gadis cantik ini tidak begitu asing. Karena Ibu Komang begitu ramahnya, termasuk bule yang ikut juga tenang-tenang saja tanpa beban di wajahnya. Setelah obrolan ada jeda, gadis manis dan berkulit bersih datang dengan busana sembahyangnya. Bukan berbusana memutih layaknya balian-balian wanita lainnya.

Ketika Putu tampak, wajah Putu tidak tampak keangkeran seorang Balian. Sikapnya masih lugu, polos dan masih terkesan seorang remaja yang tidak terlalu beban dengan tugas sucinya. Cara pergaulannya juga tidak ada kesan disakralkan, bahkan gaya bicaranya tidak lebih dari sosok seorang remaja kuliahan. Tuturnya begitu lembut, terkadang dia mengaku tidak mengerti atas tugas tambahan yang dia emban dewasa ini.

Putu, begitu sapaan akrab Balian yang masih gadis ini, datang dan langkahnya tenang-tenang saja. Tidak ada yang terasa asing atas kedatangan rombongan Kanjeng Madi. Walaupun Bali Aga dan bule pertama kali mengenal keluarga Putu, tapi Kanjeng sudah memperkenalkan  kami dan memberikan kesempatan ngobrol banyak dengan Putu.

Tiang baru abis sembahyang di kamar suci, bagaimana kabarnya Wa,” sapa Putu dengan wajah sumringahnya.

“Baik-baik saja, nih Kanjeng perkenalkan seorang wartawan dari Bali Aga,” jawab  Kanjeng dengan santai sambil duduk dengan tenang.  Dengan perkenalan itulah suasana tidak saling kenal menjadi pecah dan kami awali ngobrol sekenanya untuk menambah, keakraban sebelum mengorek materi pokok dengan Putu.

Ternyata Putu sangat welcome sekali atas kedatangan Bali Aga. Beda dengan balian-balian lainnya, ketika pertama kali kedatangan Bali Aga, ada kesan takut atau ogah bercerita tentang perjalanan kisahnya menjadi balian.

Putu tenang-tenang saja atas kedatangan kami. Maklum Putu sudah punya wawasan luas, apalagi saat ini masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Udayana Denpasar  dengan program ekstensinya. Sehinga tidak ada beban sama sekali atas kedatangan kami, walaupun dari awal kami sudah disebutkan seorang awak media.

Hanya saja, sebelum mengorek perjalanan balian kelahiran 25 Oktober 1988 ini,  rombongan Kanjeng terlebih dahulu diajak ke kamar sucinya, di mana Putu melakukan aktivitas spiritualnya serta menangani pasiennya. Kami dan bule diberikan kain dan selendang untuk bisa masuk ke kamar sucinya. Sedangkan Kanjeng sendiri mengenakan busana kebesaran keraton, begitu juga sang istri sudah mengenakan kain.

Setelah siap-siap memakai kain, semua rombongan, Kanjeng Madi, istri dan anaknya, begitu juga Bali Aga bersama Fritz Buthke duduk bersimpuh dan bersila. Sementara Putu berada di tengah dan ibunya berada di kiri Putu, menghadap ke timur. Putu berderat dengan Kanjeng, dan istrinya, di belakang Kanjeng ada Bali Aga bersama bule. Di kamar suci hening sejenak, Kanjeng konsentrasi, begitu juga istrinya. Sedangkan Bu Komang dan Putu tenang-tenang saja. Tidak begitu tampak konsentrasi serius.

Asap dupa yang tidak begitu harum mengepul mengitari kamar suci. Suasana hening ini dilakukan beberapa menit. Putu menunggu dengan sikap tenang di saat-saat konsentrasi yang dilakukan Kanjeng Madi Mahaguru Daya Putih. Bali Aga sibuk mengambil gambar karena sudah mendapat ijin dari Putu dan ibunya.

Di kamar suci terdapat berbabagi hiasan berupa gambar dan patung. Begitu juga gambar manusia yang menunjukkan bagian-bagian auranya. Terlihat juga ada batu. Dua patung (badogol), tumbak, dua tongkat. Terlihat ada beberapa lontar yang masih utuh yang isinya belum diketahui. Menurut Bu Komang usianya diperkirakan 350 tahun, milik panglingsirnya yang juga penekun usadha.

Ditemukan beberapa keris, di atas meja sisi barat ada puluhan keris. Di tempat suci ada daksina palinggih dengan beberapa keris kecil/mungil yang sering disebut saselet.

Plangkiran yang cukup besar diapit dengan dua naga yang ekornya membentang ke palinggih sucinya, sedangkan mulutnya menganga ke depan. Terlihat satu talam pis bolong dari kumpulan sesari yang dihaturkan pasien matamba. Jumlahnya kurang lebih mendekati lima ratusan atau mungkin ribuan jumlahnya. Semua pis bolong itu asli, tidak ada pis bolong buatan sekarang/imitasi.

Singkat cerita, Kanjeng Madi menyudahi renungan bathinnya. Waktu selanjutnya diserahkan kepada Putu Eka dengan tenang membawa permata yang diberikan Kanjeng Madi. Permata ini diberikan kepada Putu, guna mendapatkan terawangan atau dites auranya.  Putu tidak begitu lama melakukan konsentrasi. Sejenak memusatkan pikiran dengan kepalan tangannya membawa permata. Tidak sampai 3 menit Putu sudah membuka pejamanan matanya. Rupanya Putu sudah kontak dengan benda yang dipegangnya, sehingga dengan cepat dan mudah memberikan hasilnya. Dia pun memberikan hasil terawangan aura yang dituntun oleh Ida Sasuhunannya.

“Bagaimana Putu, ada apa di permata milik saya,” tanya Kanjeng dengan suara lembut. Putu pun menjawab dengan santai dan penuh keyakinan.

“Permata Kanjeng gelap seperti pandangan orang buta, tapi makin lama makin terang. Antara ada dan tidak ada. Seperti ada api. Terkadang gelap dan terkadang terang,” urai Putu dengan gaya khasnya yang santai. Kanjeng pun manggut-manggut, pertanda yakin dan percaya atas hasil terawangan yang dilakukan Putu. Bahkan Kanjeng sudah tahu aura permatanya. Kanjeng semakin percaya terhadap kemampuan Putu sebagai balian muda, seorang gadis, bahkan Kanjeng memuji adalah balian tercantik dan masih muda sepanjang yang ia tahu sementara ini.

Itulah hasil terawangan aura permata milik Kanjeng Madi yang sudah diyakini mempunyai aura cukup tinggi. Setelah menerawang permata Kanjeng, Putu diberikan lagi permata yang tampaknya lebih mautama. Putu mengambil permata tersebut dengan kepalan tangannya yang halus guna diterawang auranya.

Anehnya, begitu Putu memejamkan mata sejenak, kurang lebih dua menit, Putu kembali buka mata serta menahan nafas panjang. Seraya memberikan hasil teropongnya.

“Maaf Kanjeng, permata yang satu ini memang membuat badan saya menjadi panas. Tidak, saya tidak bisa memberikan jawaban. Badan saya panas sekali. Panas, panas sekali, dak berani menerawangnya, panas sekali, nggak berani meneruskan,” tutur Putudengan tenang pertanda meyakini permata itu  memiliki aura dahsyat. Putu tidak mau ambil resiko, dengan cepat menghentikan terawangannya dan mengembalikan kepada Kanjeng Madi.

Kanjeng pun manggut-manggut lagi. Kanjeng pun berbisik kepada Bali Aga, luar biasa aura Putu, Putu memang memiliki kekuatan mata bathin sebagai balian muda, memang permata yang satu ini tidak sembarangan. Inilah permata yang menjadi milik Kanjeng yang bisa memberikan berbagai manfaat, bahkan sebagai permata yang menjadikan dirinya seorang abdi Keraton Solo menambah wibawa.

“Ini adalah permata mulia, tidak boleh dibawa sembarangan orang,” ungkap kanjeng dengan meyakinkan Bali Aga dengan suara yang tidak begitu keras.

Usai menerawang aura milik Kanjeng, akhirnya bule yang ikut rombongan gilirannya. Bule pun ancang-ancang memejamkan matanya dengan konsentrasi  penuh. Tidak bergerak sama sekali. Maklum bule ini rupanya sudah 3 tahun menekuni spiritual di Bali. Setelah memejamkan mata, Putu punya giliran hening sejenak seraya memberikan hasil tes auranya.

“Ada titik, seperti ada sayap terbang. Warnanya merah kekuning-kuningan,” jawab Putu apa adanya. Atas teropongan tersebut, Kanjeng memberikan makna teropongan Putu, Fritz masih belum mantap spiritualnya, artinya masih kurang penuh konsentrasinya. Masih perlu dimantapkan. Perlu banyak latihan, agar auranya semakin sempurna, tidak lagi goyah, antara ada titik dan belum mantap.

Semua kemampuan yang dilakukan dan dimiliki Putu disebut-sebut tes aura dengan mata ketiga. Sementara Putu mengatakan, kemampuan itu tidak luput dari tuntunan yang diberikan oleh Ida Sasuhunan yang diiringnya.

“Beliaulah yang memberikan petunjuk, semua berasal dari Ida Sasuhunan, saya hanya sebagai perantara saja,” babar Putu merendah.

Setelah aktivitas di kamar suci usia, rombongan pun ke luar setelah diberikan percikan tirta dan bija. Perlu kami beritahukan, sebelum melakukan aktivitas, semua peserta diperkenankan sembahyang setelah diberikan tirta pembersihan oleh Ibu Komang. Semua rombongan kembali ke ruangan tamu. Di ruangan ini terjadi obrolan yang semakin santai dan bernuansa kekeluargaan. Ditambah suguhan kopi susu, jaja Bali, pisang yang enak untuk bersantai ria guna menambah keakraban. Begitu juga foto-foto bersama untuk menambah suasana semakin tampak kekeluargaan.

Cerita yang paling menarik adalah kisah Putu di Pasiraman yang lokasinya berada di semak-semak. Katanya, lokasi pasiraman jauh sekali dari rumahnya.  Ketika Putu Eka Yulistiari datang ke pasiraman, dirinya melihat berbagai makhluk halus berupa binatang, ada macan, ular jumlahnya banyak sekali. Di dalam mimpinya Putu, ternyata lokasi pasiraman tersebut adalah sthana atau lingga Bhatari Sri.

Anehnya, apa yang dilihatnya, ternyata bapak dan ibunya tidak bisa melihatnya. Membuat ibu dan bapaknya ragu antara percaya dan tidak percaya. Begitu juga, semasih ada tanda-tanda ngiringan, semenjak kelas dua SMA, Putu juga sering diikuti makhluk halus. Rupanya makhluk itulah yang memberikan tuntunan untuk mengobati orang. Makhluk halus itu kebanyakan orang Bali menyebutnya wongsamar, atau diberi julukan Rati Niang Sakti.

Tapi, Putu tidak menyadari apa yang menyelinap di dalam dirinya. Tidak ngeh akan menjasi balian. Semua tanda-tanda itu tidak dimengerti. Setiap persoalan yang muncul hanya bisa dilontarkan kepada bapaknya bernama I Nyoman Suwardana. Karena Putu lugu tidak paham dengan dunia yang digelutinya.

“Apa yang tiang rasakan, tak paham, bapaklah yang menerjemahkan dan menceritakan kembali,” urai Putu sambil menghela nafasnya.

Kembali ke pasiraman itu, kata Putu, terdapat tiga pancoran. Di situ juga ditemukan goa. Pancoran itu gunanya untuk malukat. Juga tempat menyembuhkan penyakit gatal-gatal. Rasanya sedikit hangat. Orang-orang yang sakit diajak malukat ke tempat itu. Bagi yang tidak bisa, maka hanya airnya yang diambilkan, sedangkan malukatnya bisa dilakukan di rumah.

Karena tidak tahu persis, ternyata lama-lama ketahuan, pasiraman adalah milik atau duwen Ida Bhatari Sri. Akhirnya Putu menjadi balian karena titah Ida Bhatari Sri yang menghuni Pancoran dan goa  tersebut. Tempat itu tidak sembarangan orang bisa ke sana. Karena lokasinya  tenget.  Apalagi di sana banyak ada ancangan yang tidak bisa dilihat sembarangan orang. Tempat itu, tutur Putu yang kini kos di Denpasar, menjadi media untuk mohon tuntunan, termasuk tamba dia mohon di pasiraman, terutama tirtanya yang digunakan untuk mengobati pasiennya.

Tangani Pasien atas Petunjuk

Putu memang tenar sebagai balian yang sudah wikan bahkan sudah banyak terbukti. Karena bukti nyata yang sudah diberikan kepada setiap penangkilan, penyebaran informasi dari mulut ke mulut pun semakin menggema.

Putu pun semakin tenar, walaupun secara fisik masih muda usia dan masih suka berteman dengan banyak orang seusianya.  Selama menangani pasien, tidak boleh sembarangan, karena tidak mau mengambil resiko yang berakibat fatal. Semua ini atas pengalaman yang sudah sering terbukti.

Begitu Putu kedatangan pasien  yang sudah parah sakitnya, Ida Sasuhunan akan memberikan peringatan atau titah agar tidak melanjutkan lagi. Pasalnya, papar Putu yang sudah mulai tanda-tanda ngiringan sejak masih kecil,  penyakit yang diderita si pasien tidak bisa tertolong lagi.

“Nyata-nyata sekali tiang diberikan perintah, kalau sudah tidak bisa ditangani, akan diberikan tuntunan jangan dilanjutkan lagi,” tutur Putu dengan serius. Setelah mendapat tuntunan, dirinya harus memberikan arahan dan saran tidak bisa membantunya. Kalau bisa  silahkan diajak ke tempat lain.

Sesuai pengalaman, ada pasien masih anak-anak penyakit sudah parah, sudah ada wangsit tidak tertolong lagi. Orangtua pasien tidak percaya. Putu tetap tidak mau menangani, bahkan mengatakan usia anak itu tidak lama lagi. Ternyata, si orangtua pasien tetap tidak percaya. Akhirnya terbukti juga, tidak beberapa lama, bocah atau anak yang diajak ke sini meregang nyawa. Barulah orangtuanya percaya.

Semua itu, bukan dirinya berkehendak demikian, melainkan sudah diberikan klep atau sinyal tidak boleh menangani atau mengobati orang yang sudah akan dekat ajalnya. Lebih baik dikembalikan saja, agar tidak merembet ke masalah yang lebih serius atau masalah hukum.

Sebagai balian, yang ngiring sasuhunan, dia tidak boleh makan daging sapi, makan daging sapi salah satu pantangan yang tidak boleh dilakukannya. Ketika ditanya pergaulannya di kampus dengan  temannya?

“Masalah pergaulan tiang tidak ada masalah, pun biasa-biasa saja. Teman ada yang tahu sebagai balian (ngiringan), banyak juga yang tidak tahu,” celoteh Putu tanpa beban.

Kalau tampilan Putu di kampus, tidak beda atau aneh. Kerena pakaian yang digunakan tidak beda dengan rekannya. Biasa-biasa saja. Tidak ada beban. Begitu juga tidak banyak yang aneh-aneh dalam bergaul, bahkan masalah keremajaan pun seperti biasa saja. Tidak pernah ada perbedaan jauh dalam tampilan sebagai orang kampus dengan dunia niskala yang dijalninnya.

Sesari Pis Bolong Asli

Selama ini, Putu memang salah satu balian yang sudah banyak pasiennya. Untuk itu, terutama dari panangkilan jauh, agar tahu dan siap-siap apa saja yang dibawa untuk tangkil berobat. Putu memberikan tatacara penangkilan, pertamakali tidak usah bawa daksina pejati.

Cukup membawa tiga canangsari saja.  Ada bunga yang wajib diisi, yaitu bunga cempaka warna kuning 3 serta warna cempaka putih juga tiga kuntum. Sesarinya setidak-tidaknya dilengkapi dengan pis bolong asli berjumlah sembilan (9) keteng. Itu adalah bawaan wajib. Semua itu atas petunjuk Ida Bhatari yang disungsungnya.

Masalah penyakit, baik medis maupun non medis.  Kalau penyakit gatal-gatal, sakit kepala, batuk, tenggorokan, datang paling lama tiga kali, sudah bisa sembuh. Selama menyembuhkan orang, tidak pernah menggunakan obat macam-macam. Cukup dengan tirta saja. Tirta itu diambilnya di pasiraman yang disungsungnya, mohon kepada Ida Bhatari Sri agar pasiennya bisa disembuhkan.

Yang lebih unik, Putu hanya mau menerima pasien hanya hari Sabtu dan Minggu, karena Putu kost di Denpasar. Pasien sudah tahu, dan pasah juga libur, walaupun hari Sabtu dan Minggu kalau pas pasah, pasien ditolaknya. Putu menangani pasien capek sekali. Kalau hari Sabtu bisa sampai jam satu atau dini hari.

“Kalau sehari-hari diambil, rasanya tiang tidak ada waktu karena sibuk, di samping capai sekali untuk urusan kampus”  aku anak Perbekel Desa Malinggih Kelod ini dengan terang-terangan. Sudah berbagai penyakit medis-nonmedis dapat disembuhkannya. Mulai dari beseh, strok, bahkan banyak pasien yang tangannya kekeh, begitu dibawa ke sini, bisa sembuh total. Pernah juga menangani orang botak rambutnya habis, hanya diberikan obat racikannya sendiri, orang itu bisa disembuhkan. Dia juga memberikan obat gatal-gatal untuk urut, dan obat untuk diminum. Obat minyak ini berasal dari biji-bijian yang diraciknya sendiri.

Pasien yang datang juga dari berbagai daerah, ada dari Buleleng, Gianyar sendiri, Karangasem, Bangli dan daerah lainnya di seluruh Bali.  8

Biodata

Nama                                      : Putu Eka Yulistiari

Kelahiran                               : Payangan, 25 Oktober 1988

Nama Ayah : I Nyoman Suwardana

Nama Ibu   : Ni Komang Dariani

Pendidikan : Fakultas Hukum Ekstensi Universitas Udayana

Alamat   : Banjar Pengaji, Payangan, Gianyar

Mulai Ngiringan  : Sejak SMA Kelas II (tahun 2005).

Kategori:Kisah

Wiku Pegatwangsa

November 24, 2009 Tinggalkan komentar

Dalam lontar Siwa Sesana disebutkan Wiku Pegatwangsa Tan Wenang Amuja-muja Wong Pati Urip Mwang Parhyangan. Banyak sekali menurut mereka tidak mengetahui akan hal ini.

“Walaupun Sulinggih sebagai Dewaning Sekala, namun tidak menuntut kemungkinan Sulingih itu salah,” ujar IB Astawa. Dirinya menyebutkan harus ada tiga B-nya di antaranya Bibit, Bebet dan Bobotnya. Artinya Pedanda itu harus datang dari bibit yang jelas (Ibu bapak dari keluarga Brahmana). Kemudian untuk bebetnya calon Wiku semestinya siap sebelum melaksanakan kewikuannya tersebut dan bobotnya adalah dimikili setiap orang yang akan mau belajar tentang Weda ini.

Dalam Lontar Siwa Sesana diterangkan jika seorang Wiku tidak melengkapi hal tersebut maka dia tidak boleh melaksanakan kegiatan kewikuannya secara penuh. Juga jika calon Wiku yang belum mempunyai Putra Purusa juga belum boleh membuat tirta atau muput karya agung.

Seperti apa yang dialami oleh Ida Bagus Astawa sendiri, sementara dirinya dalam jangka waktu tidak lama lagi akan mediksa. Namun dirinya memiliki istri dari kalangan Ksatria. Namun dirinya mengetahui hal tersebut. Menurutnya sesuai dengan Guru Nabenya dirinya diperbolehkan madiksa, namun memiliki keterbatasan. Hanya bisa muput di kalangan keluarga saja. Sedangkan masalah pembuatan tirta bisa dilakukan namun tirta tersebut tidak bisa dipergunakan untuk karya agung dan juga tirta pengabenan. Tapi,  dirinya jika ada krama yang nunasang tirta pengabenan akan ngeluur ke guru nabenya.

Dalam Wrespati Tatwa :

Ida Bhatara Wraspati punya anak bernama Sang Kaca. Sementara di dunia ada Bhagawan bernama Bhagawan Sukra. Beliau mempunyai kelebihan yakni mampu menghidupkan orang.  Bhagawan Sukra ini adalah Bhagawan-nya para raksasa. Nah untuk menjadi muridnya Sang Kaca harus bersusah payah. Entah itu disuruh nyabit, memberihkan sawah, punduk sawah dan lain sebagainya. Selama berguru ini, ternyata pihak raksasa tidak setuju alias tidak suka dengan Sang Kaca ini karena begitu ngototnya ingin belajar.

Berkali-kali Sang Kaca ini dibunuh oleh para raksasa ini, namun berkat kesaktian Bhagawan Sukra, hiduplah lagi  Sang Kaca. Berkali-kali hal ini terjadi.

Pada suatu kejadian lain lagi, upaya untuk membunuh sang Kaca ini berubah. Raksasa membuat masakan besar mebat besar dengan membuat Lawar beraneka ragam. Dan ternyata lawar ini adalah berasal dari dagingnya Sang Kaca. Karena begitu setianya dengan Sang Bhagawan maka dihaturkanlah lawar ini ke griya.

Sejak sore Bhagawan kebingunan mencari Sang Kaca ini, dan pas malam harinya, dia merasa aneh dengan lawar yang dimakannya dan ketika ditanya, ternayta memang benar Sang Kaca sudah ada di dalam perut sang Bhagawan.

Di sinilah akhirnya kesaktian Bhagawan Sukra didapatkan oleh Sang Kaca. Sang Kaca disuruh merapalkan mantra pengurip. Dan setelah hafal, dia disuruh keluar lewat perut Sang Bhagawan. Setelah mantra matang dipelajari keluarlah sang Kaca dengan membedah perut Sang Bhagawan. Sesuai amanat, Sang Kaca pun  menghidupkan Sang Bhagawan lagi.  Dari sanalah muncul kenapa Pedanda tidak boleh mabuk, dan makan daging Babi. krista

Kategori:Uncategorized
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.