Beranda > Kisah > Menyingkap Perjalanan I Made Sriada

Menyingkap Perjalanan I Made Sriada

Sinyal ngiringan Ratu Gede Dalem Ped, dijalani Jro Mangku Sriada dari Banjar Semate, Abianbase, Mengwi, Badung  dengan cobaan tidak bisa tidur siang malam selama tiga tahun. Dengan ujian niskala, diputuskan mawinten tahun 2005, semenjak itu dia banyak menolong orang sakit, punya upacara dengan nerang, serta menjaga toko atau usaha agar selamat dan berhasil.

Pakardin Ida Bhatara, pasuwecan Hyang Embang, memberikan ujian niskala bagi perjalanan hidup seseorang.  Tak disadari, sebagai cobaan yang mesti dijalani sebagai sinyal akan ngetut pamargin Hyang Widhi. Tuntunan ini, jelas suatu ujian sangat luar biasa, apabila dilakoni orang normal, dalam arti tanpa pakardin Ida Bhatara, jelas akan menjadi penderitaan.

Tapi, apa yang dialami I Made Sriada yang kini menyandang gelar Jro Mangku Dasaran, sama sekali tidak terjadi apa-apa atas cobaan yang diterimanya. Bayangkan, lelaki bertubuh agak tinggi ini, diberikan ujian 3 tahun tidak bisa tidur siang dan malam. Suatu cobaan yang sangat tidak masuk akal, dengan kehebatan tidak terjadi sakit sedikit pun. Siapa yang tidak heran, takjub akan pengalaman hidup ini.

Yan alih ring sekala, manawi niki pakardin Hyang Widhi, asapunapi parindikan pamargi niki, tiang tan sadar ngamargiang ujian puniki, tiang wantah ngamargiang manten, tan keni antuk punapi sujatine urip tiang puniki,” urai Jro Mangku Sriada mengawali cerita yang dialaminya bertahun-tahun.

Dikatakan ayah 3 anak ini, selain ada cobaan lainnya, tidak bisa tidur siang dan malam selama 3 tahun ini, memberikan sebuah sinyal. Secara sekala, sama sekali tidak disadari ini sebuah cobaan hidup yang luar biasa. “Yan sing kenten, meh-mehan tiang sampun sungkan,” kilah kakek 1 cucu ini dengan heran.

Sebaliknya, apa yang dialami Jro Mangku Sriada, sama sekali tidak terjadi apa-apa, dirinya mengaku sehat-sehat saja. “Jangankan tidak bisa tidur selama 3 tahun, mungkin tidak tidur 2 hari manten, tiang yakin sampun wenten ketidakberesan. Pengalaman tiang puniki memang luar biasa, aneh dan ajaib,” babar Jro Mangku yang mulai ngiringan April 2005.

Karena diyakini aneh dan unik,  Jro Mangku pun punya inisiatif menanyakan ke berbagai orang pintar atau melalui nabe-nabe yang dia sudah pernah dekati. Untuk memastikan apa yang akan terjadi, dia coba menanyakan ke Cemenggon, Sukawati, Gianyar. Setelah diteropong atau dimohonkan kepada Ida Bhatara, ternyata pamangku alumnus sarjana muda IHD Tembau (kini Unhi) mendapat titah untuk ngiringan.

Manut ring baos, tiang polih tugas ngiringan Ratu Gede Dalem Ped,” akunya menyitir ucapan nabenya.

Jro Mangku pun kaget, setengah tidak percaya. Karena, di dalam hidupnya sama sekali tidak ada benak untuk menjadi orang yang akan ngiringan. Dengan keputusan ring nis tersebut, suami Ni Made Adriani Pendit tidak bisa berbuat banyak. “Tiang wantah jadma tamed, tan uning napi, wantah ngiringan manten,” katanya dengan tenang.

Dengan petunjuk nabe tersebut, dirinya pun mempersiapkan diri. Mulai mencari banyak nabe. Sriada mengaku mencari nabe yang menuntun dirinya lebih dari satu. Agar ia lebih mantap menjalankan titah Ida Bhatara. Di satu sisi, ingin mendapatkan petuah, tuntunan serta pengalaman hidup.

Panglaris Usaha/Toko

Singkat cerita, perjalanan Jro Mangku Sriada pun makin berbinar, bersahaja sesuai dengan tuntunan kehendak nis. Untuk memantapkan jati dirinya, agar mendapat “stempel secara nis”, dia memutuskan hidupnya menjadi pamangku atau jro dasaran dengan masucian eka jati. Agar apa yang diberikan Ida Bhatara bisa berjalan dengan baik dan tidak mengalami halangan.

Pensiuan PNS di Ajendam IX Udayana Denpasar pun  meniti tangga  jro dasaran dengan pawintenan eka jati sejak bulan April 2005  dengan nabe Jro Mangku Dasaran I Nyoman Suli dari Banjar Selanbawak Kaja, Marga, Tabanan. Sejak tahun tersebut, dirinya memantapkan diri, konsentrasi menjadi jro dasaran.

Semenjak itulah, orang datang untuk nunas tamba, diobati dengan kemampuannya. “Tiang ini wantah menolong sameton sane kayun tangkil mariki, yan diprade seger, ngamolihan tatujon, nika boya tiang sane nyegerang, tiang wantah pelawatan manten, nika duwen Sang Hyang Embang,” papar Jro Mangku merendah.

Semenjak mawinten, Jro Dasaran yang tinggal di Banjar Semate No : 21, Kelurahan Abianbase, Mengwi, Badung  sudah banyak menolong orang sakit. Sakitnya maca-macam, apa saja. Dengan sarana tirta dan ramuan racikannya sendiri menjadi sarana matatamban. Yang lebih penting, Sriada tidak sungkan-sungkan bisa dipanggil menolong orang. Tidak hanya harus tangkil ke rumahnya, tapi bisa juga mendatangi pasien tersebut. malam-malam pun dirinya sering membantu orang.

Begitu juga, bagi orang yang punya usaha, toko, dirinya sudah sering membantu.

Tiang juga punya tugas menjaga toko-toko atau orang-orang yang punya usaha. Dengan tugas mulia tersebut, Jro Mangku Sriada kelihatan sibuk. Terkadang mundar-mandir Abianbase-Denpasar.  Untuk panglaris usaha atau toko agar berjalan dengan baik, dirinya membawakan tirta yang sudah mendapat ijin dari Ida Bhatara yang disungsungnya.

Tirta inilah yang diberikan atau dipercikan kepada pemilik toko atau di sekitar tokonya. Jro Mangku sendiri terjun langsung menjaga toko orang yang minta pertolongannya. “Banyak pengusaha Cina yang minta pertolongan kepada tiang, sampun akeh sane berhasil,” tutur Jro Mangku apa adanya tanpa niat promosi

Dikatakan Jro Mangku yang sangat ramah ini, kalau ingin tangkil, syaratnya tidak rumit. Pertama kali cukup membawa daksina pejati. Kalau nunas baos, jangan lupa matur  pakeling dulu di merajan masing-masing. Kalau matamba, pertama kali saja membawa daksina, selanjutnya  bisa membawa canang manten. Masalah sesari, tidak ada aturan, sasidan sane tangkil. Pis bolong tidak apa. Dalam penangkilan, dikatakan tidak ada pantangan. Hanya saja, hari pasah dirinya tidak menerima pasien.

Nerang dengan Kayu Kasuwa Pasupati

Selain menjaga toko, menolong orang sakit, Jro Mangku Sriada juga memberikan pertolongan nerang. Sarananya hanya membawa tongkat sepanjang kurang lebih 50 cm. kayu ini disebut kayu kasuwa. Tentu kekuatan kayu ini telah dipasupati oleh Ida Pandita dari Griya Banjar Bedil, Baha, Mengwi.

Dengan tongkat ini, Jro Mangku sangat yakin sudah banyak berhasil. Hanya saja, kembali Jro Mangku merendah, apa yang dia lakukan dan keberhasilan itu bukanlah dirinya. Semua itu kehendak Hyang Widhi. “Tiang wantah ngemargiang manten, nika pasuwecan Ida Bhatara,” katanya dengan polos.

Mengenai tugas atau menolong orang nerang, ternyata sudah keliling Bali. Salah satu contoh, ketika Jro Mangku Canderi di Kapal, punya upacara, hujan deras sekali. Ketika dia datang dari jauh, seraya membawa tongkat lan mohon kepada Ida Bhatara, syukur hujan  reda.   Dan banyak lagi tugas-tugas mulia yang diberikan Jro Mangku Sriada semenjak ngiring Ida Bhatara ratu Gede Dalem Ped kepada umat manusia.

About these ads
Kategori:Kisah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: