Menengok Candi Prambanan, Yogyakarta, Jawa Tengah
Kemegahan Hindu di Zaman Dinasti Sanjaya
Kejayaan Hindu di Jawa, kini tinggal kenangan. Kemegahan Candi Prambanan menjadi saksi bisu yang pernah mencitrakan Hindu membumi di tanah Jawa. Nasib Candi Prambanan hanya sebatas monumen kaku dan bisu. Hanya meriah untuk pajangan wisatawan. Sedangkan untuk ritual, diperlukan ijin dan penjagaan ketat. Bahkan menjadi benda cagar budaya dunia, sehingga tidak bisa dimanfaatkan umat Hindu secara maksimal. Kini juga sedang dilakukan renovasi besar-besaran akibat goyangan gempa beberapa tahun lalu.
Pembaca setia, sekali-sekali, tidak salah Bali Aga menampilkan bagaimana kondisi candi milik umat Hindu di Jawa Tengah. Walaupun candi ini sangat tenar di Nusantara ini. Namun, kebetulan Bali Aga ada momen bagus untuk melihat secara langsung keberadaan Candi Prambanan ketika melakukan studi banding di Pemkot Yogyakarta bersama Humas Pemkab. Gianyar, setidaknya ada gambaran bagaimana hiruk-pikuk Candi Prambanan yang sedang dilakukan renovasi besar-besaran.
Candi Prambanan adalah Candi Umat Hindu yang sering disebut Candi Loro Jonggrang. Lokasinya ada di dua wilayah propinsi. Yakni, berada di posisi dua perbatasan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Propinsi Jawa Tengah. Secara geografis, dari Yogyakarta sekitar 17 km di sebelah timur Kota Yogyakarta, atau 53 km di sebelah barat Kota Solo.
Perjalanan dari Yogyakarta kurang lebih 30 menit, berada pada jalan utama yang sangat strategis dan lebar. Berada di jalur jalan raya Yogya-Solo. Karena termasuk wilayah dua propinsi, maka di bagian barat masuk wilayah Yogyakarta, sedangkan di bagian timur termasuk wilayah Jawa Tengah. Berdirinya candi ini di sebelah timur sungai Opak kurang lebih 200 meter di sebelah utara Jl. Raya Yogya-Solo.
Pantauan Bali Aga, candi ini menjadi sangat favorit bagi kunjungan wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Hanya saja, wisatawan domestik tampak mendominasi kunjungan. Sementara wisatawan mancanegara tidak begitu banyak. Hamparan luas wilayah ini, sehingga padatnya pengunjung tidak begitu kelihatan. Karena mereka ada terpencar, bahkan ada yang menaiki kendaraan khusus yang digunakan mengangkut pengunjung agar bisa menikmati pemandangan dengan leluasa dan cepat.
Kondisi cuaca, sedikit panas, terutama di siang hari. Panasnya terik matahari, warga pun memanfaatkan kondisi ini dengan menawarkan jasa payung. Juga pedagang, begitu padatnya. Berbagai asesoris yang menjadi cinderamata untuk pengunjung yang khas daerah Prambanan, atau Jawa tengahan. Seperti miniatur Candi Prambanan yang harganya tidak begitu mahal. Berbagai perhiasan kalung, cincin, dan segala cinderamata yang menawarkan harga bersaing untuk oleh-oleh.
Tidak kalah menariknya, dan ini sangat khas, tidak lengkap rasanya tanpa berpose di pelataran Candi Prambanan, khususnya bagi yang tidak berbekal kamera. Di sana sudah banyak Fotografer yang menawarkan jasanya dengan hasil langsung jadi dan kilat. Ini menjadi profesi warga di sana, dan memberikan kehidupan untuk dijadikan pekerjaan tetap. Untuk bisa menikmati panorama Candi Prambanan, diperlukan waktu cukup banyak. Karena banyaknya pelataran atau kompleks candi yang ada di sana. Begitu juga, menikmati candi satu-persatu diperlukan waktu cukup banyak.
Satu hal lagi, sekali-sekali, angin berhembus begitu kencang, sehingga membawa terbang debu atau pasir yang berada di natar atau pelataran candi. Karena, pelataran candi hanya bersaputkan pasir. Sementara di bagian luarnya, hamparan rumput hijau dan pepohonan sebagai perindang. Di sekliling kompleks candi, juga disuguhkan berbagai hiburan lain, ada binatang seperti kidang, menjangan. Begitu juga ada museum yang peminatnya tidak begitu banyak. Itulah sedikit situasi di seputaran Candi Prambanan yang amat megahnya.
selengkapnya baca TBA edisi 2




Komentar