dapatkan segera tabloid bali Aga terbaru edisi 6
harga Bali Rp 10.000
Luar Bali Rp 12.000
harga Bali Rp 10.000
Luar Bali Rp 12.000
Anda mungkin pernah mendengar cerita ‘pria menggigit anjing’, namun bagaimana dengan kisah ‘pria menikah dengan anjing’? Ini betul-betul terjadi di India, negara asal-usul Kamasutra.
Peristiwa ini dilangsungkan pada saat perayaan tradisional masyarakat hindu di kuil selatan Tamil Nadu. Pengantin pria diatas adalah seorang petani India bernama Selvakumar dengan usia 33 tahun, sementara pengantin wanitanya adalah seekor anjing betina bernama Silvi (Gila, keren banget namanya ….) Pria tersebut menikah dengan anjing untuk penebusan dosa karena telah melempari 2 anjing dengan batu sampai mati dan kemudian menggantungnya di sebuah pohon, 15 tahun yang lalu.
Sejak peristiwa itu, ia mengalami penderitaaan. Tangan dan kakinya lumpuh. Ia pun kemudian kehilangan pendengaran salah satu telinganya dan tidak dapat berbicara dengan normal. Ia menceritakan kisahnya pada Hindustan Times (salah satu koran di India). Ia mempercayai bahwa penderitaanya adalah sebuah kutukan.
Ia sudah mendatangi banyak dokter, namun dokter-dokter tersebut tidak mampu menyembuhkan penyakit yang ia derita. Ia kemudian mendatangi seorang cenayang dan cenayang tersebut mengatakan bahwa ia telah dikutuk oleh arwah anjing-anjing yang telah dibunuhnya dahulu. Ia dapat menghilangkan kutukan tersebut jika ia menikah dengan seekor anjing dan hidup bersamanya, kata cenayang tersebut. Anggota keluarga Selvakumar kemudian mencarikan anjing wanita untuknya. Setelah itu anjing tersebut dimandikan dan dipersiapkan untuk acara pernikahan.
“Anjing tersebut hanya untuk menghilangkan kutukan dan setelah itu ia berencana mengambil pengantin wanita yang sesungguhnya”, kata teman si pengantin pria. Masyarakat tradisional India terutama di pedesaan, mempercayai bahwa menikah dengan anjing ataupun binatang-binatang lainnya dapat mengusir kutukan tertentu.
Ada-ada saja ……
Penglukatan Segala Mala
Tengetnya Pura Taman Beji Toya Tabah sudah tidak dipungkiri lagi. Setiap orang yang tinggal di Banjar Beng Kaja, Desa Tunjuk, Tabanan meyakini Pura Taman Beji Toya Tabah sebagai tempat panglukatan segala mala. Uniknya air di beji ini selalu digunakan untuk marisudha mayat setelah orang yang meninggal diaben.
Menyusuri Tabanan hingga ke pelosok-pelosok masih banyak tempat-tempat alami yang lekat dengan aura magis. Terutama tempat yang masih hijau belum tergerus pembabatan hutan. Salah satunya Banjar Beng Kaja yang ada di Desa Tunjuk, Tabanan, selain dikenal sebagai pencetus seniman-seniman berbakat juga dikenal memiliki tempat-tempat yang masih dikeramatkan sebagai tempat tenget.
Pura Taman Beji Toya Tabah demikian sebuah pura yang agak jauh ke bawah dari jalanan Banjar, rupanya memiliki banyak cerita misteri. Memang pura ini tidak terlalu terlihat jika melintas di sekitar jalanan banjar karena lokasinya agak ke bawah menyerupai jurang.
Sepintas terlihat kecil, namun begitu memasuki areal taman beji maka pemandangan asri dan menenangkan akan dirasakan merasuki jiwa.
Tidak salah jika orang-orang yang ingin mencari ketenangan maupun mencari pencerahan dari segala permasalahan bisa datang dan memohon di tempat ini. Lain katanya, salah satu tempat tujuan melakukan semadhi adalah tempat ini yang dilalui oleh aliran sungai Toya Tabah.
Bagaimana asal mula keberadaan Beji Toya Tabah ini, berikut penuturan Jro Mangku Istri Taman Beji yang rumahnya tidak jauh dari lokasi pura. Pura Taman Beji ini diperkirakan sudah ada sejak zaman kerajaan. Bahkan kekuasaan kerajaan Tabanan yang saat itu sangat besar hingga di sebelah barat jalan Desa Tunjuk merupakan tempat yang dijadikan taman oleh Raja Tabanan.
Lama kelamaan perkembangan dan pertambahan penduduk menyebabkan pengalihan fungsi menjadi pemukiman rakyat. Namun masih ada yang tersisa sebagai taman hingga kini disungsung oleh masyarakat untuk melakukan penglukatan.
“Dulu ada pohon gatep besar dan diyakini angker di Taman Beji Toya Tabah ini. Setiap orang yang hanya melintas saja di jalan sekitar Taman Beji pada malam hari akan merasakan getaran magis. Seluruh tubuh terasa merinding tanpa sebab yang jelas. Apalagi tidak jarang di sekitar pura muncul ular yang jumlahnya sangat banyak seperti belut saling melilit satu sama lain,” papar Jro Mangku Istri Taman Beji.
Hal senada juga diungkapkan oleh Wayan Sukayasa, putra Jro Mangku Istri, mengenai tengetnya Taman Beji Toya Tabah. Jenis ular yang biasa menghuni seputaran beji tak lain adalah lipi sampi diyakini sebagai rencang pura. Memang ular ini hanya muncul pada hari-hari tertentu seperti rerahinan Kliwon.
Sesuai dengan namanya Taman Beji, pura ini kerap digunakan sebagai tempat melukat segala mala. Setiap orang yang mengalami sakit secara sekala lebih memilih memohon kesembuhan di pura ini dengan melaksanakan penglukatan yang dituntun oleh Jro Mangku.
selengkapnya baca TBA edisi 5
Menuangkan Kegiatan dalam Kanvas
Filosofi Padi dan Bunga menjadi inspirasi seorang pelukis dari Bangli. Dengan itu kegilaan yang ditungkannya dalam sebuah kanvas bisa membius para kolektor barang seni. Utamanya lukisan, selain itu banyak juga tamu mancanegara dan lokal yang memesan lukisannya. Kini gilaran Anda.
Bakat, rejeki, dan berbagai hal lain yang menyangkut kehidupan seseorang banyak yang mengatakan sudah ada tandanya semenjak anak itu dilahirkan ke dunia. Namun, terkadang para orang tua ( utamanya di pedesaan) jarang ada yang menyadari dan menindaklanjuti hal itu. Walaupun tahu, namun diabaikan begitu saja, karena ketidakmampuan biaya. Hal inilah yang sempat dialami Nengah Subagia (38) asal Dusun Umbalan Desa Yang Api, Tembuku, Bangli. Saat ini dia adalah seorang pelukis yang sudah memiliki cukup ‘modal’ untuk menjalani kreasi seninya. Bukan modal uang melainkan kemampuan dan penemuan karakteristik dari apa yang sudah dibangunnya sejak dulu. Lukisan yang dibuatnya saat ini, adalah berupa bunga-bunga dan juga bentuk padi-padian. Rupa-rupanya ada hal yang beda dari pemaknaan bunga dan padi ini. Di mana menurutnya, kalau padi siapa saja dan di mana saja diperlukan yang namanya kebutuhan hidup yang paling pokok ini. Kemudian bunga. Bunga sendiri menurutnya, selain indah juga diperlukan oleh seluruh umat beragama untuk melaksanakan sebuah ritual ataupun yadnya tertentu. “Bahkan, dipekuburanpun bunga seolah-olah mengubah nuansa angker menjadi nilai seni yang artistik,” ujar bapak 3 anak ini.
Lalu bagaimana ceritanya dia menjadi terkenal ? berikut penuturannya. “Pada awalnya saya memang seorang pelukis abstrak biasa, namun kemudian entah siapa yang memberitahu ada dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bangli bertandang ke tempat ini,” ujar suami dari Wayan Suarjani ini. Berkat swecan Widhi, akhirnya diapun dilirik untuk diajak pameran ke Jakarta. Dan untuk itu barang-barang pun dipersiapkan. Yang mana sudah barang tentu membuat lukisan-lukisan bagus dan juga berkualitas tinggi.
Hingga akhirnya waktu yang ditunggu pun datang, malahan pameran yang baru berlangsung setahun lalu ini menjadi peluang cerah baginya. Di mana direncanakan untuk pameran enam hari, namun barang yang dipamerkan sudah habis dalam tiga hari saja. Dan bahkan banyak relasi-relasi dia kumpulkan mulai dari pengusaha, maupun pemilik galery.
Sekian waktu berjalan, hingga akhirnya karena kebutuhan barang habis, diapun hanya bisa membagikan kartu nama dan nanti berharap ada yang menghubunginya. Memang benar, akhirnya relasi-relasi pun mulai menghubunginya dan bahkan ada yang sengaja datang dari Jakarta ke rumahnya untuk membeli barangnya. Hingga akhirnya sampai sekarang tampak di rumahnya yang agak sempit karena dipenuhi lukisan-lukisannya ini masih banyak ada tamu yang senang akan lukisannya.
Mengenai order baik dari galery maupun perorangan, dalam sebulannya dia bisa menjual lukisan sampai 30 lukisan. Sungguh penjualan yang pantastik dibilang, betapa tidak sejak dia mulai melukis pada tahun 1994 sebagai seorang pelukis realis, paling banter dia dapat menjual lukisan maksimal empat buah saja.
Seni lukisannya pada awalnya bisa dibilang ngawag, di mana mulai dari realis, kemudian pada tahun 2000 sebagai pelukis abstrak poles, hingga akhirnya pada tahun 2002 ketemulah konsep padi dan juga bunga ini. Karena merasa cocok dan menjiwai dengan itu akhirnya berkembanglah hingga saat ini. Sedikit-demi sedikit lukisannya mulai dibenahi hingga ketemu gambar yang luar bisa dan bisa dibilang hidup. Ya maklum saja sebagai seorang pelukis otodidak dengan mengandalkan belajar dari sebuah kerja di Ubud dulunya, dia bisa menggelutinya hingga kini itu sebuah keahilan yang bisa dibilang maju.
Bahkan, dia mengaku semenjak kecil dia senang sekali akan benda-benda unik, mulai dari membuat patung dari tanah liat di rumahnya, kemudian menggambar namun karena orang tua kurang mengerti hingga akhirnya bakatnya tersebut sempat terbengkalai. Renspon terhadap lukisannya ini dari tamu mulai dari tahun 2004 dimana dia saat itu sudah mulai menitipkan di galery-galery yang cukup terkenal di Ubud dan sekitarnya. Setiap ada tamu yang datang, dirinya harus berangkat dari Bangli ke Ubud dan menurutnya, itu melelahkan maka mulailah dia mengerjakan di rumah sendiri.
Mengenai tamu bisnis langganannya sendiri dia juga sudah memiliki dan bahkan saat ini ada dari Singapura, Australia, Malaysia dan juga ada Dari Jakarta. Mereka biasanya langsung memesan lewat e-mail, maupun menelpon dan bahkan datang langsung ke kendiamannya di Umbalan.
Beli Lukisannya Tergantung Jodoh
Ditanya mengenai harga yang ditawarkan kepada tamunya, dia mengatakan tidak pernah mematok harga khusus. Walaupun ada dasar harga yang ditawarkan itu memang harus, sebagai rabaan dari calon pembeli nantinya. “Misalnya saja patokan harganya 5 juta rupiah namun pembelinya sudah ngebet dan sangat menyukai barang tersebut, sayangnya dana yang dimiliki setengah dari itu atau bahkan kurang, saya bisa toleransi,” katanya. Hal ini dilakukannya karena dia mengaku bukanlah pebisnis murni melainkan seniman, lain halnya dengan galery-galery lainnya yang murni bisnis mungkin jika ada tawaran harga hanya 10 % nya saja. Jika memang tidak berjodoh berapapun ditawar kerkadang urung untuk dilepasnya.
Dibantu Keluarga
Menurutnya, dalam melukis tidak bisa dilakukan seperti menulis atau melakukan kebiaasan lainnya. Namun, memerlukan sebuah ketenangan dan kondisi damai dalam hati. Makanya, walaupun ada order terkadang dia tinggalkan begitu saja untuk melepas kepenatan baik dengan memancing atau melakukan hal positif lainnya.
Saat ini melukis juga dibantu anak dan istrinya. Dan bahkan anak-anaknya yang masih duduk di bangku SD sudah bisa melukis bunga tanpa mesti dibantu. Mengenai kendala yang dihadapi tentu saja ada. Dia mengaku kendala terbesarnya adalah promosi ke luar negeri. Dia juga berharap ada dana bantuan atau pemerintah yang mengajaknya lagi untuk memamerkan lukisannya di luar negeri.
Namun, dia juga sangat berterima kasih sekali dengan Pemda Bangli khususnya Disperindag Bangli dalam kaitannya memperhatikan seniman dan pedagang yang ada di Bangli yang menurutnya mulai bangkit dan diperhatikan. “ Jika tidak ada Pak Dewa ( menyebut Dewa Suparta kadis Peridag-red) mungkin lukisan ini masih seperti dulu lakunya hanya satu dua saja tanpa ada perkemabangan yang berarti,” ujar pasangan Mangku Nyoman Dadi dan Nyoman Panci ini. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada Dekranasda Bangli yang juga membantu kompresor beberapa hari lalu. Untuk saat ini dia juga sedang mengerjakan sebuah galery di rumahnya dengan nama Mamiyo Art.* Krista
Banyak Makhluk Gaib Makin Besar
Fenomena batu makin membesar memang cukup aneh namun ini benar adanya. Dimana batu yang makin mebesar ini kiriman dari alam gaib sebagai istana dari makhluk gaib dengan tujuan tertentu dan kebanyakan penghuninya adalah rencang anak-anak
Ulasan berikut ini mungkin bias dikatakan tidak masuk akal dan bahkan bagi mereka yang benar-benar tidak paham akan menyebutnya sebagai sensai belaka. Namun kami akan menjelaskan sedetail mungkin. Dimana ada batu hidup dan mampu membesar. Aneh bukan ? namun ini kenyataan adanya. Cerita ini awalnya ketika wartawan TBA bertandang (yang jelas tujuannya liputan) ke daerah di karangasem. Namun dari hasil investigasi yang dilakukan kemudian ada yang menyebut ada batu yang makin lama makin membesar dan bahkan disampingnya tumbuh lagi batu-batu yang lainnya. Penulis kali ini tidak menceritakan pengalaman orang itu.
Berikut adalah pengalaman seseorang yang bernama Made Wija, (46) asal Gerokgak, Buleleng yang sempat mengetahui ada sebuah batu tumbuh dan membesar. Berikut diceritakan pada TBA. Saat itu, semasih remaja dulu, kerap kali bermain kerumah temannya yan cukup jauh dari kediamannya. Setiap pulang dari rumah temannya tersebut selalu malam dan harus melewati setra Desa Adat setempat. Awalnya memang tidak ada keanehan yang dialami. Namun sesampainya di rumah, pada suatu ketika, malamnya dia bermimpi sangat aneh. Dimana di samping pekuburan tersebut kemudian tumbuh sebuah batu yang makin lama akan membesar. Diapun di datangi oleh orang besar dengan badan berwarna kehitam-hitaman.
Orang besar tersebut menyebutkan batu tersebut adalah genah dari pada bhuta-bhuti dan juga para rerencang yang ada di setra tersebut. Dan jika sempat untuk setiap lewat diharapkan untuk menghaturkan rarapan dan sejenisnya. Nah kemudian, malam itu juga entah dari mana kekuatan dating keberaniannya muncul hingga akhirnya dia bangun dan pergi ke setra tersebut. Dan anehnya memang benar ada sebuah batu yang cukup besar. Besarnya sekitar, kata dia, sepeluk orang dewasa.
Batu tersebut berada tepat di bawah sebuah pohon kelapa gading. Sebagai masyarakat setempat tentunya dia terkejut melihat batu tersebut karena sebelumnya memang tidak ada. Jika dibilang ada manusia yang membawa tidak mungkin bisa membawa batu sebegitu besarnya. Bahkan jika diangkut oleh enam orang belum tentu bisa terangkat.
selengkapnya baca TBA edisi 5
Hardwar, INDIA, 16 Januari 2010: Di tepi Sungai Gangga, seorang pendeta duduk di depan api suci, sebuah keluarga berjongkok di sekelilingnya. Mata tertutup, mereka menuangkan ghee ke dalam api karena menunggu pukul 3:30 sore ketika gerhana matahari akan berakhir, berdoa untuk menebus matahari dari cengkeraman kegelapan. Annulus terakhir gerhana matahari di sebuah Kumbh Mela itu pada tahun 1914.
Meski pintu-pintu kuil tertutup untuk mengusir energi negatif dari gerhana matahari di Mauni Amavasaya, yang Ghats itu penuh dengan orang-orang yang datang ke Har-ki-Pauri, titik fokus dari mela, untuk mengambil saus suci. Tidak ada makanan, tidak ada air untuk setia selama periode gerhana yang dimulai di kota kuil di 11:58 dan terus sampai 3:12.
Ketika gerhana tiba, orang duduk di sepanjang Ghats, manik-manik di tangan mereka dan bernyanyi lembut. Hindu percaya bertobat kesalahan pada hari gerhana di salah satu tempat paling suci Tuhan Wisnu sendiri berjalan sekali (maka nama Har-ki-Pauri), akan mentahirkan mereka dari dosa.
Sementara pihak berwenang, dalam upaya untuk mempromosikan kota sebagai pusat pariwisata, telah menempatkan sebagian besar pengemis pengemis di rumah, pada hari Jumat sejumlah besar mereka berbaris di sepanjang Ghats. Hal ini dianggap menguntungkan untuk memberikan sedekah pada hari terjadinya gerhana. * sta/net
Komentar