Beranda > Tirtayarta > Pura Kepuh Kembar, Kapal

Pura Kepuh Kembar, Kapal

Pura Kepuh Kembar tidak hanya sarat dengan sejarah perjalanan  pejabat ksatria di zamannya, yaitu Ida Dalem Solo dan Ida Dalem Putih Jimbaran. Tetapi juga mempunyai berbagai keunikan. Mulai dari mohon anak, matamba sampai disebut menabar aura magis, sehingga kondisi kahyangan tetap terjaga dan memberikan anugerah. Siapa sebenarnya Dalem Putih itu dan kegaiban apa saja yang terdapat di pura ini?

Pura Dalem Solo atau yang lebih dikenal dengan nama Pura Kepuh Kembar itulah nama sebuah pura yang berada di lingkungan Banjar Belulang, Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Di tempat ini Dalem Putih pernah beristirahat sekembalinya dari Jawa sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat yang dituju. Beliau sempat membuat pemujaan untuk memuja Ida Bhatara Dalem Solo. Di sini juga tumbuh dua pohon kepuh berjejer, sehingga masyarakat kemudian menyebut tempat ini dengan nama Pura Kepuh Kembar.

Konon, sebelum dibuatkan jalan, tempat ini sangat terasing dan sangat sepi. Di sebelah barat terdapat jurang dengan kedalaman kurang lebih seratus meter. Jurang itu merupakan sebuah pangkung (sungai kecil) dan ditumbuhi berbagai jenis pohon kayu yang cukup rindang menambah keangkeran tempat itu.

Di sekitar lokasi ini juga terdapat goa peninggalan tentara Jepang serta terdapat Beji/pesiraman Ida Bhatara di Pura Kepuh Kembar dan Pura Pucak Manik Mas. Di jaba sisi pura terdapat setra bajangan serta di seberang timur jalan terdapat Pura Dalem Bajangan. Pohon kepuh kembar ini begitu menjulang tinggi sehingga pohon ini terlihat dari kejauhan.

Begitu sampai di areal pura, aura gaib sangat terasa, di samping karena pepohonan yang sangat rindang, memang secara niskala tempat ini di jaga berbagai jenis ancangan/para rarencang. Pantauan TBA, setiap orang yang melewati tempat ini tak lupa membunyikan klakson kendaraannya untuk memohon keselamatan.

Banyak dari mereka yang percaya, menyempatkan diri menghaturkan rarapan atau hanya dengan canang sari. Pura Kepuh Kembar ini terdiri dari dua mandala yakni utama mandala dan madya mandala.

Pohon kepuh ini tumbuh di tengah-tengah, sehingga sekaligus menjadi pemisah antara Utama Mandala dengan Madya Mandala. Di depan paduraksa terdapat dua buah patung dengan perangai cukup menyeramkan, selanjutnya di Madya Mandala terdapat dua buah palinggih yang terdapat di masing-masing pohon kepuh itu.

Pun, dilengkapi dua buah patung macan, serta satu buah bangunan yakni bale pasandekan. Sementara di utamaning madala terdapat satu buah Palinggih Gedong sebagai stananya Ida Bhatara Pura Dalem Solo/Pura Kepuh Kembar, satu buah Palinggih Papelik. Di bawah kedua palinggih itu juga terdapat satua buah Palinggih Ketekan, sebagai stananya pengamong Wong Samar.

Di sekitar palinggih itu juga terdapat pohon pule yang di bawahnya terdapat satu palinggih dan dua buah patung bojog, sebagai tempat para rarencang. Di sini terdapat dua buah bangunan, satu Bale Pesantian dan satu Bale Sambiangan.

Krama yang lewat di tempat ini, cukup menghaturkan rarapan di palinggih pengayatan yang terdapat di Madya Mandala. Banyak juga yang menghaturkan rarapan di patung yang ada di depan paduraksa.

Sejarah awal keberadaan pura ini, menurut Ketut Sudarsana, praktisi sekaligus penulis lontar ini, nama pura yang kini dikenal dengan nama Pura Kepuh Kembar ini, sebenarnya bernama Pura Dalem Solo. Tetapi karena di tempat ini tumbuh dua pohon kepuh secara berdampingan, sehingga masyarakat menyebut tempat ini dengan nama Pura Kepuh Kembar. Pura ini diperkirakan dibangun sekitar abad ke-14, demikian juga halnya pohon kepuh itu diperkirakan ada sejak abad itu.

Lebih lanjut bapak dua orang putri ini menceritakan, jika dilihat dalam konteks babad, keberadaan pura ini diawali dengan perjalanan Beliau Dalem Putih Jimbaran menuju ke tanah Jawa, tepatnya menuju Solo. Setelah sampai di Solo, karena suatu alasan tertentu Ida Dalem  Solo saat itu, tidak mengizinkan Dalem Putih Jimbaran tinggal di Solo. Sehingga beliau kembali ke Bali. Sesampainya di Bali Ida Dalem Putih Jimbaran menepi di Pantai Seseh.

Suami Ni Wayan Miyasa ini lebih jauh menceritakan, selanjutnya Ida Dalem Putih Jimbaran melanjutkan perjalanan menuju ke arah utara melewati jalan setapak di tengah hutan. Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan itu, Ida Dalem Putih Jimbaran memutuskan mencari tempat yang tepat digunakan sebagai tempat masandekan (beristirahat). Dengan kekuatan bhatin yang dimiliki, Ida Dalem Putih Jimbaran menemukan tempat yang cocok sebagai tempat istirahat yakni di tempat Pura Kepuh Kembar sekarang.

Tidak diceritakan berapa lama Beliau berada di tempat ini, tetapi Beliau sempat  melakukan tapa, yoga, semadhi serta membuat pemujaan untuk memuja Ida Dalem Solo. Untuk mengingatkan/mengenang  perjalanan Beliau datang dari Solo, serta untuk memuja Ida Dalem Solo, lanjut pria kelahiran tahun 1955 ini, di tempat peristirahatan beliau membangun tapa, yoga, semadhi itu, Beliau membuat pemujaan yang kemudian bernama Pura Dalem Solo atau yang lebih terkenal dengan nama Pura Kepuh Kembar.

Lebih lanjut pria murah senyum yang kini tinggal di Banjar Basang Tamiang ini mengatakan, sebelum Beliau sampai di sebelah selatan Kuta dan menghembuskan nafas terakhirnya, Ida Dalem Putih Jimbaran sempat beristirahat di Pura Selunding dan Pura Sada yang berada di lingkungan Desa Kapal. Karena kemampuan spiritualnya yang telah mencapai kesempurnaan, oleh para pengikutnya di bangun sebuah pura yang kemudian dinamakan Pura Prasida.

“Ida Dalem Putih Jimbaran sendiri sebenarnya adalah bernama Ida Wayan Petung Gading. Tetapi karena dalam prosesi kehidupannya lebih banyak melakukan prosesi dengan cara melaksanakan tapa, brata, yoga, semadhi, sehingga diberi nama Ida Dalem Putih Jimbaran,” papar Ketut Sudarsana mengaku sering membantu umat Hindu di luar Bali, seperti Jawa, Lombok, Kalimantan, Sulawesi dan daerah lainnya.

Taksu Nunas Rare

Setiap pura memiliki keunikan, getaran gaib, serta taksu berbeda satu dengan yang lainnya. Demikian halnya Pura Kepuh Kembar ini. Percaya atau tidak, Ida Bhatara di Pura Kepuh Kembar ini dikenal sangat bares (pemurah) terutama bagi pasutri yang lama tidak memiliki momongan (anak). Seperti diungkapkan Jro Mangku Desa Made Sedana, pemangku Pura Desa sekaligus sebagai pemangku di Pura Pucak Manik Mas serta di Pura Kawitannya.

Banyak yang telah membuktikan hal itu, ada dari mereka telah menikah 10 tahun tidak punya anak, tetapi setelah memohon dengan tulus di pura ini akhirnya bisa punya anak, bahkan sampai kebablasan. Mereka yang terkabul permohonannya ada yang menghaturkan kaul pajeng, kain putih-kuning, hingga babi guling.

Hal itu juga dibenarkan  Luh Ringan, orangtua Jro Mangku Made Sujana, juru sapuh di Pura Kepuh Kembar ini. Ditambahkannya, di antara Palinggih Gedong dan Palinggih Papelik itu ada sebuah Palinggih Ketekan yang diyakini stananya Pangemong Wong Samar. Biasanya, lanjut perempuan lanjut usia ini, setiap kali Krama Desa Kapal maduwe karya tidak lupa memohon keselamatan di Palinggih Ketekan ini, karena jika tidak, mereka akan selalu diganggu oleh Wong Samar. Mereka akan selalu kekurangan padahal sebelumnya sudah dihitung dengan tepat.

Lebih lanjut, Jro Mangku Desa  Made Sedana pensiunan guru SD ini mengatakan, Pura Dalem Solo/Pura Pura Kepuh Kembar ini diemong oleh Desa Pakraman Kapal. Pemangku yang ngayah di Pura Kepuh Kembar ini adalah masih keluarganya bernama Jro Mangku Made Sujana menggantikan ayahnya.

Pria kelahiran tahun 1938 ini memaparkan, di lokasi pura ini dikenal sangat angker, karena tempat ini dijaga ancangan berbagai jenis. Yang menjadi korban biasanya mereka yang sering melewati tempat ini dan tidak membunyikan klakson kendaraannya dan tidak pernah menghaturkan rarapan.

Para ancangan dan rarencang Ida Bhatara di kedua pura ini sering menampakkan wujudnya baik berupa binatang, maupun regektunggek (wanita cantik dengan punggung bolong). Sesuai pengamatan TBA jalan di lokasi pura ini berbentuk seperti tanduk Sapi, sehingga sangat rawan terjadi kecelakaan. Terutama mereka yang tumben melewati jalan ini. Hampir setiap minggu terjadi kecelakaan.

“Bahkan dulu pernah ada dua orang dengan kecepatan tinggi menabrak leneng tiang hingga salah satu dari mereka meninggal di tempat,” ujar Jro Mangku Desa seraya mengenang peristiwa itu.

Rarencang Ida Bhatara di Pura Kepuh Kembar ini yang berbentuk ular merah kembar sering malancaran ke rumahnya, tetapi tidak mengganggu. Setelah diberitahu ular kembar itu akan pergi dengan sendirinya. Selain ular kembar, juga pernah muncul ular poleng dan ular cobra berbadan pendek. Biasanya, urai Jro Mangku yang mengaku memiliki istri dua, yakni Ni Nyoman Parti dan Ni Nyoman Lidriani ini mengatakan, biasanya kemunculan ular poleng dan ular cobra serta regektunggek itu sebagai pertanda, akan terjadi sesuatu di tempat ini seperti kecelakaan yang meminta korban jiwa.

“Tiang himbau kepada krama yang kebetulan atau sering melewati tempat ini, agar selalu ingat membunyikan klakson kendaraannya sebagai pertanda minta izin karena ancangan dan rarencang Ida sering berkeliaran di sekitar tempat ini. Lebih baik lagi jika sempat menghaturkan rarapan atau sekadar canang sari,” ujar Jro Mangku menegaskan.

Di Pura Manik Mas Genah Nunas Tamba

Selain Pura Kepuh Kembar, di sekitar lokasi pura itu tepatnya di atas Pura Kepuh Kembar terdapat pura yang bernama Pura Pucak Manik Mas. Pura ini, kata Jro Mangku Desa Made Sedana, sejak panglingsirnya ngayah menjadi juru sapuh,  awalnya, panglingsirnya pernah menderita penyakit sisik dongkang.

Di mana badannya bersisik sehingga tidak berani keluar rumah. Selanjutnya panglingsirnya terus dengan tulus nunas ica (memohon kesembuhan) kepada Ida Bhatara di Pura Pucak Manik Mas. Setiap malam selalu bersemadhi di sana, sampai akhirnya suatu malam didatangi rangda. “Ketika itu panglingsir tiang terus meminta agar Ida Bhatari membunuh, karena tidak sanggup menanggung penderitaan itu,.

Tetapi Ida Bhatari itu tidak mau mengabulkan permohonan panglingsir tiange melainkan menyuruh datang ke pemangku Pura Selunding untuk meminta obat,” jelas Jro Mangku Desa mengutip cerita panglingsirnya. Sesampainya di rumah Jro Mangku Pura Selunding, diberikan suatu benda berupa batu dipakai sebagai sarana untuk menggosok penyakitnya itu.

Benar saja, berselang tiga hari kemudian penyakit sisik dongkang yang diderita sebelumnya hilang secara tiba-tiba, dan badannya kembali seperti semula. Mulai saat itu panglingsirnya ngayah menjadi juru sapuh di Pura Pucak Manik Mas hingga sekarang secara turun temurun. Banyak krama yang sebelumnya menderita berbagai penyakit sembuh setelah dengan tulus ikhlas nunas ica (memohon) kesembuhan di pura ini.

“Tiang bukan promosi, tetapi itulah kenyataan yang terjadi. Tetapi harus dengan keyakinan dan kepercayaan yang tinggi. Di samping itu juga sangat tergantung jodoh seseorang dengan tempat itu,” jelas bapak tiga putra dan tiga putri ini mengakhiri. Reporter  : Andiawan

Kategori:Tirtayarta
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: