Beranda > Kisah > Putu Eka Yulistiari : Balian Bajang Jegeg Tembus Aura

Putu Eka Yulistiari : Balian Bajang Jegeg Tembus Aura

Waktu itu, adalah rerahinan bagi umat Hindu Tumpek Wayang (Saniscara Kliwon Wayang). Kami berangkat berlima menuju ke Payangan, tepatnya di Banjar Pengaji, Desa Malinggih Kelod. Sampai di rumahnya gadis jelita ini, rombongan disambut dengan hangat, dengan tangan terbuka oleh sang ibunya.

Melihat ada tamu, Ni Komang Dariani, begitu nama lengkap ibu balian gadis ini, langsung mempersilakan tamunya duduk. Ternyata antara keluarga Ibu Komang dengan Kanjeng sudah akrab. Terbukti, istri Kanjeng sudah biasa masuk dapur dan berbincang kayaknya keluarga yang sudah akrab. Lebih-lebih, Putu Eka Yulistiari pun memanggil Kanjeng dengan Wa (baca “we”).

Setelah duduk sejenak, sementara Putu Eka Yulistiari belum tampak. Kanjeng pun melontarkan kalimat pertamanya, “Putu mana, Bu?”

“Masih sembahyang Kanjeng,” jawab Bu Komang dengan ramahnya. Ibu Komang masih muda, kulitnya putih bersih. Masih kelihatan cantik sekali dan ranum. Karena penasaran, Bali Aga pun nyeletuk melontarkan pertanyaan sok tahu saja. “Ibu kakak Putu, ya,” tanya Bali Aga.

“Oh, bukan, tiang ibunya Putu,” jawab Bu Komang diselingi ketawa renyah. Bali Aga pun sedikit tersipu, karena dugaan ST (sok tahu) menjadi (salah total),  sekilas tampak wajah Bu Komang dari dugaan usianya, termasuk wajahnya lebih dekat hubungan kakak beradik dengan Putu anaknya. Soalnya, wajahnya mirip sekali. Maklum Bali Aga kali pertama datang dan tahu wajah gadis cantik yang diinformasikan seorang Balian.

Begitu obrolan awal yang mampu memecah suasana asing menjadi lebih akrab, layaknya keluarga saja. Bali Aga pun merasakan di rumah gadis cantik ini tidak begitu asing. Karena Ibu Komang begitu ramahnya, termasuk bule yang ikut juga tenang-tenang saja tanpa beban di wajahnya. Setelah obrolan ada jeda, gadis manis dan berkulit bersih datang dengan busana sembahyangnya. Bukan berbusana memutih layaknya balian-balian wanita lainnya.

Ketika Putu tampak, wajah Putu tidak tampak keangkeran seorang Balian. Sikapnya masih lugu, polos dan masih terkesan seorang remaja yang tidak terlalu beban dengan tugas sucinya. Cara pergaulannya juga tidak ada kesan disakralkan, bahkan gaya bicaranya tidak lebih dari sosok seorang remaja kuliahan. Tuturnya begitu lembut, terkadang dia mengaku tidak mengerti atas tugas tambahan yang dia emban dewasa ini.

Putu, begitu sapaan akrab Balian yang masih gadis ini, datang dan langkahnya tenang-tenang saja. Tidak ada yang terasa asing atas kedatangan rombongan Kanjeng Madi. Walaupun Bali Aga dan bule pertama kali mengenal keluarga Putu, tapi Kanjeng sudah memperkenalkan  kami dan memberikan kesempatan ngobrol banyak dengan Putu.

Tiang baru abis sembahyang di kamar suci, bagaimana kabarnya Wa,” sapa Putu dengan wajah sumringahnya.

“Baik-baik saja, nih Kanjeng perkenalkan seorang wartawan dari Bali Aga,” jawab  Kanjeng dengan santai sambil duduk dengan tenang.  Dengan perkenalan itulah suasana tidak saling kenal menjadi pecah dan kami awali ngobrol sekenanya untuk menambah, keakraban sebelum mengorek materi pokok dengan Putu.

Ternyata Putu sangat welcome sekali atas kedatangan Bali Aga. Beda dengan balian-balian lainnya, ketika pertama kali kedatangan Bali Aga, ada kesan takut atau ogah bercerita tentang perjalanan kisahnya menjadi balian.

Putu tenang-tenang saja atas kedatangan kami. Maklum Putu sudah punya wawasan luas, apalagi saat ini masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Udayana Denpasar  dengan program ekstensinya. Sehinga tidak ada beban sama sekali atas kedatangan kami, walaupun dari awal kami sudah disebutkan seorang awak media.

Hanya saja, sebelum mengorek perjalanan balian kelahiran 25 Oktober 1988 ini,  rombongan Kanjeng terlebih dahulu diajak ke kamar sucinya, di mana Putu melakukan aktivitas spiritualnya serta menangani pasiennya. Kami dan bule diberikan kain dan selendang untuk bisa masuk ke kamar sucinya. Sedangkan Kanjeng sendiri mengenakan busana kebesaran keraton, begitu juga sang istri sudah mengenakan kain.

Setelah siap-siap memakai kain, semua rombongan, Kanjeng Madi, istri dan anaknya, begitu juga Bali Aga bersama Fritz Buthke duduk bersimpuh dan bersila. Sementara Putu berada di tengah dan ibunya berada di kiri Putu, menghadap ke timur. Putu berderat dengan Kanjeng, dan istrinya, di belakang Kanjeng ada Bali Aga bersama bule. Di kamar suci hening sejenak, Kanjeng konsentrasi, begitu juga istrinya. Sedangkan Bu Komang dan Putu tenang-tenang saja. Tidak begitu tampak konsentrasi serius.

Asap dupa yang tidak begitu harum mengepul mengitari kamar suci. Suasana hening ini dilakukan beberapa menit. Putu menunggu dengan sikap tenang di saat-saat konsentrasi yang dilakukan Kanjeng Madi Mahaguru Daya Putih. Bali Aga sibuk mengambil gambar karena sudah mendapat ijin dari Putu dan ibunya.

Di kamar suci terdapat berbabagi hiasan berupa gambar dan patung. Begitu juga gambar manusia yang menunjukkan bagian-bagian auranya. Terlihat juga ada batu. Dua patung (badogol), tumbak, dua tongkat. Terlihat ada beberapa lontar yang masih utuh yang isinya belum diketahui. Menurut Bu Komang usianya diperkirakan 350 tahun, milik panglingsirnya yang juga penekun usadha.

Ditemukan beberapa keris, di atas meja sisi barat ada puluhan keris. Di tempat suci ada daksina palinggih dengan beberapa keris kecil/mungil yang sering disebut saselet.

Plangkiran yang cukup besar diapit dengan dua naga yang ekornya membentang ke palinggih sucinya, sedangkan mulutnya menganga ke depan. Terlihat satu talam pis bolong dari kumpulan sesari yang dihaturkan pasien matamba. Jumlahnya kurang lebih mendekati lima ratusan atau mungkin ribuan jumlahnya. Semua pis bolong itu asli, tidak ada pis bolong buatan sekarang/imitasi.

Singkat cerita, Kanjeng Madi menyudahi renungan bathinnya. Waktu selanjutnya diserahkan kepada Putu Eka dengan tenang membawa permata yang diberikan Kanjeng Madi. Permata ini diberikan kepada Putu, guna mendapatkan terawangan atau dites auranya.  Putu tidak begitu lama melakukan konsentrasi. Sejenak memusatkan pikiran dengan kepalan tangannya membawa permata. Tidak sampai 3 menit Putu sudah membuka pejamanan matanya. Rupanya Putu sudah kontak dengan benda yang dipegangnya, sehingga dengan cepat dan mudah memberikan hasilnya. Dia pun memberikan hasil terawangan aura yang dituntun oleh Ida Sasuhunannya.

“Bagaimana Putu, ada apa di permata milik saya,” tanya Kanjeng dengan suara lembut. Putu pun menjawab dengan santai dan penuh keyakinan.

“Permata Kanjeng gelap seperti pandangan orang buta, tapi makin lama makin terang. Antara ada dan tidak ada. Seperti ada api. Terkadang gelap dan terkadang terang,” urai Putu dengan gaya khasnya yang santai. Kanjeng pun manggut-manggut, pertanda yakin dan percaya atas hasil terawangan yang dilakukan Putu. Bahkan Kanjeng sudah tahu aura permatanya. Kanjeng semakin percaya terhadap kemampuan Putu sebagai balian muda, seorang gadis, bahkan Kanjeng memuji adalah balian tercantik dan masih muda sepanjang yang ia tahu sementara ini.

Itulah hasil terawangan aura permata milik Kanjeng Madi yang sudah diyakini mempunyai aura cukup tinggi. Setelah menerawang permata Kanjeng, Putu diberikan lagi permata yang tampaknya lebih mautama. Putu mengambil permata tersebut dengan kepalan tangannya yang halus guna diterawang auranya.

Anehnya, begitu Putu memejamkan mata sejenak, kurang lebih dua menit, Putu kembali buka mata serta menahan nafas panjang. Seraya memberikan hasil teropongnya.

“Maaf Kanjeng, permata yang satu ini memang membuat badan saya menjadi panas. Tidak, saya tidak bisa memberikan jawaban. Badan saya panas sekali. Panas, panas sekali, dak berani menerawangnya, panas sekali, nggak berani meneruskan,” tutur Putudengan tenang pertanda meyakini permata itu  memiliki aura dahsyat. Putu tidak mau ambil resiko, dengan cepat menghentikan terawangannya dan mengembalikan kepada Kanjeng Madi.

Kanjeng pun manggut-manggut lagi. Kanjeng pun berbisik kepada Bali Aga, luar biasa aura Putu, Putu memang memiliki kekuatan mata bathin sebagai balian muda, memang permata yang satu ini tidak sembarangan. Inilah permata yang menjadi milik Kanjeng yang bisa memberikan berbagai manfaat, bahkan sebagai permata yang menjadikan dirinya seorang abdi Keraton Solo menambah wibawa.

“Ini adalah permata mulia, tidak boleh dibawa sembarangan orang,” ungkap kanjeng dengan meyakinkan Bali Aga dengan suara yang tidak begitu keras.

Usai menerawang aura milik Kanjeng, akhirnya bule yang ikut rombongan gilirannya. Bule pun ancang-ancang memejamkan matanya dengan konsentrasi  penuh. Tidak bergerak sama sekali. Maklum bule ini rupanya sudah 3 tahun menekuni spiritual di Bali. Setelah memejamkan mata, Putu punya giliran hening sejenak seraya memberikan hasil tes auranya.

“Ada titik, seperti ada sayap terbang. Warnanya merah kekuning-kuningan,” jawab Putu apa adanya. Atas teropongan tersebut, Kanjeng memberikan makna teropongan Putu, Fritz masih belum mantap spiritualnya, artinya masih kurang penuh konsentrasinya. Masih perlu dimantapkan. Perlu banyak latihan, agar auranya semakin sempurna, tidak lagi goyah, antara ada titik dan belum mantap.

Semua kemampuan yang dilakukan dan dimiliki Putu disebut-sebut tes aura dengan mata ketiga. Sementara Putu mengatakan, kemampuan itu tidak luput dari tuntunan yang diberikan oleh Ida Sasuhunan yang diiringnya.

“Beliaulah yang memberikan petunjuk, semua berasal dari Ida Sasuhunan, saya hanya sebagai perantara saja,” babar Putu merendah.

Setelah aktivitas di kamar suci usia, rombongan pun ke luar setelah diberikan percikan tirta dan bija. Perlu kami beritahukan, sebelum melakukan aktivitas, semua peserta diperkenankan sembahyang setelah diberikan tirta pembersihan oleh Ibu Komang. Semua rombongan kembali ke ruangan tamu. Di ruangan ini terjadi obrolan yang semakin santai dan bernuansa kekeluargaan. Ditambah suguhan kopi susu, jaja Bali, pisang yang enak untuk bersantai ria guna menambah keakraban. Begitu juga foto-foto bersama untuk menambah suasana semakin tampak kekeluargaan.

Cerita yang paling menarik adalah kisah Putu di Pasiraman yang lokasinya berada di semak-semak. Katanya, lokasi pasiraman jauh sekali dari rumahnya.  Ketika Putu Eka Yulistiari datang ke pasiraman, dirinya melihat berbagai makhluk halus berupa binatang, ada macan, ular jumlahnya banyak sekali. Di dalam mimpinya Putu, ternyata lokasi pasiraman tersebut adalah sthana atau lingga Bhatari Sri.

Anehnya, apa yang dilihatnya, ternyata bapak dan ibunya tidak bisa melihatnya. Membuat ibu dan bapaknya ragu antara percaya dan tidak percaya. Begitu juga, semasih ada tanda-tanda ngiringan, semenjak kelas dua SMA, Putu juga sering diikuti makhluk halus. Rupanya makhluk itulah yang memberikan tuntunan untuk mengobati orang. Makhluk halus itu kebanyakan orang Bali menyebutnya wongsamar, atau diberi julukan Rati Niang Sakti.

Tapi, Putu tidak menyadari apa yang menyelinap di dalam dirinya. Tidak ngeh akan menjasi balian. Semua tanda-tanda itu tidak dimengerti. Setiap persoalan yang muncul hanya bisa dilontarkan kepada bapaknya bernama I Nyoman Suwardana. Karena Putu lugu tidak paham dengan dunia yang digelutinya.

“Apa yang tiang rasakan, tak paham, bapaklah yang menerjemahkan dan menceritakan kembali,” urai Putu sambil menghela nafasnya.

Kembali ke pasiraman itu, kata Putu, terdapat tiga pancoran. Di situ juga ditemukan goa. Pancoran itu gunanya untuk malukat. Juga tempat menyembuhkan penyakit gatal-gatal. Rasanya sedikit hangat. Orang-orang yang sakit diajak malukat ke tempat itu. Bagi yang tidak bisa, maka hanya airnya yang diambilkan, sedangkan malukatnya bisa dilakukan di rumah.

Karena tidak tahu persis, ternyata lama-lama ketahuan, pasiraman adalah milik atau duwen Ida Bhatari Sri. Akhirnya Putu menjadi balian karena titah Ida Bhatari Sri yang menghuni Pancoran dan goa  tersebut. Tempat itu tidak sembarangan orang bisa ke sana. Karena lokasinya  tenget.  Apalagi di sana banyak ada ancangan yang tidak bisa dilihat sembarangan orang. Tempat itu, tutur Putu yang kini kos di Denpasar, menjadi media untuk mohon tuntunan, termasuk tamba dia mohon di pasiraman, terutama tirtanya yang digunakan untuk mengobati pasiennya.

Tangani Pasien atas Petunjuk

Putu memang tenar sebagai balian yang sudah wikan bahkan sudah banyak terbukti. Karena bukti nyata yang sudah diberikan kepada setiap penangkilan, penyebaran informasi dari mulut ke mulut pun semakin menggema.

Putu pun semakin tenar, walaupun secara fisik masih muda usia dan masih suka berteman dengan banyak orang seusianya.  Selama menangani pasien, tidak boleh sembarangan, karena tidak mau mengambil resiko yang berakibat fatal. Semua ini atas pengalaman yang sudah sering terbukti.

Begitu Putu kedatangan pasien  yang sudah parah sakitnya, Ida Sasuhunan akan memberikan peringatan atau titah agar tidak melanjutkan lagi. Pasalnya, papar Putu yang sudah mulai tanda-tanda ngiringan sejak masih kecil,  penyakit yang diderita si pasien tidak bisa tertolong lagi.

“Nyata-nyata sekali tiang diberikan perintah, kalau sudah tidak bisa ditangani, akan diberikan tuntunan jangan dilanjutkan lagi,” tutur Putu dengan serius. Setelah mendapat tuntunan, dirinya harus memberikan arahan dan saran tidak bisa membantunya. Kalau bisa  silahkan diajak ke tempat lain.

Sesuai pengalaman, ada pasien masih anak-anak penyakit sudah parah, sudah ada wangsit tidak tertolong lagi. Orangtua pasien tidak percaya. Putu tetap tidak mau menangani, bahkan mengatakan usia anak itu tidak lama lagi. Ternyata, si orangtua pasien tetap tidak percaya. Akhirnya terbukti juga, tidak beberapa lama, bocah atau anak yang diajak ke sini meregang nyawa. Barulah orangtuanya percaya.

Semua itu, bukan dirinya berkehendak demikian, melainkan sudah diberikan klep atau sinyal tidak boleh menangani atau mengobati orang yang sudah akan dekat ajalnya. Lebih baik dikembalikan saja, agar tidak merembet ke masalah yang lebih serius atau masalah hukum.

Sebagai balian, yang ngiring sasuhunan, dia tidak boleh makan daging sapi, makan daging sapi salah satu pantangan yang tidak boleh dilakukannya. Ketika ditanya pergaulannya di kampus dengan  temannya?

“Masalah pergaulan tiang tidak ada masalah, pun biasa-biasa saja. Teman ada yang tahu sebagai balian (ngiringan), banyak juga yang tidak tahu,” celoteh Putu tanpa beban.

Kalau tampilan Putu di kampus, tidak beda atau aneh. Kerena pakaian yang digunakan tidak beda dengan rekannya. Biasa-biasa saja. Tidak ada beban. Begitu juga tidak banyak yang aneh-aneh dalam bergaul, bahkan masalah keremajaan pun seperti biasa saja. Tidak pernah ada perbedaan jauh dalam tampilan sebagai orang kampus dengan dunia niskala yang dijalninnya.

Sesari Pis Bolong Asli

Selama ini, Putu memang salah satu balian yang sudah banyak pasiennya. Untuk itu, terutama dari panangkilan jauh, agar tahu dan siap-siap apa saja yang dibawa untuk tangkil berobat. Putu memberikan tatacara penangkilan, pertamakali tidak usah bawa daksina pejati.

Cukup membawa tiga canangsari saja.  Ada bunga yang wajib diisi, yaitu bunga cempaka warna kuning 3 serta warna cempaka putih juga tiga kuntum. Sesarinya setidak-tidaknya dilengkapi dengan pis bolong asli berjumlah sembilan (9) keteng. Itu adalah bawaan wajib. Semua itu atas petunjuk Ida Bhatari yang disungsungnya.

Masalah penyakit, baik medis maupun non medis.  Kalau penyakit gatal-gatal, sakit kepala, batuk, tenggorokan, datang paling lama tiga kali, sudah bisa sembuh. Selama menyembuhkan orang, tidak pernah menggunakan obat macam-macam. Cukup dengan tirta saja. Tirta itu diambilnya di pasiraman yang disungsungnya, mohon kepada Ida Bhatari Sri agar pasiennya bisa disembuhkan.

Yang lebih unik, Putu hanya mau menerima pasien hanya hari Sabtu dan Minggu, karena Putu kost di Denpasar. Pasien sudah tahu, dan pasah juga libur, walaupun hari Sabtu dan Minggu kalau pas pasah, pasien ditolaknya. Putu menangani pasien capek sekali. Kalau hari Sabtu bisa sampai jam satu atau dini hari.

“Kalau sehari-hari diambil, rasanya tiang tidak ada waktu karena sibuk, di samping capai sekali untuk urusan kampus”  aku anak Perbekel Desa Malinggih Kelod ini dengan terang-terangan. Sudah berbagai penyakit medis-nonmedis dapat disembuhkannya. Mulai dari beseh, strok, bahkan banyak pasien yang tangannya kekeh, begitu dibawa ke sini, bisa sembuh total. Pernah juga menangani orang botak rambutnya habis, hanya diberikan obat racikannya sendiri, orang itu bisa disembuhkan. Dia juga memberikan obat gatal-gatal untuk urut, dan obat untuk diminum. Obat minyak ini berasal dari biji-bijian yang diraciknya sendiri.

Pasien yang datang juga dari berbagai daerah, ada dari Buleleng, Gianyar sendiri, Karangasem, Bangli dan daerah lainnya di seluruh Bali.  8

Biodata

Nama                                      : Putu Eka Yulistiari

Kelahiran                               : Payangan, 25 Oktober 1988

Nama Ayah : I Nyoman Suwardana

Nama Ibu   : Ni Komang Dariani

Pendidikan : Fakultas Hukum Ekstensi Universitas Udayana

Alamat   : Banjar Pengaji, Payangan, Gianyar

Mulai Ngiringan  : Sejak SMA Kelas II (tahun 2005).

Kategori:Kisah
  1. baliaga
    Januari 5, 2010 pukul 4:26 am

    Untuk Bapak Sutedja
    terima kasih atas partisipasinya.
    masalah ramal meralam ini mesti memakai surat yang ditujukan ke bagian redaksi saja
    dengan menanyakan tentang bebayuhan terlebih dahulu yang mana nantinya akan terbuka semuanya di sana.
    suksma.

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: