Arsip

Archive for Februari, 2010

Bhisama Pande (2)

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Warga Pande Bertalian Erat dengan Warga Pasek

Gelar abhiseka sengaja dikemukakan agar warga Pande mengetahuinya, karena dalam babad-babad Pande gelar itu tidak pernah disebutkan. Warga Pande hendaknya mempergunakan gelar itu secara sadar, karena gelar itulah yang benar menurut sumber yang layak dipercaya.

Oleh karena itu gelar abhiseka itu mutlak harus disosialisasikan kepada seluruh warga Pande agar mereka lebih mendalami jati dirinya guna memperkuat tekad ngayah, sebagaiman yang dibhisama kepada Brahmana Dwala oleh Mpu Siwa Saguna.

Eratnya keterkaitan antara Penataran Ida Ratu Bagus Pande dan warga Pande dengan Pura Besakih dikemukakan pula oleh peneliti Prancis, Jean Francois Guerpmonprez dalam desertasi doktoralnya yang berjudul ”Les Pande De Bali” (1987) yang dikutipnya dari tulisan C.Hooykaas, seorang pakar sejarah dan budaya Bali asal Belanda. Berikut kutipan pendapatnya sebagaia berikut: tidak ada warga di Bali yang mempunyai tempat pemujaan yang jelas untuk menyembah leluhurnya yang suci pada pura penyembahan leluhur di Pura Besakih di kaki Gunung Agung, sebagaimana dimiliki oleh warga Pande. Juga tidak ada warga yang telah menyebarluaskan sejumlah naskah-naskahnya (maksudnya: babad-babad) mengenai diri mereka dan lelintihan atau silsilahnya seperti halnya dengan warga Pande. Bersama-sama dengan warga Pasek, mereka merupakan satu-satunya kelompok atau soroh yang menulis aturan-aturannya dalam bentuk buku (lontar), sebagaimana saya temui pada kunjungan saya ke Bali pada tahun 1959.

Apa yang kemukakan oleh C.Hooykaas yang dikutif Jean Francois Guerpmonprez tidaklah jauh berbeda dengan yang termuat dalam Raja Purana Pura Pasar Agung. Eratnya kaitan warga Pande dengan warga Pasek dengan Pura Besakih tersurat dengan jelas pada Raja Purana Pura Pasar Agung, yang juga merupakan kesatuan dengan Pura Besakih kendati letaknya berjauhan dengan Pura Besakih.

Dalam Raja Purana itu ditegaskan sebagai berikut: ”Sangkan apengaran Pasar Agung, mapan papasaran Bhatara kabeh saking Kadewatan. Dini sira manusa pada. Aja kita langgana ring Dewa, mangencak aci-aci, manguwugang Khayangan, kena kita sapadrawa Bhatara ring pucaking Gunung Agung, rusak kita wong Bali, sarang kos boros, sapi pada arang, kurang pangan kinum ira, masuduk kalawan rwang. Yan kita eling ring khayangan jagat kabeh, anyanyapuh balik sumpah maring khayangan, pada angelingin panembahan Ida Pada Sang Ratu ring Gunung Agung, muah kita punggawa, muah kita Pasek, kita Pande sane wenang ngelah panyembahan ring Besakih, stata tindih saking Majapahit sane ngutpeti linggih Ida Bhatara ring Gunung Agung, apang pada eling, aja ya pada predo kita wong Bali. Yannya predo, matemahan rusak, anging rusake meganti gumi, geledug, ktug, gejor sadina-dina, gunung uwug pacaloscos, gumi rengat dahata mapanes, sing tanur pada mati pasedsed, terak maka Bali, aharig pada mangemasin pejah. Ida Bhatara pada mantuk maring gunung Mahameru, norana Bhatara tumurun malingga maring khayangan, gumi tulus rusak, manusa tandruh maring dewa”.

(Mengapa bernama Pasar Agung, karena pura itu merupakan pasar para Dewata semua. Di pura itu semua manusia sama/sederajat. Janganlah kalian lupa kepada para Dewa, dengan menghentikan upacara-upacara, merusak kahyangan karena hal itu akan menyebabkan engkau mendapat marah dari Ida Bhatara di Gunung Agung, rusaklah semua wong Bali kalau berbuat begitu, dan kamu semua menjadi pemboros, sapi-sapi berkurang, kamu menjadi kurang makan dan minum, kamu akan berkelahi sesamamu. Kalau engkau ingat akan semua kahyangan jagat, selalu melakukan upacara malik sumpah pada kahyangan, semuanya ingat pada Bhatara Sesuhunan di Gunung Agung. Demikian pula para Punggawa (penguasa jaman dulu) engkau para Pasek, para Pande, yang berhak mempunyai pelinggih (parahyangan atau pura penataran) di Pura Besakih, karena selalu taat sejak semasih di Majapahit, engkaulah yang bertugas memelihara pelinggih-pelinggih Ida Bhatara di Gunung Agung. Engkau semuanya agar selalu ingat, janganlah hendaknya kamu bertengkar dengan sesamamu, semuanya akan menjadi rusak, akan tetapi kerusakan itu adalah bergantinya jaman (maksudnya: Bali dijajah ?) gempa bumi tidak berkeputusan setiap hari, gunung meletus tidak henti-hentinya, bumi belah karena panas yang tak tertahankan, atau hujan tidak berkeputusan, segala yang ditanam mati semuanya, Bali paceklik, kurus kering menunggu ajal. Akibatnya Ida Bhatara pergi dari Bali, kembali ke Gunung Mahameru, tidak akan ada lagi Ida, kembali ke Kahyangan, bumi Bali terus terusan rusak, manusia menyangsikan keagungan para Dewa. sumber : (Keputusan/Ketentuan Pesamuhan Agung IV Maha Semaya Warga Pande Prov. Bali)

Bhisama kedua

Tentang Ajaran Panca Bayu

Bermakna agar warga pande memahami ajaran Panca Bayu yang diajarkan oleh Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala pada pertemuan dan dialog imajiner mereka di Pura Indrakila. Panca Bayu adalah ajaran kekuatan yang sangat penting bagi mereka yang melakoni Dharma Kapandeyan. Panca Bayu juga sangat penting bagi pengendalian diri untuk mengenal fungsi-fungsi atau kekuatan anggota badan tertentu. Uraian beliau tentang Panca bayu kepada Brahma Dwala adalah sebagai berikut : ”Ndi hingaran Panca Bayu. Panca Bayu ngaran APANA, PRANA, SAMANA, UDHANA, BHYANA. Apana ngaran bayu saking weteng, mwang kakembungan, yatika jambangan. Prana ngaran bayu metu saking peparu, humili amarga lenging grana, yatika hububan, pinaka pamurungan. Samana ngaran bayu metu saking hati, ghni ring sarira. Udhana ngaran bayu saking siwadwara, yatika pinaka uyah. Bhyana ngaran bayu humili saking sarwa sandi pupulakna ring pupu, yatika pinaka landesan. Ndi kang pinaka palu-palu? Tapak tangan ta. Jariji kang pinaka sepit”. (mana yang dimakasud dengan Panca Bayu. Panca Bayu adalah apana, prana, samana, udhana dan bhyana. Apana adalah kekuatan dari perut atau juga disebut tempat air. Prana adalah kekuatan dari paru-paru berada ditengah tengah dada, yang berfungsi sebagai pengububan yang mengeluarkan udara yang berfungsi untuk menghidupkan api dalam pekerjaan memande. Samana adalah kekuatan yang keluardari hati, adalah api yang bertempat dalam badan manusia. Udhana adalah kekuatan dari siwadwara, itulah ibarat garam. Bhyana adalah kekuatan gaib, yang memeberi kekuatan kepada paha yang berfungsi sebagai landesan atau paron. Lantas yang manakah berfungsi sebagai palu? Adalah tanganmu. Jerijimu berfungsi sebagai sepit). *

Kategori:Bhisama

Pujawali Pura Pingit Klenting Sari, Pulau Menjangan, Buleleng

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Nuansa Mistis  Dimeriahkan Sasolahan  Sakral


Karya Pujawali di Pura  Agung Pingit Klenting Sari, Pulau Menjangan, Gerokgak, Buleleng yang sedianya dilaksanakan setiap Purnama Kapitu ini, benar-benar berbeda dari perayaan pujawali sebelumnya. Pasalnya, ribuan umat dari berbagai daerah tangkil ngaturang ayah di pura ini. Di samping itu, sejumlah pamedek juga berkesempatan ngaturang berbagai sasolahan berupa kesenian gamelan maupun tari. Sehingga suasana pujawali tampak mistis. Seperti apa pelaksanaannya? Berikut liputannya.

Karya pujawali itu telah dilaksanakan sejak tanggal (30/12) yang lalu dan Ida Bhatara nyejer hingga tanggal (11/01). Karya piodalan itu diawali melaksanakan upacara pecaruan di sejumlah tempat yang ada di areal pura bersangkutan.

Tepat tanggal 31 Desember 2009 yang lalu, dilaksanakan piodalan di Pura Agung Pingit.

Diawali dari Pura Taman/Pura Beji, kemudian di Pendopo Ida Bhatara Lingsir Kebo Iwa, Dewi Kwan Im, di Pendopo Ida Bhatara Lingsir Dalem Gajah Mada dan di Palinggih Ida Bhatara Lingsir Watu Renggong, serta di Pura Utama sebagai stananya Hyang Pasupati.

Ratu Prabu pendiri sekaligus pangempon pura mengatakan, setiap kali dilaksanakan karya pujawali, jumlah pamedek kian tahun semakin membludak serta pamedek yang ngaturang ayah dan sasolahan maupun kesenian semakin tinggi.

Lebih lanjut dikatakan, dalam melayani pamedek Ratu Prabu mengaku tidak pernah membedakan, terlebih memberikan pelayanan istimewa, satu dengan yang lainnya. Ratu Prabu  menambahkan, selalu berprinsip semua pamedek yang datang adalah semuanya sama di hadapan Beliau.

selengkapnya baca edisi 2

Kategori:Tenget

Menengok Candi Prambanan, Yogyakarta, Jawa Tengah

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Kemegahan Hindu di Zaman Dinasti Sanjaya


Kejayaan Hindu di Jawa, kini tinggal kenangan. Kemegahan Candi Prambanan menjadi saksi bisu yang pernah mencitrakan Hindu membumi di tanah Jawa. Nasib Candi Prambanan hanya sebatas monumen kaku dan bisu. Hanya meriah untuk pajangan wisatawan. Sedangkan untuk ritual, diperlukan ijin dan penjagaan ketat. Bahkan menjadi benda cagar budaya dunia, sehingga tidak bisa dimanfaatkan umat Hindu secara maksimal. Kini juga sedang dilakukan renovasi besar-besaran akibat goyangan gempa beberapa tahun lalu.

Pembaca  setia, sekali-sekali, tidak salah Bali Aga menampilkan bagaimana kondisi candi milik umat Hindu di Jawa Tengah. Walaupun candi ini sangat tenar di Nusantara ini. Namun, kebetulan Bali Aga ada momen bagus untuk melihat secara langsung keberadaan Candi Prambanan ketika melakukan  studi banding di Pemkot Yogyakarta bersama Humas Pemkab. Gianyar,  setidaknya ada gambaran bagaimana hiruk-pikuk Candi Prambanan yang sedang dilakukan renovasi besar-besaran.

Candi Prambanan adalah Candi Umat Hindu yang sering disebut Candi Loro Jonggrang. Lokasinya ada di dua wilayah propinsi. Yakni, berada di posisi dua perbatasan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Propinsi Jawa Tengah. Secara geografis, dari Yogyakarta sekitar 17 km di sebelah timur Kota Yogyakarta,  atau 53 km di sebelah barat Kota Solo.

Perjalanan dari Yogyakarta kurang lebih 30 menit, berada pada jalan utama yang sangat strategis dan lebar. Berada di jalur jalan raya Yogya-Solo. Karena termasuk wilayah dua propinsi, maka di bagian barat  masuk wilayah Yogyakarta, sedangkan di bagian timur termasuk wilayah Jawa Tengah. Berdirinya candi ini di sebelah timur sungai Opak kurang lebih  200 meter di sebelah utara Jl. Raya Yogya-Solo.

Pantauan Bali Aga, candi ini menjadi sangat favorit bagi kunjungan wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Hanya saja, wisatawan domestik tampak mendominasi kunjungan. Sementara wisatawan mancanegara tidak begitu banyak. Hamparan luas wilayah ini, sehingga padatnya pengunjung tidak begitu kelihatan. Karena mereka ada terpencar, bahkan ada yang menaiki kendaraan khusus yang digunakan mengangkut pengunjung agar bisa menikmati pemandangan dengan leluasa dan cepat.

Kondisi cuaca, sedikit panas, terutama di siang hari. Panasnya terik matahari, warga pun memanfaatkan kondisi ini dengan menawarkan jasa payung. Juga pedagang, begitu padatnya. Berbagai asesoris yang menjadi cinderamata untuk pengunjung yang khas daerah Prambanan, atau Jawa tengahan. Seperti miniatur Candi Prambanan yang harganya tidak begitu mahal. Berbagai perhiasan kalung, cincin, dan segala cinderamata yang menawarkan harga bersaing untuk oleh-oleh.

Tidak kalah menariknya, dan ini sangat khas, tidak lengkap rasanya tanpa berpose di pelataran Candi Prambanan, khususnya bagi yang tidak berbekal kamera. Di sana sudah banyak Fotografer yang menawarkan jasanya dengan hasil langsung jadi dan kilat. Ini menjadi profesi warga di sana, dan memberikan kehidupan untuk dijadikan pekerjaan tetap. Untuk bisa menikmati panorama Candi Prambanan, diperlukan waktu cukup banyak. Karena banyaknya pelataran atau kompleks candi yang ada di sana. Begitu juga, menikmati candi satu-persatu diperlukan waktu cukup banyak.

Satu hal lagi, sekali-sekali, angin berhembus begitu kencang, sehingga membawa terbang debu atau pasir yang berada di natar atau pelataran candi. Karena, pelataran candi hanya bersaputkan pasir. Sementara di bagian luarnya, hamparan rumput hijau dan pepohonan sebagai perindang.  Di sekliling kompleks candi, juga disuguhkan berbagai hiburan lain, ada binatang seperti kidang, menjangan. Begitu juga ada museum yang peminatnya tidak begitu banyak.  Itulah sedikit situasi di seputaran Candi Prambanan yang amat megahnya.

selengkapnya baca TBA edisi 2

Kategori:Tirtayarta

Misteri Karang “Tusuk Sate”

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Pancarkan Aura Negatif, Seret Rejeki

Ingin hidup tenang, bahagia di dalam rumah, satu-satunya solusi hindari rumah dalam bentuk karang atau paumahan tusuk sate. Pasalnya, resikonya cukup merepotkan, karena bikin sakit-sakitan, rejeki seret dan dampak niskala lainnya.

Bagi krama Bali, banyak perihal  gaib atau sisi niskala yang mesti diperhitungkan ketika akan membangun rumah. Pasalnya, secara tradisi, krama Bali telah diberikan tuntunan untuk membangun rumah. Dari awal, telah diberikan tuntunan untuk mencari hari baik. di samping itu, juga didasarkan atas anggah-ungguh agar tidak selalu menjadi leteh. Karenanya, krama Bali sangat telaten kalau ingin mewujudkan rumah yang harmonis secara sekala-niskala.

Dari awal, pemilihan lahan atau lokasi mesti menjadi pertimbangan matang, walau banyak uang, tidak tergesa-gesa membeli tanah dengan letak yang strategis. Pelajari juga sejarah, karakter tanah itu sendiri. Apalagi orang Bali sangat rentan dengan kondisi tanah yang diyakini memberikan bala atau leteh. Di antara pilihan tersebut, salah satu bentuk atau posisi rumah jangan sampai ada rumah yang sering disebut karang atau umah tusuk sate.

Demikian dikatakan balian asal Denpasar bernama Jro Ana kepada Bali Aga seputar pandangan bagaimana bahayanya karang tusuk sate. Dikatakan lebih lanjut, seperti apa rumah tusuk sate tersebut, tentu dikaji dari bentuknya, posisi bangunan serta kondisi yang menghinggapi rumah tersebut.

Karang tusuk sate, kata balian  ngiringan ini, adalah karang atau rumahnya dalam kondisi los. Bangunan melempeng (lurus) tidak menyesuaikan anggah-ungguh sastra seperti yang telah dijabarkan dalam asta kosala-kosali. “Kalau bikin rumah, jangan abai dengan sastra. Karena rentan dengan godaan makhluk gaib,” katanya mengingatkan.  Bila rumah sudah dalam bentuk tusuk sate, jangan harap penghuninya rukun, pasti akan terjadi berbagai godaan yang sifatnya mengganggu.

Banyak godaan yang akan diderita bagi orang yang rumahnya dalam kondisi tusuk sate. Dijelaskan lebih detail, rumah tusuk sate itu baik bangunan maupun lokasi lurus, seperti katik sate yang menusuk mangsanya. “Los, lempeng, pokoknya bagaimana posisi tusuk sate, seperti itulah posisi rumah yang disebut tusuk sate,” tuturnya memberikan gambaran. Ini artinya, boleh saja hari baik sudah dilakukan, caru, mlaspas, mamakuh dan ritual lainnya sudah dilakukan. Tapi tetap saja rumah itu agak panas, tenget dan diyakini dihuni makhluk halus.

Jro Dasaran juga memberikan contoh, ada seorang krama yang memiliki rumah, posisinya los di Denpasar Timur, lempeng dari arah jalan masuk ke rumah. Sehingga, apa yang terjadi, mereka tidak berani menghuni rumah tersebut. Ada saja godaan yang mengusik ketenangan penghuninya. Beruntung orang itu punya dua rumah, dan sedikit lebih mampu. Sehingga, rumahnya itu hanya ditengok sekali-sekali saja kalau perlu.

Dikatakan lebih jauh, rumah yang posisinya tusuk sate, sudah jelas akan mengurangi ketenangan, rejeki jauh bahkan makin seret, sakit-sakitan, sering diganggu orang-orang yang tidak jelas asal-usulnya. Dengan kondisi seperti itu, jelas pemilik rumah tidak akan nyaman, bahkan tidak berani menghuninya. Dengan kondisi yang rawan niskala ini, sebaiknya pahami dulu seperti apa karang tusuk sate tersebut. Bagaimana pun, rumah yang posisinya tusuk sate seperti perlu dipelihara dengan upakara, kalau tidak mau repot dengan ritual, bisa saja dirubah bentuknya, atau tangkal dengan sebuah palinggih, dengan catatan, rajin-rajin memeliharanya secara sekala dan niskala. *** patra

Tangkal dengan Ritual

Jro Dasaran  menyarankan, kalau ingin nyaman dan tidak dihantui perasaan takut, bisa saja dilakukan dengan upaya niskala. Tentu dilakukan ritual dalam palinggih yang ada di dalam rumah. Untuk itu, setiap Kajeng Kliwon, usahakan mengahturkan tipat kelan, atau tipat dampulan.

selengkapnya baca edisi 2

Kategori:Utama

IB Mangku Komang Gede

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Balian Tenung Sejak Belia


IB Aji Mangku salah seorang Balian tenung asal Klungkung. Dia mengaku mengetahui masa depan sejak usia belia saat ada orang aneh mengajaknya pergi ke Nusa Gede. Selain itu juga dia mampu meramal nasib orang dan juga mencari lelintihan

Kodrat, sekali lagi kata ini disebut-sebut ketika apa yang dilakukan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan sebelumnya. Seorang Penekun Spiritual sebagai tukang tenung yang bernama Ida Bagus Mangku Komang Gede yang tinggal di Desa Kamasan, Klungkung. Awalnya kedatangan TBA ke kediamannya yang tepat berada di belakang dari pada pasar Desa kamasan, adalah untuk meminta informasi mengenai sejarah dari sebuah Pura penting yang ada di wilayah ini juga.

Namun rupa-rupanya nasib baik menimpa Tba saat itu, bukan uang melainkan data yang lebih bahkan melebihi dari yang diharapkan. Selain mendapatkan berita mengenai Pura yang dimagsug namun juga, Pria berjanggut putih ini yang juga selaku mangku di Pura dangkahyangan Dalem Gandamayu. Juga bisa dibilang seorang Balian yang tenar keberbagai wilayah Bali sejak puluhan tahun silam. Sebenarnya dulu, salah seorang wartawan TBA lainnya, juga sempat menjadikan pria ini menjadi salah satu sumber akurat dengan data yang valid sesuai dengan sastra yang ada.

Kala itu, TBA datang kekediamannya, tampak sepasang suami istri bersama dengan anaknya sedang sibuk berkonsultasi dengan Gus Aji Mangku, begitu panggilan akrab bapak 63 tahun ini. Sambil menunggu orang yang memohon bantuan kepadanya lengkap dengan pejati disampingnya, tampaknya baru selesai melakukan sebuah persembahyangan atau hal lainnya, karena TBA tidak berani menginterpensi lebih jauh lagi urusan pribadi orang. Selanjutnya, berselang 10 menit kemudian TBA dipersilahkan duduk dan langsung menyodorkan pertanyaan pokok mengenai keberadaan pura yang ingin dicari.

Setelah sekian lama berbicang, TBA berusaha mengorek keterangan apa yang dilakukan orang tadi dan membawa banten pejati segala. Untungnya bapak 2 anak ini tidak tersinggung dan malah ingin membantu apa yang ingin ditanyakan. Dia mengatakan,  krama tersebut datang untuk menanyakan keberadaan penghidupan masa depannya. (memang sebelumnya juga sempat Jro Mangku Pura Seganing memberitahukan IB Mangku merupakan seorang Balian tenung, hingga akhirnya keterangannya pun bisa didapatkan).

Lidik punya lidik, dia pun menceritakan pengalamannya yang dilaluinya begitu pahit sejak kecil. Dia mengaku tidak mendapatkan pendidikan formal sejak kecil. Sebagai seorang anak desa, dia pun selalu mengikuti kegiatan orang tuanya di griya. Hingga pada akhirnya dia pun mengalami hal yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Dia mengaku mengetahui dan dapat berhubungan dengan leluhur orang lain. Selain itu juga dia mampu meneropong apa yang akan terjadi pada kehidupan di dunia ini. Hingga pada akhirnya diapun ngiring di Pura Dalem Gandamayu, Klungkung. Dan setelah didalami, kekuatan bhatin yang dimilikinya bisa dibilang semakin kuat saja. Dari pengakuannya, dia melihat sesuatu yang bisa dibilang masih bayangan untuk kedepannya. “Ini tiang ketahui berhat Ida Hyang Widhi Wasa,” ujar Gus Aji Mangku.

selengkapnya baca edisi 2

Kategori:Kisah

Permata Anugerah Bhatari Dewi Danu

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Cincin Sakti Anugerah Hyang Panji Bharatan kepada Panji Sakti

Kisah ini diawali dari kerajaan Gelgel saat kepemerintahan Dalem Sagening. Kala itu adalah seorang Panglima yang sangat sakti dan dihandalkan oleh raja Dalem Sagening, Sang Panglima bernama I Gusti Ngurah Jelantik, beliau bertempat di Puri Jelantik Swecalinggarsapura, Kapatihan tempat beliau ini tidaklah jauh dari istana sang raja Gelgel.

Di karang kapatihan I Gusti Ngurah Jelantik, adalah seorang pelayan yang memiliki tanda magis (melik) semenjak dilahirkan. Pelayan ini bernama Ni Pasek Gobleg, asalnya dari daerah Gobleg Denbukit (Buleleng). Keistimewaan sekaligus keanehan dari Ni Pasek Gobleg akan terlihat apabila ia sedang kencing, dimana tempat dimana ia membuang air akan berlobang sedalam siku tangan. Suatu hari keanehan ini dilihat oleh I Gusti Ngurah Jelantik, beliau sangat terkesima melihat keanehan tersebut. I Gusti Ngurah Jelantik lalu teringat akan sebuah lontar yang membicarakan tentang keajaiban wanita yang akan melahirkan anak-anak utama. Menyadari adanya salah satu kriteria istri utama dalam diri Ni Pasek Gobleg, I Gusti Ngurah Jelantik lalu memperistrinya.

Dari Ni Pasek Gobleg lahirlah seorang anak yang kemudian dinamakan dengan nama I Gusti Pasekan. Anak kecil ini ternyata memiliki tanda-tanda kelahiran luarbiasa. Apabila malam ubun-ubunnya dapat mengeluarkan sinar lembut dan lidah I Gusti Pasekan berbulu-bulu halus. Rupanya keajaiban anak ini membuat Sang Permaisuri Ni Gusti Ayu Brangsinga menjadi sangat khawatir, jangan-jangan kekuasaan atas karang kepatihan yang menjadi hak dari Putra Mahkota Kapatihan kelak akan direbut oleh I Gusti Kapasekan. Menyadari kecurigaan dan kekhawatiran permaisuri, I Gusti Ngurah Jelantik meyakinkan permaisuri bahwa hal itu tidak akan terjadi, putra mahkota kapatihan akan tetap menjadi penerus kapatihannya di Gelgel.

I Gusti Ngurah Jelantik berkeyakinan bahwa anak ini (I Gusti Kapasekan) kelak akan menjadi penguasa besar dimanapun ia di tempatkan. menyadari situasi yang kelak di kemudian hari bisa saja memanas lantaran perebutan kekuasaan kapatihan, Sang Patih Ngurah Jelantik memilih untuk memisahkan I Gusti Kapasekan dari Karang Kapatihan Gelgel. Ia lalu mengutus seorang utusan untuk mengundang keluarga Ni Pasek Gobleg datang ke Karang Kapatihan.

Berselang beberapa hari, datanglah saudara mindon dari Ni Pasek Gobleg yang bernama I Wayahan Pasek dari desa Panji Den Bukit. I Gusti Ngurah Jelantik lalu meminta agar I Wayahan Pasekan membawa I Gusti Pasekan beserta ibunya untuk pulang kembali ke Desa Panji Ler Bukit, Beliau juga meminta agar I Gusti Pasekan di Dusun Panji dihormati sebagaimana layaknya anak seorang patih. Tidak hanya itu, I Gusti Ngurah Jelantik juga memberikan dua buah pusaka kepada I Gusti Ngurah Pasekan yang kala itu masih berusia muda belia sebagai bukti akan trah kapatihannya. Kedua buah senjata itu adalah senjata sakti dan bertuah berupa sebilah keris dan sebuah tulup. Keris tersebut bernama Ki Semang sedangkan tulup saktinya bernama Ki Tunjung Tutur.

Merasa di pisahkan dari ayahnya, I Gusti Pasekan merasa sangat sedih, ia merasa sepi, bagaimana tidak, teman-teman sepermainannya tidak akan lagi dapat diajaknya bermain-main. I Gusti Pasekan sungguh merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Dalam kesedihannya, ia mendengar ada suara yang muncul dari bilah kerisnya dan berkata ‘jangan ragu untuk pergi ke Den Bukit, di sana kau ditunggu oleh takdirmu, aku akan menemanimu selalu’. I Gusti Pasekan yang kala itu berumur lebih kurang dua belas tahun sungguh terkejut, ia merasa terheran-heran, bilah keris yang di bekali oleh ayahnya ternyata dapat berbicara seperti layaknya manusia, mulai saat itu hatinya mantap untuk meninggalkan Gelgel menuju Desa Panji di Ler Bukit. kini dengan mantap I Gusti Pasekan berjalan dengan tegap menjemput takdir agungnya ke Ler Bukit. Ia disertai oleh empat puluh orang pengawal dan dua orang pengasuh handal bernama Ki Dumpyung dan Ki Dosot. ***IB Aryana

Kategori:Mitos

Ratusan Ribu Peninggalan Majapahit Ditemukan

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Mungkin Bangunan Candi Mataram Kuno

Ekskavasi tahap ketiga situs Majapahit dalam proyek pembangunan Pusat Informasi Majapahit atau PIM yang sekarang berganti nama jadi Neo PIM di Situs Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jatim, yang berlangsung sejak 10 November.

Ketua tim evaluasi PIM, Prof. Mundardjito mengatakan, total ditemukan 150.000 fragmen dan tidak kurang 60.000 keping uang logam dari China selama ekskavasi yang dilakukan dalam tiga tahap itu.
Menurut Mundardjito, banyaknya temuan dengan jenis yang beragam itu semakin mensahihkan hipotesis awal ahwa kawasan yang saat ini sedang digali adalah pusat kota Majapahit. Adapun temuan uang kuno dari China membutktikan bahwa pada masa itu telah terjalin pula hubungan dagangan dan diplomatik antara kedua negara yang sangat serius.Selain itu, membuktikan pula ada sistem moneter yang terbangun. Masyarakat gemar menambung, ujar Mundardjito sembari menunjukkan gambar temuan sejumlah bentuk celengan.

Tim Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta memastikan, situs yang ditemukan di kawasan kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Jalan Kaliurang Yogyakarta merupakan bangunan candi, bukan petirtaan atau pemandian.

“Namun demikian, tim BP3 Yogyakarta belum bisa memastikan candi dari agama apa atau tahun berdirinya, karena petunjuk penting lainnya seperti arca belum ditemukan,” kata Kepala Tim Pemugaran BP3 Yogyakarta Budhy Sancoyo di Yogyakarta, Senin (21/12).  Penggalian pada hari kedua ini tim berhasil menggali pagar utama pada candi tersebut. Lebar tutup pagar 50 cm dengan luas halaman utama 6×6 meter dan pintu masuk berukuran 60 cm. “Hal itu agak berbeda dengan temuan di luar pagar pintu utama yang diperkirakan pusat peradaban yang hanya mempunyai lebar tutup 38 cm,” katanya. Di pagar candi utama di ujung sebelah barat ditemukan antefik atau segitiga ganda sebagai hiasan sudut yang sama dengan antefik yang ditemukan di pagar yang berjarak tujuh meter dari pagar utama.*

Situs Candi Kuno Di Kompleks UII Adalah Candi Hindu

Penggalian situs candi kuno yang ditemukan di kompleks kampus Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, terus dilakukan. Beberapa bagian bangunan yang menandakan adanya candi Siwa mulai ditemukan. Apa saja?

Anggota tim ekskavasi dari Balai Pelestarian Peninggalan Pubakala (BP3) Yogyakarta terus menggali tanah di tempat ditemukannya candi kuno, kompleks kampus Universitas Islam Indonesia (UII), Jalan Kaliurang, Sleman. Mereka bekerja secara manual. Peralatan yang mereka gunakan juga sederhana, seperti cangkul, cethok, dan penatah dari kayu. Alat-alat itu digunakan untuk mencegah rusaknya ornamen dan bangunan candi dari benturan benda keras dan alat berat.

Beberapa hari terakhir ini ada benda yang mendapat perhatian khusus. Yakni, arca kepala Ganesha. Ya, tim penggali menemukan arca yang relatif utuh itu di area C1 kotak peta grit (lubang uji) berukuran 2×2 meter persegi.  Arca Ganesha menghadap ke barat, tepat berhadapan dengan tembok candi. ”Ini termasuk temuan baru. Di candi Hindu yang sering ditemukan, arca Ganesha berada di luar pagar sebagai penjaga pintu masuk. Tapi, ini di dalam. Ini yang menyebabkan ilmu arkeologi itu tidak bisa dipastikan. Tentang bagaimana pemikiran nenek moyang kita dulu yang berbeda-beda dalam menentukan letak candi,” tutur Kepala Kelompok Kerja Pemugaran BP 3 Jogjakarta Budhy Sancoyo yang juga koordinator ekskavasi.

Bukan hanya itu. Dilihat dari empat antefiks (sudut candi) yang ditemukan lebih dulu, arah candi diketahui tidak sesuai pakem. Menurut Budhy, konsep candi Hindu biasanya menghadap ke timur atau barat. Tapi, candi yang sementara diberi nama Candi Kimpulan -sesuai nama dusun lokasi ditemukannya candi- itu menghadap tidak persis ke timur. Persisnya serong 343 derajat dari arah utara magnet. ”Peta grit ini dibuat sesuai arah utara magnet. Makanya pagar candinya tampak serong,” ujar seorang petugas ekskavasi yang lain.

Dilihat dari empat antefiks, bangunan candi diperkirakan berukuran 6×6 meter persegi. Namun, luas total area candi belum diketahui. Sementara tim baru bisa menggambarkan jarak pagar langkan dengan pagar luar 6,5 meter. Yakni, pagar yang berada di area F dan di situ juga telah ditemukan pintu selebar 60 cm. Sama dengan pintu candi yang letaknya sejajar ke dalam di area A1.

Sambil terus mengamati anggota timnya menggali, Budhy menerangkan soal mitologi candi Hindu. Jika memang candi tersebut untuk pemuja Siwa, akan ditemukan tiga arca lain. Yakni, arca Siwa, Durga, dan Agastya.

Letak Arca Siwa saling membelakangi atau menghadap ke timur dan segaris dengan arca Ganesha. Sedangkan Durga dan Agastya mengapit Siwa di kiri dan kanan. Dugaan arkeolog BP3 itu terbukti benar. Tak lama kemudian, dua orang anggota tim ekskavasi menemukan batu menyerupai ujung Lingga yang berjarak sekitar 85 cm dari arca Ganesha. ”Biasanya, di bagian bawah lingga ada Yoni,” jelasnya. Lingga dan Yoni adalah simbolisasi dari Siwa.

Jika ditarik garis lurus diagonal dari antefiks, Lingga terletak persis di tengah-tengah candi. Yakni, di lubang B1. Untuk mengetahui lebih dalam soal temuan arca dan Lingga, tim BP3 selanjutnya akan memfokuskan pada pencarian arca lain. ”Demi keamanan, sementara arca akan dipindahkan sekaligus untuk penelitian,” kata Budhy.  Kendati belum tahu pasti kapan candi tersebut dibangun, Budhy memperkirakan sekitar abad IX atau X Masehi. Setidaknya, untuk mengetahui usia candi, tim ekskavasi melibatkan aktivis geologi dari UGM.

Asrizal, salah seorang anggota tim geologi, mengatakan bahwa selama dua minggu dirinya dan kedua temannya bertugas meneliti sampel tanah yang menimbun bangunan candi di lokasi yang sebenarnya akan didirikan perpustakaan terpadu UII itu. ”Tanah digali per split. Dari tiap split itulah tanah kami teliti. Dari penelitian bisa diketahui kapan saat bangunan ini tertimbun tanah,” ujarnya.

Melihat struktur timbunan berupa batuan andesit, Asrizal menduga timbunan tanah berasal dari lahar Gunung Merapi. Dugaan itu diperkuat dengan adanya aliran sungai di dekat lokasi penemuan candi. ”Sangat mungkin lahar terbawa arus sungai ke lokasi ini,” terangnya. Data yang dikumpulkan tim geologi pada prinsipnya hanya mendukung data arkeologi. Rektor UII Edy Suandi Hamid juga sempat menyaksikan penggalian. Dia mengatakan, jika candi tersebut memiliki nilai historis tinggi, perpustakaan akan direlokasi. ”Siapa tahu ini bisa menjadi laboratorium jika UII membuka fakultas arkeologi,” katanya. Candi yang letaknya sekitar 50 meter dari masjid kampus UII itu, terang Edy, tidak menjadi masalah. ”UII terbuka. Hal ini bukan konteks agama, tapi nilai histori dan budaya,” imbuhnya. (berbagai sumber)

selebihnya baca TBA edisi 2

Kategori:Mitos

Sire Mpu Darma Kumala

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Titah Bhisama yang Sakral

Jro Mangku Dalang Made Sudjana dan istrinya Komang Sri Moertini kini telah tiada yang mana beliu dilahirkan kembali menjadi seorang Mpu Pande. Dengan keteguhannya menjalankan ajaran dharma hingga akhirnya berdasarkan suratan titah dari Ida Bhatara Kawitan dengan Bhisama Pande yang sakral Ida pun melaksanakan padiksan dengan dukungan penuh warga Pande

Meningkatnya status seseorang ke jenjang yang lebih tinggi (sulinggih) tentunya merupakan sebuah kebanggaan dan sebenarnya dalam aturan weda hal ini semestinya dilakoni oleh seluruh umat Hindu dalam menjalankan Dharma. Hal ini diungkapkan oleh Sire Mpu Darma Kumala, seorang sulinggih baru, keturunan warga Pande yang saat ini tinggal di Griya Taman Ganda Sari, Galiran, Klungkung. Namun sebenarnya, rumah tinggal aslinya adalah di Kamasan (tanah kelahirannya) karena dari awalnya sudah tinggal di sini, Ida mengatakan akan menetap di Griya Ganda Sari. Bagaimana sebenarnya ceritanya bisa ada keinginan malinggih? Ikuti pemaparannya berikut ini.

Intinya Mpu yang saat ini berusia 59 tahun mengatakan, malinggih didasarkan pada titah dari Bhisama Ida Bhatara Kawitan Pande. Dalam bhisama tersebut dinyatakan, setiap warga Pande hendaknya melaksanakan runtutan dharma yang terakhir yakni melaksanakan padwijatian untuk menyucikan diri. Dengan berpegangan kuat pada dasar itulah Sire Mpu pande dengan dukungan keluarga dan juga warga pande apanti hingga akhirnya mampu mewujudkan mimpi sucinya ini. Hingga pada akhirnya waktu yang ditunggu-tunggupun datang.

Upacara pedwijatian atau mediksa untuk menjadikan seorang Sira Empu dilaksanakan oleh pengempon Pura Penataran Pande Kamasan, Desa Kamasan, Klungkung senin (21/12). Upacara pedwijatian terhadap Jro Mangku Dalang Made Sudjana dan istrinya Komang Sri Moertini ini diselenggarakan di Pura setempat dan dihadiri oleh Ketua Mahasemaya Warga Pande Provinsi Bali Kompyang Wisastra Pande, PHDI Provinsi Bali, PHDI Kabupaten Klungkung serta masyarakat setempat. Pedwijatian ini dilaksanakan berdasarkan hasil paruman warga pande beberapa waktu yang lalu.

Menurut Ketua Panitia Wayan Sudiartha didampingi Kelian Pura setempat Made Sudiarta, rangkaian pelaksanaan pedwijatian telah dilaksanaklan sejak 25 Nopember yang lalu dengan menggelar upacara Diksa Pariksa dan Upacara Sudha Bumi pada 1 Desember. Kegiatan selanjutnya dilaksanakan minggu (20/12) yang lalu dengan melaksanakan upacara Amati Raga untuk menyucikan diri serta dilanjutnya dengan puncak upacara pedwijatian di Pura Penataran Pande Kamasan, senin (21/12).

Hadir sebagai pemuput upacara Guru Nabe Lingsir Ida Sira Empu Dharma Dasi dari Gria Taman Bali Bangli, Guru Waktra Ida Anak Lingsir Ida Sira Empu Sila Natha Bawana dari Gria Sila Giri Sente, Dawan dan sebagai Guru Saksi Sira Empu Pande Drama Yogantara dari Gria Kusamba Klungkung. Hadir pula pada upacara ini seluruh pengempon Pura setempat.

Sementara untuk pelaksanaan pedwijatian ini dilaksanakan berdasarkan Bhisama Sabha Pandita  PHDI Pusat No. 04/BHISAMA SABHA PANDITA PARISADA PUSAT/V/2005 dan Ijin Mediksa berdasarkan SK Pengurus Harian PHDI Kabupaten Klungkung No. 28/PHDI/XII/2009 tentang Ijin  Mediksa. Sebelum didwijati Sira Empu Darma Kumala bernama Jro Mangku Dalang Made Sudjana dan istrinya Sira Empu Galuh bernama Komang Sri Moertini.

Setelah itu, selanjutnya Ida Sire Mpupun tinggal dan menetap di Griya Taman Ganda Sari. Saat Tba berkunjung (tangkil) ke Griya Ida, masih tampak perlengkapan persembahyangan dipasang, seperti tenda yang belum dibuka, ider-ider palinggih dan yang lainnya. Ida Sire Mpu yang didampingi istrinya juga mengaku berusaha akan semaksimal mungkin melaksanakan ajaran kedarman dan juga menerapaknnya di masyarakat.

Padiksaan Unik

Didiksa Bhatara Kawitan Melalui Prasasti

Ida Sire Mpu memaparkan bagaimana sebenarnya padiksaan seorang krama Pande tersebut. Dimana dikatakan bahwasannya untuk madiksa dilaksanakan di Pura Penataran pande. Yang mana, dalam prosesinya cukup unik dimana, yang didiksa tersebut tidak ditapak langsung oleh Sulinggih Nabe. Melainkan Guru Nabe hanya melaksanakan padiksaan dengan menggunakan prasasti dari Pura tersebut.

Dalam artian, bahwa yang napak adalah Ida Bhatara kawitan dengan perantara Ida Mpu Nabe selaku medisiasinya. Dengan demikian setiap krama Pande yang madiksa senantiasa menggunakan prasasti sebagai alat padiksaan.

Guru hingga Seniman

Sebelum dilahirkan kembali setelah sempat mengalami kematian selama sehari (mati raga sebagai prosesi jati diri Sulinggih_red) rupa-rupanya Ida Sire Mpu memiliki lika-liku kehidupan yang cukup menarik. Dimana, pada awalnya dia dilahirkan kembar oleh orang tuanya. Namun sayang kakaknya meninggalkannya duluan semasa SMP dulu. Hingga akhirnya diapun hidup bersama dengan almarhum ibunya yang sangat dicintai dan juga menyanginya. Berkat keteguhan hati Ibunya untuk merawatnya dari kecil yang sudah ditinggalkan oleh bapak hingga menjadi orang sukses dengan pendidikan yang tinggi pada jamannya.

Sambil sekolah di SD hingga tamat tahun 1964, dia mengaku bekerja di kerajinan (natah bokor) sebagai tambahan biaya sekolah. Hal ini terus dijalaninya hingga tamat SMEA tahun 1971 dimana sebelumnya juga sempat berhenti karena kasus Gestok (gerakan 1 Oktober) kasus PKI dulu. Kemudian berkat kegigihannya, sampai akhirnya Idapun mampu melanjutkan hingga kebangku perguruan tinggi. Dimana pada saat itu, Singaraja sebagai gudangnya sekolah dulunya hingga pada akhirnya diapun mengambil mata kuliah dibidang pendidikan. pada saat dia kuliah, juga sempat terjadi insiden pesawat jatuh di wilayah Desa Tinga-tingan Gerokgak, Buleleng. Pada saat itu, Ida bersama rekan sekuliahan mengabdikan diri untuk membantu sesama.

Seusai kuliah Idapun tamat dengan menyandang gelar Sarjana Pendikan. Dengan tamat pada tahun 1968, dimana sejak setahun sebelumnya juga sudah bekerja menjadi seorang guru di SMA Surapati Singaraja. Pada waktunya, Idapun diangkat menjadi PNS pada tahun 1979 di SMP 1 semarapura). Idapun sempat mengalami beberapa kali pindah dan berganti-ganti mata pelajaran hingga terakhir menjadi Guru di SMP 1 Dawan, bahkan Ida masih memiliki kontrak untuk satu tahun kedepan. Sebelumnya juga pada tahun 1978 Ida bersama beberapa rekannya berhasil merintis SMA PGRI Klungkung.

Selain bertugas membagikan pengalaman Ida juga bergelut dibidang kesenian. Sejak tahun 1967 Ida sibuk di dunia seni. Awalnya sebagai seorang pragina jauk, Topeng dan sejenisnya kemudian juga mengambil peranan penting di kesenian Drama Gong. Saat itu juga ida sempat mengajak anaknya ikut main dan saat ini juga menjadi seniman dan mengurus salah satu Sanggar terkemuka di Klungkung. Pada tahun 1990 Ida merambah seni Pedalangan. “Niki bukan urusan bisnis, melainkan hanya hobi seni semata untuk melesatarikan seni yang adiluhung,” tambah Ida  serius.

Selain itu, Ida Sire Mpu Galuh sebenarnya juga seorang Sarjana pendidikan dan juga mengabdikan diri di SMP dawan sebagai guru Bahasa. Namun kini harus merelakan semuanya itu untuk kepentingan umat Dan sepenuhnya akan melayani umat.*

Reporter dan Foto : Budikrista

  • Biodata :
  • Nama Diksa : Ida  Sire Mpu Darma Kumala
  • Lahir Walaka : 1 Juli 1951
  • Lahir Diksa : 21 Desember 2009
  • Nama Walaka : Jro Mangku Dalang Made Sujana Spd
  • Guru Nabe : Ida Sira Empu Dharma Dasi dari Gria Taman Bali Bangli,
  • Guru Waktra :  Ida Anak Lingsir Ida Sira Empu Sila Natha Bawana dari Gria Sila Giri Sente, Dawan
  • Guru Saksi :  Sira Empu Pande Drama Yogantara dari Gria Kusamba Klungkung
  • Istri : Sira Empu Galuh.
Kategori:Sulinggih

Candi Hindu akan Dibangun di Tobago

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Dewan Eksekutif Majelis Dewan Tobago memberikan persetujuan akhir untuk menyerahkan sebidang tanah di Signal Hill untuk pembangunan Candi Hindu di pulau lain.  Pengumuman ini dibuat oleh Orville London, Sekretaris THA, ketika ia membuka kelas di drum, India tari dan vokal di Calder Hall Community Centre, Scarborough pada hari Jumat lalu.

London mengatakan THA senang menjadi bagian dari sinergi multi-budaya di pulau ini. London mengatakan pengumuman datang  THA merayakan 29 tahun sebagai sebuah majelis. Rayan Ramoutar, Presiden dari Hindu Tobago Society (THS), mengatakan organisasi itu gembira dan berharap THS akan mendapatkan akta dari THA pada Januari.

Ramoutar pernah berkata sebuah kuil dibangun fasilitas tidak akan digunakan hanya untuk kegiatan keagamaan tapi untuk usaha pendidikan “Kami juga berencana untuk melakukan kelas-kelas dalam bahasa Hindi untuk mendobrak hambatan-hambatan budaya manapun kita jumpai dalam Tobago,” ujar Ramoutar.  Kata Ramoutar kelas di Calder Hall terjadi pada Jumat pertama setiap bulan dan terbuka untuk semua Tobagonians. Malay Mishra, Komisaris Tinggi India, memuji THS THA dan usaha bersama mereka dalam mengembangkan budaya India di pulau itu.***

Bhisama Ida Bhatara Gunung Agung

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Ingatkan Warih, untuk Laksanakan Yadnya

Bhisama ini ditulis untuk mengingatkan kepada warih-warih dari Ida Bhatara Hyang Pasupati yang ada di Bali agar tetap menjaga banten sebagai upacara yadnya dan tetap menjaga upacara Panca Wali Krama di Besakih agar Bali tetap dijaga oleh para Dewata.

Isi daripada Bhisama tersebut:

“ Hana ling Bhatara Putranjaya ring Basukih, uduh sang Aji Bali, prayatna sira ngemit praja mandala. Bakti ring sang sarwa dewa ring negara krama. Yan hana wwang ring panegara krama kena cukilan daki, gring tan wenang sinambat reh jadma kena sapadrawaning Dewata. Aywa ring desa pakraman genahning. Yan sang ratu tan mituhu ring pawarahku, Aku mulih ring Mahameru ring Jawi, angadagakan sasab merana ring sarwa jagat. Mangkana ling bhatara mungguing Widhi Sastra.

Mwah yan sira punggawa ratu ring Bali Rajya yang sira nora ngawe pada tawur agung ring panguluning jagat ring Basukih. Ngalimang tahun panca wali krama, wastu gumi nira kali tan pegat idepku anaut uriping manusa angadakang gring tatumpur sasab merana tekaning dipania majengilan ring kadang tunggalannia masatru-satru lawan kadangnia yadian hana mangarcana aku, tan mantuk Aku maring basukih, Aku matilar maring giri Bali mantuk ring giri Mahameru. Tan kayun malih kasungsung dening manusa loka, apan manusa loka apa jadma sang kala katung.”

Arti dari Bhisama:

Nira Bhatara Putranjaya di Besakih, yang menjaga bumi Bali, yang menjaga jagat Bali. Kalau berbakti masalah-masalah kenegaraan berbaktilah kepada-Ku. Kalau negara kena kekotoran seperti grubug, sakit, kena susah atau kena masalah-masalah seperti tersebut berarti manusia kurang bakti kepada Nira Bhatara Putranjaya. Nira, Bhatara Putranjaya juga ada di desa Pekraman. Siapapun pemimpin Bali yang tidak mendengarkan arah-arah, Nira, Bhatara Putranjaya akan kembali ke Mahameru di Jawa. Kemudian jagat Bali akan merana, baik manusia yang tidak salah apalagi yang salah semua akan kena akibatnya. Ini semua sudah ada di dalam Widhi Sastra.

Siapapun pemimpin atau wakil-wakil Bali yang mau membuat upakara Tawur Agung, bebantenan, mecaru di Besakih setiap lima tahun sekali atau Manca Wali Krama di bumi Bali, maka Nira Bhatara Putranjaya tidak akan pernah berhenti menjaga kehidupan manusia dari sakit, hidup merana dan bencana. Menjaga bumi Bali ini dari musuh-musuh manusia, segala bencana atau musibah. Nira Bhatara Putranjaya yang berwenang menjaga gumi Bali dan tidak akan pergi meninggalkan Bali. Tetapi manakala semua upakara, yadnya, Tawur Agung serta bebantenan tidak dilaksanakan lagi di Bali, Nira Bhatara Gunung Agung akan kembali ke Mahameru. Tidak akan mau lagi disungsung oleh manusia. Maka semua manusia di Bali akan dimakan sang kala Katung.

Sumber Dharma tanpa sastra: dari perenungan dan komunikasi Pinisepuh dengan Ida Bhatara Gunung Agung. Pinisepuh mengatakan, kita di Bali kepercayaan atau ajaran adalah berasaskan sastra yang digubah atau disempurnakan dari kitab Weda (Hindu) dan kitab Sutra (Budha). Ajaran-ajaran ini digubah oleh para Mpu-mpu kita yang sangat sakti menjadi Ciwa Budha serta sudah terbukti di Bali, Beliau-beliau banyak yang menjadi moksha. Bukankah moksha ini yang dikejar dalam melakukan olah spiritual dan merupakan bagian paling tinggi dari mempercayai Panca Sradha.

Panca Sradha:

1. Brahman: Keyakinan terhadap adanya buana agung

2. Atman: Keyakinan terhadap buana alit

3. Karmaphala: Keyakinan pada hukum sebab akibat

4. Samsara: Keyakinan pada kelahiran kembali atau reinkarnasi

5. Moksha: Keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman

Tetapi dalam proses pencapaian itu, khususnya di alam Bali sudah ada Widhi Sastra yang harus dipenuhi salah satunya yaitu adanya persembahan-persembahan yadnya dengan banten, tujuannya tak lain adalah untuk menjaga keseimbangan alam Niskala itu sendiri. Kalau alam Niskala sudah seimbang maka pencapaian spiritual yang tertinggi pun mendapat restu. Maka dari itu, salah satu kesadaran yang harus dipupuk oleh setiap individu terutama umat Hindu Dharma di Bali adalah menjaga dan melaksanakan Bhisama Ida Bhatara Gunung Agung. Dunia boleh modern tetapi prilaku spiritual di Bali tetap diatur oleh Bhisama Ida Bhatara. Kalau ditinggalkan hancurlah bumi Bali ini.

Seruan bagi Pelaku Spiritual

Selain adanya Bhisama Ida Bhatara Gunung Agung untuk umat Bali pada umumnya, masih ada Bhisama Ida Bhatara yang malinggih di Pura Lempuyang Luhur bagi umat secara khusus, yang mengejar pencerahan dalam spiritual. Silahkan dibaca Bhisama Ida Bhatara Lempuyang Luhur agar usaha Anda tidak sia-sia melakoni spiritual atau menjadi penekun spiritual dengan tujuan untuk mencapai pencerahan.* (berbagai sumber)

Kategori:Mitos
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.