Maling Budiman dalam Darma Pamalingan
Dalam Lontar Darma Pamalingan dan Aji Pamalingan, tercantum rambu-rambu dari profesi maling tradisional, siapa saja yang boleh dicuri, perhitungan hari yang baik untuk mencuri dan ajimat untuk melumpuhkan sengker gaib rumah korban. Maling tradisional yang mengacu pada dua lontar tersebut, melakukan aksinya tanpa jejak dan tanpa kekerasan.
Terciptanya berbagai bentuk ajimat yang fungsinya disesuaikan dengan kebutuhan pemesan oleh para waskita, membuat ada dua sisi yang berbeda dari kasiat ajimat yang beredar di kalangan masyarakat, yakni jimat yang fungsinya mengarah jalur kanan (kebaikan), dan yang mengarah ke jalur kiri (kejahatan).
I B Putra M Aryana seorang dosen Sastra di sebuah Universitas di Bali ini menyebutkan ada banyak benda-benda bertuah yang bisa dipakai untuk melindungi pemiliknya dari pengaruh-pengaruh negatif. Namun ada banyak pula benda-benda gaib buatan manusia atau pun yang asli produk alam memiliki kegunaan untuk melancarkan usaha-usaha para penjahat melancarkan aksinya.
“Jika ditengok ke belakang, dalam sejarah Bali yang tertuang dalam lembaran-lembaran daun lontar, ada banyak kisah menarik tentang “maling budiman”, yang untuk selanjutnya menjadi figur protogonis pembela rakyat miskin dari dominasi keuangan para “lintah darat”,” ujarnya.
Profesi rendah seorang pencuri kemudian dipandang sebagai orang budiman, lantaran ia membagi-bagikan harta hasil curiannya pada rakyat miskin, di mana sasaran aksinya adalah orang kaya yang pelit dan kikir. Kisah heroik klasik pencuri seperti ini, terdapat hampir di setiap penjuru dunia.
Di Bali, kisah seperti ini tertuang dalam Babad Bendesa Manik Mas. Adalah KI Gedar dan Ki Sleseh, yang dikisahkan menjadi maling budiman. Lewat profesinya ini kejayaan Bedesa Manik Mas yang sempat runtuh lantaran serangan Raja Timbul (Sukawati) dikembalikan oleh Dalem Sukawati.
Ki Gedar dan Ki Sleseh dalam aksinya memakai jimat yang dinyatakan anugerah dari Ida Bhatara Tanah Lot, hingga aksinya ini tidak bisa dilacak oleh para prajurit maupun telik sandi kerajaan Sukawati, hingga kemudian Dalem Sukawati sendiri terjun ke lapangan memburu maling budiman ini.
Profesi maling seputar Swadarmaning Maling (aturan mencuri), tertuang dalam lontar yang disebut dengan Aji Pamalingan, Darma Pamalingan dll. Jika profesi pencuri mengikuti pola-pola yang dinyatakan menjadi rambu-rambu maling (swadarmaning maling), niscaya kasus pencurian yang membabi buta dan tak segan membunuh korbannya, tidak akan pernah dijumpai.
Dalam lontar Aji Pamalingan dan Darma Pamalingan, dengan jelas tertera kriteria orang yang boleh dicuri, tentang penggunaan aji sasirep (cara gaib menidurkan korban), aji maya-maya (menghilang), jimat-jimat yang baik dipakai pegangan dan perhitungan cermat hari-hari yang cocok melakukan aksi.
Sedangkan dalam lontar Paukiran keris dan Cakcakan keris, dijelaskan bentuk-bentuk dan pamor keris yang sangat baik jika dipakai mencuri (kris lapahan belah ring awak), senjata ini bukanlah untuk menusuk, mengancam atau membunuh korban, namun untuk melengahkan pemilik rumah, para penjaga sekaligus pelindung gaib rumah tersebut. Keyakinan, tuah keris yang dipakai pegangan untuk mencuri akan punah jika dipakai menakut-nakuti atau membunuh korban membuat maling-maling tradisional yang memakai aturan-aturan dari darma pamalingan dalam aksinya tidak pernah menghunus kerisnya.
Lewat perhitungan hari sunia (sepi) yang cermat serta pusaka atau ajimat yang dibawa, membuat maling-maling tradisional ini dalam melakukan aksinya tanpa meninggalkan jejak atau pun kekerasan. Korbannya baru merasa kecurian setelah mereka (pencuri) jauh meninggalkan lokasi.
Aturan dari darma pemalingan hanya membolehkan para pencuri untuk mencuri ke rumah orang-orang kaya yang kikir, lintah darat, pemungut pajak yang tanpa etika, pedagang yang terlalu banyak mencari untung, pedagang yang sering bertengkar dan berkata kasar, para calo, pejabat yang jahat (tanda mantri acorah durlaksana), raja yang tidak memperhatikan kesejahteraan rakyatnya (Sang Angawerat tan angagem ing darma niti), dan lain lain yang mengarah ke orang yang mencari kekayaan dengan jalan tidak manusiawi. sta



trims artikelnya sob!
Namaste
Untuk Bapak
terima kasih atas partisipasinya.