Arsip

Archive for Februari, 2010

Di Balik Magisnya Prosesi Pengabenan Minak Jinggo di Alas Purwo, Jatim

Februari 2, 2010 1 komentar

Diwarnai Berbagai Kegaiban dan Keajaiban

Prosesi upacara pengabenan Minak Jinggo yang berlangsung sangat sederhana itu, diwarnai berbagai keajaiban dan kegaiban. Di tempatnya prosesi pengangkatan kepala Minak Jinggo, puluhan penampakan sempat terekam di kamera wartawan TBA. Begitu memasuki perbatasan hutan Alas Purwo, rombongan disambut puluhan ribu kupu-kupu putih. Pun, setibanya di sekitar pura, tiba-tiba rombongan disambut suara petir menggelegar cukup keras serta suara burung gagak dan  di saat prosesi penyatuan jazad  berlangsung, puluhan ekor ikan berloncatan di tengah laut. Seperti apa jalannya prosesi pengabenan itu? Berikut perburuan wartawan Bali Aga ke Alas Purwo di Banyuwangi, Jawa Timur.

Rombongan berangkat dari Bali menuju Trowulan, Mojokerto Jatim menggunakan 6 buah kendaraan. Rombongan yang berasal dari Karangasem berangkat melalui jalan jurusan Singaraja-Karangasem, sedangkan rombongan dari Denpasar melalui jalan jurusan Denpasar-Gilimanuk, kemudian bertemu di Dermaga Ketapang, Banyuangi.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, rombongan Karangasem yang beranggotakan tiga mobil sampai dengan selamat di Pelabuhan Penyebranagan Ketapang, Banyuangi. Sesampainya di sana, Bunda Ratu bersama anggota rombongan yang lain, sempat kebingungan mencari rombongan Denpasar yang tadinya menghubungi lewat ponsel akan menunggu di dermaga dimaksud.

Keanehan pun terjadi, di mana rombongan dari Denpasar yang dipimpin I Gusti Agung Harsana dari Puri Kamasan, Sempidi, Badung yang semestinya lebih dahulu tiba di Dermaga Ketapang,Banyuangi justru tiba belakangan dari rombongan Karangasem di bawah pimpinan Bunda Ratu Ardenareswari Masceti.

“Padahal, sebelumnya rombongan Denpasar mengatakan lebih dahulu berangkat dan akan menunggu di pelabuhan dimaksud. Mestinya kan lebih awal tiba di Dermaga Ketapang. Tetapi kenyataannya, justru rombongan dari Karangasem yang lebih dahulu sampai,” ujar Jro Mangku Nyoman Suarjana yang tiada lain adalah suami Bunda Pertiwi dengan nada keheranan seraya mengatakan, mungkin memang tidak diboleh mendahului Bunda Ratu, melainkan harus berangkat beriringan.

Selanjutnya dengan beriringan, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Trowulan, Mojokerto, lewat jalur utara yakni melewati hutan jati. Sepanjang perjalanan menuju Trowulan, Mojokerto beberapa kali sempat salah jalur, sehingga harus bertanya kepada warga yang ditemui, sehingga tidak sampai tersesat.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya rombongan memutuskan untuk beristirahat melepas lelah sekaligus membersihkan diri dan minum kopi di salah satu pom bensin yang berada tak jauh dari lokasi rumah Jro Mangku Pura Majapahit, Jro Mangku Srikandi.

Setelah badan terasa segar kembali, rombongan lanjut menuju ke rumah Jro Mangku Srikandi. Di sini, rombongan disambut Jro Mangku bersama suami, sekaligus berkesempatan menikmati suguhan seadanya, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan sesuai jadwal yang telah diprogramkan.

Roh Minak Jinggo Turun Lewat Raga Bunda Pertiwi

Sebelumnya, sekelompok spiritual yang juga merupakan salah satu pretisentana-nya Minak Jinggo, raja Blambangan yang tersohor ini mendapat pawisik agar jasadnya disatukan dan dibuatkan sebuah upacara pengabenan, walaupun dengan cara sederhana sekali pun. Konon, Beliau meninggal akibat dimutilasi (badannya dipotong-potong kemudian dibuang di tempat  terpisah).

Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun orang yang mau memperhatikan jasadnya itu, sehingga awrahnya terus tung-katung tidak tentu arah. Sampai akhirnya Minak Jinggo mendatangi salah satu pertisentana-nya walaupun tidak secara garis vertikal yang ada di Bali, meminta bantuan untuk menyatukan anggota tubuhnya sekaligus membuatkan upacara pengabenan.

Ditemui di sela-sela kesibukannya melaksanakan upacara pengabenan di pantai selatan sekitar kawasan hutan Alas Purwo, I Gusti Agung Anom Harsana dari Puri Kamasan Sempidi, Badung ini menjelaskan, prosesi pengabenan ini berlangsung berawal dari sebelumnya I Gusti Agung sempat dirundung masalah berat dalam keluarganya.

Sampai akhirnya, sekitar tahun 2000, di tengah kebingungannya itu Gusti Agung bertemu dengan salah seorang paranormal yang bernama Pak Putu. Dalam pertemuannya itu, Pak Putu tahu persis apa yang menyebabkan dirinya didera permasalahan yang sangat berat itu. Penyebabnya tiada lain, karena masih ada leluhurnya yang terkatung-katung dan berada di laut. Untuk itu, jika ingin keluar dari masalah berat itu, Gusti Agung diminta untuk mengangkat leluhurnya yang konon dibunuh secara massal dan dimutilasi.

“Tiang sempat heran, kenapa Pak Putu itu tahu persis masalah yang sedang tiang alami/hadapi, padahal sebelumnya tidak pernah bertemu terlebih saling kenal. Akhirnya, sampai di Puri, tiang berusaha mencari tahu/menelusuri leluhur yang dimaksud. Tetapi, setelah ditanyakan ternyata tidak ada leluhur yang belum dibuatkan upacara. Tiang kembali dibuat bingung dan terus menjadi beban pikiran,” ujar I Gusti Agung Harsana menjelaskan, seraya menambahkan berbekal keyakinan penuh, berusaha mendak leluhurnya dimaksud dan selanjutnya dilinggihkan di puri.

lengkapnya baca TBA edisi 4

Kategori:Tenget

Permata Anugerah Bhatari Dewi Danuh (9)

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Tantangan Ki Pungakan  Adu Kesaktian

I Gusti Pasekan adalah orang yang cepat beradaptasi dengan lingkungan, dengan cepat ia dapat memperoleh teman-teman baru sebayanya di Denbukit; demikian juga Karena karismanya I Gusti Pasekan selalu menjadi yang paling menonjol dan memimpin kelompok-kelompok sebayanya. Apalagi dalam asuhan Ki Dumpyung dan Ki Dosot, I Gusti Pasekan sedikit tidaknya mengenal dasar-dasar ketatanegaraan dan etika-etika yang menjadi aturan di Karang Kapatihan ayahnya.

I Gusti Pasekan dengan cepat tumbuh dewasa, tubuhnya tegap dan ia tumbuh dengan kepribadian pemimpin. Ia sangat suka bertualang, naik gunung turun gunung, menyisir danau beratan dan keluar masuk desa yang ada di sekitaran Buleleng. Kerap kali ia tidak pulang lantaran kesukaannya melakukan tapa di daerah-daerah yang dirasakannya sebagai pusat-pusat spiritual. Kehebatan I Gusti Pasekan pertama kali di tunjukkan dengan menundukkan buaya besar penghuni salah satu sungai di desa panji.

Suatu hari masyarakat yang sedang mandi dikejutkan oleh munculnya seekor buaya yang sangat besar dan hendak memangsa salah seorang penduduk. Melihat kedatangan buaya, masyarakat Desa Panji yang sedang mandi lari ketakutan, ada yang teriak-teriak meminta bantuan, bahkan banyak yang hingga terkencing-kencing lantaran takutnya. Kebetulan pada saat itu I Gusti Pasekan berada di tegalan dekat dengan sungai dimana buaya tersebut muncul; mengdengar teriakan warga, dengan langkah ringan bagai walet, I Gusti Pasekan turun ke Sungai menghadang si buaya besar. Melihat ada manusia yang datang, buaya tersebut lalu dengan ganas menyerang menggunakan mulut dan ekornya, namun I Gusti Pasekan gesit mengelak lalu dengan cekatan dan sigap menelikung buaya itu hingga mati.

Melihat kehebatan I Gusti Pasekan dalam membunuh buaya, masyarakat Desa Panji mengelu-elukannya, bahkan berita keberanian dan ketangkasan I Gusti Pasekan dengan cepat menyebar hingga ke daerah-daerah pelosok desa-desa di Buleleng. Rupanya berita ini membuat Ki Pungakan, salah seorang tokoh yang sangat ditakuti di Buleleng menjadi tidak senang.

Perasaan tidak senang dari Ki Pungakan membuatnya ingin sekali menantang anak muda penakluk buaya tersebut adu kesaktian dengannya; bahkan secara terang-terangan Ki Pungakan selalu menyatakan hendak mengadu kesaktian dengan Ki Pasekan kepada setiap orang yang sedang menceritakan kehebatan I Gusti Pasekan.

Suatu hari, saat I Gusti Pasekan sedang berada di tegalan dan sedang mencongkel umbi ketela dengan kerisnya, lewatlah Ki Pungakan di jalan dekat dengan tegal tersebut. Ia diiringi oleh pengawalnya menuju tempat judi sabung ayam. I Gusti Pasekan yang sedang asik mencongkel-congkel ketela, lalu mendengar suara yang keluar dari kerisnya sendiri, keris itu berkata “tugasku bukanlah untuk mencongkel-congkel ubi, tugasku adalah membunuh musuh-musuhmu, itu manusia yang memiliki kebencian denganmu sedang melintas, ayo gunakan aku untuk membunuhnya”. demikianlah suara yang terdengar dari keris pusaka.

I Gusti Pasekan lalu berdiri, dengan sigap ia bergerak menuju jalan dimana Ki Pungakan akan segera melintas. Ia tidak mau mendahului, ia hanya duduk-duduk saja di tepi jalan menunggu lewatnya Ki Pungakan. Pengawal Ki Pungakan sangat terkejut melihat Ki Pasekan seorang diri duduk di pinggir jalan, salah satu dari pengawalnya lalu membisiki Ki Pungakan bahwa orang yang ada di depan dan yang sedang duduk santai itu adalah I Gusti Pasekan yang hendak ditantangnya adu ilmu. Ki Pungakan merasa sangat gembira mendengarnya lalu menghentikan kudanya tepat di depan I Gusti Pasekan.

Ki Pungakan lalu berkata, “Hai Gusti Pasekan, aku sudah mendengar akan kehebatanmu mengalahkan buaya Desa Panji, namun aku tidak yakin apakah kau akan mampu mnghadapi aku”. “jika kau takut, segeralah menyembahku, maka aku akan jadikan kau abdi setiaku”. mendengar kata-kata dari Ki Pungakan yang menantang dengan sombongnya, I Gusti Pasekan lalu berkata, “aku tidak pernah takut melawan manusia, apalagi manusia sepertimu yang hanya menebar ketakutan di desa-desa, kau ingin menguasai orang dengan cara membuat mereka takut, tindakanmu adalah perbuatan tolol seorang pemimpin”. “seperti telah aku katakan tadi, aku tidak pernah takut pada manusia”. apabila sekarang kau yang takut, segeralah pergi dari hadapanku dan berhentilah menakut-nakuti masyarakat”.

Mendengar kata-kata I Gusti Pasekan seperti itu, bukan alang kepalang marahnya Ki Pungakan, ia lalu turun dari kudanya, mencabut keris pusakanya lalu menantang I Gusti Pasekan bertempur. I Gusti Pasekan berdiri lalu mencabut kerisnya yang sedari tadi sudah tidak sabar hendak meminum darah Ki Pungakan. Singkat cerita terjadilah pertempuran sengit. Rupanya I Gusti Pasekan lebih sakti dari Ki Pungakan, setelah sekian lama dalam pertempuran, akhirnya keris I Gusti Pasekan yang bernama Ki Semang dapat menembus dada Ki Pungakan, dan akhirnya tewas saat itu juga. ***

Kategori:Mitos

Hindu Rayakan Makar Sankranti

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Rinidad-Tobago,

Festival Masyarakat  Hindu akan menjadi tuan rumah kedua Sankranti Makar tahunan (juga disebut Pongal) perayaan pada hari Kamis.   Semua diundang untuk bergabung dengan HFS dalam ‘Rudra Gita Gyan Yagna’ sebagai anggota di India merayakan terbesar dan paling populer festival, Makar Sankranti. Ritual berlangsung di HFS Air Festivals Centre, Persad Drive, Los Iros Beach, Los Iros.

Makar Sankranti adalah salah satu hari yang paling menguntungkan bagi umat Hindu, dan dirayakan di hampir semua negara bagian dalam berbagai bentuk-bentuk budaya dengan penuh pengabdian.   Ini adalah festival Hindu pertama dari tahun kalender matahari, yang jatuh pada tanggal 14 Januari dan jatuh pada saat Matahari memasuki tanda Makar Zodiac (Capricorn) dan ketika siang dan malam adalah sama lamanya.  Hari menjadi lebih lama dari titik ini sehingga merupakan waktu untuk perayaan.

Di Gujarat dan Maharashtra, India, Makar Sankrant dirayakan dengan layang-layang berwarna-warni.  Di Punjab, Makar Sankrant disebut besar Lohri dan api unggun dinyalakan pada malam Sankrant.   Hal ini dianggap penting untuk memiliki mandi untuk hari ini dan massa rakyat dapat dilihat mandi di Prayagraj Sangam di mana sungai-sungai Gangga, Jamuna dan Saraswathi mengalir bersama.  Dan di India Selatan itu Pongal festival panen dan berlangsung selama tiga hari.   Pada hari pertama, nasi direbus dengan susu yang ditawarkan kepada Tuhan Hujan.   Pada hari kedua, adalah ditawarkan kepada Dewa Matahari dan pada hari ketiga, keluarga sapi diberi mandi dan berpakaian dengan bunga, lonceng dan warna. Ternak yang dihormati untuk kerja keras mereka di ladang.

Tuhan  Surya disembah pada hari  Sankranti Makar dan merupakan bentuk penyembahan alam. Sebuah peristiwa hari besar  adalah ritual mandi (melukat istilah Balinya red) di Sangam (pertemuan Yamuna, Saraswathi dan Gangga) di Allahabad dan juga di Ghats mandi yang terkenal di Sungai Gangga. Mengambil dip suci pada hari dianggap untuk membersihkan dosa yang dilakukan dan ini akan menyebabkan moksha (Keselamatan).

Madeg Bhawati Jro Mangku Pasek di Klungkung

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Upacara Madeg Bhawati dilaksanakan di Griya Wanagiri, Pegending, Semarapura. Hadir menyaksikan upacara tersebut para pemangku, pandita serta ratusan warga pasek di Kabupaten Klungkung. Upacara Madeg Bhawati tersebut salah satu rentetan upacara sebelum menjadi pandita.

Untuk meningkatkan status kepemangkuan yakni dari pemangku menjadi pandita, Pasemetonan Pasek di Kabupaten Klungkung Jumat (15/1) melaksanakan upacara Madeg Bhawati terhadap dua pemangku di Kabupaten Klungkung. Dua pemangku tersebut yakni Jro Mangku Pasek Nengah Gunarka dan istrinya Jro Mangku Istri Nyoman Tampiasih asal Desa Nyanglan, Banjarangkan dan Jro Mangku Pasek Komang Sidemen beserta istrinya Jero Mangku Istri Pasek Wayan Wati dari Desa Tegak, Klungkung.

Upacara Madeg Bhawati dilaksanakan di Geria Wanagiri, Pegending, Semarapura. Hadir menyaksikan upacara tersebut para pemangku, pandita serta ratusan warga Pasek di Kabupaten Klungkung. Upacara Madeg Bhawati tersebut salah satu rentetan upacara sebelum menjadi pandita. Madeg Bhawati ini merupakan suatu upacara mati raga yang dilaksanakan  pemangku tersebut sebelum nantinya didiwijati untuk menjadi pandita.

“Prosesi upacara matiraga ini dilaksanakan selama kurang lebih 1 jam, dengan tujuan untuk membersihkan diri dari ikatan–ikatan keduniawian,” demikian diungkapkan Nyoman Suastika selaku panitia upacara. Selain itu, setelah melalui upacara Madeg Bhawati ini, para Jro Mangku yang diupacarai saat ini akan mengikuti pendalaman–pendalaman tentang Weda selama kurun waktu 6 bulan hingga 2 tahun, sebelum nantinya diupacarai kembali dengan prosesi upacara  dwijati untuk proses menjadi pandita. Disebutkan pula, upacara madeg Bhawati ini terlaksana berkat dukungan dan partisipasi seluruh warga Pasek.

Sementara itu, Ketua Mahagotra Pasek Sanak Sapta Rsi Made Swastika Adiguna menyatakan, kegiatan upacara yang dilaksanakan saat ini dasar pelaksanaan untuk menjadi sulinggih di pasemetonan Pasek. Dengan kegiatan ini diharapkan pula dapat meningkatkan rasa persatuan dari seluruh warga Pasek. Sementara pada upacara Madeg Bawati yang dilaksanakan kemarin ini diawali dengan upacara melukat, selanjutnya para pemangku tersebut melaksanakan upacara mati raga untuk selanjutnya dilahirkan kembali dengan prosesi upacara seperti upacara kelahiran pada umumnya yang ditapak Nabe Ida Pandita Mpu Jaya Wijaya Nanda dari Griya Kutuh Kuta dan Ida Pandita Mpu Daksa Jaya Diana dari Griya Bali dan, Nusa Penida.* krista

Kategori:Khas

Dari Pentas Wayang Kulit di Daya Putih, Gianyar

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Arjuna Matapa Tolak Bala 2010

Masihkah wayang menjadi kesukaan masyarakat seperti dulu?  Inilah yang  menjadi pertanyaan, setiap ada pementaan wayang kulit khususnya di Bali. Sementara di Jawa, wayang begitu sangat disukai masyarakatnya, walau masih suntuk pun masih enak ditonton.  Sementara di Bali? Entahlah ………!!!! Justru dijadikan media penolak bala.

Pengamatan Bali Aga, sepanjang ada pementasan wayang kulit yang dikhususkan untuk wali atau upacara, sangat minim peminat. Sehingga, wayang menjadi sepi-sepi saja. Di mana pun di Bali. Ini tidak lain, karena canggihnya berbagai hiburan yang sudah memberikan kemudahan di depan mata. Contohnya, hadirnya televisi, salah satu penyebab, lesunya minat warga untuk nonton wayang. Di sisi lain, generasi muda, sudah bangkit semangatnya untuk menjadi dalang.

Hanya saja, wayang versi hiburan total sesuai kemampuan dalangnya, ternyata mampu membuat penonton ketagihan untuk terus menikmatinnya. Karena, di dalamnya ada variasi pementasan, pakem serta kemampuan dalang untuk mengolah cerita agar tidak ditinggalkan penonton. Dengan ramuan pornonya  yang tidak terlalu melanggar etika dan norma agama, mampu membuat jebol gawang menjadi terbuka lebar alias tertawa sampai perut dibikin sakit.  Itu salah satu contoh wayang Cenk Blonk yang sangat diminati semua kalangan.

Di sisi lain, ada tokoh spiritual yang menghentak dunia pewayangan, agar anak-anak muda bangkit dari wayang. Dialah Kanjeng Madi yang sangat intens terhadap dunia pewayangan. Maklum, tokoh Keraton Surakarta ini, adalah sosok yang sangat suka dengan dunia wayang dan tokohnya. Untuk itu, Kanjeng Madi sengaja mengundang dalang pemula usia 17 tahun yang masih duduk  di SLTA sesuai dengan dunia pewayangan (Kokar).

Kanjeng Madi, berkenaan dengan ultah seorang kerabatnya berusia tujuh tahun bernama  Padmasiwi Nawang Enjang, menyertai dengan pementasan wayang tolak bala tahun 2010. Tujuannya, dengan pementaan wayang “Arjuna Matapa” bisa menjadikan jagat ini lebih rahajeng. Energi negatif bisa dinetralisir dengan sihir wayang yang dipentaskan. Dalang muda dan pemula ini adalah  Made Yoga Giri yang beralamat di Banjar Tojan Tegal, Desa Pering, Blahbatuh, Gianyar.

Wayang ini, juga mendapat perhatian tamu asing yang kebetulan sedang menimba  ilmu kebathinan di Daya Putih, Ndalem  Tojan, Desa Pering, Blahbatuh, Gianyar. Menurut Kanjeng Madi, wayang ini yang disetir Yoga Giri, dimohonkan dari Daya Putih, selanjutnya agar dalam pemula ini bisa berkiprah lebih lanjut dalam lakon yang lain dan dalam lingkup yang lebih luas lagi.

Kanjeng Madi pun memberikan tema pementasan wayang ini dengan “Menghidupkan Arjuna dalam Diri dengan Pagelaran Wayang Kulit” digelar dalam suasana gelap dan bernuansakan alam yang sesungguhnya. Ndalem Daya Putih yang berlokasi di tengah persawahan, sangat disenangi tamu asing. Di sinilah Kanjeng Madi memberikan ilmu-ilmu kebatinan (spiritual) kepada murid-muiridnya yang lebih disenangi tamu asing. Pementasan wayang yang disaksikan semua kerabatnya, termasuk tamu asing, memberikan keheningan alam dengan suara binatang malam yang hidup di persawahan.

Wayang Tolak Bala Tahun 2010 ini, menjadi media untuk menjadikan alam ini lebih memancarkan aura positif, sehingga umat manusia bisa melakukan aktivitasnya dengan damai, nyaman dan diberkati Tuhan. Pementasan wayang ini dilakukan bertepatan dengan rarahinan Hindu Anggarakasih Prangbakat (12/01/10) dengan durasi dua jam.  *** patra

Kategori:Panggung

Misteri Pulau Jawa Kuno di Zaman Sweta Dwipa (2 habis)

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Serangan Wabah Misterius

Hadipati Alip berangkat bersama 10.000 warga Ngerum menuju Nuswa Jawa. Mereka dalam waktu singkat meninggal terkena wabah penyakit. Tak tersisa seorang pun. Lalu dikirimlah ekspedisi kedua di bawah pimpinan Hadipati Ehe. Malangnya, mereka juga mengalami nasib sama, tupes tapis tanpa tilas.

Masih diutus rombongan berikutnya, seperti Hadipati Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Semuanya mengalami nasib sama, tumpes kelor.  Melihat semua itu, Prabu Galbah terkejut dan mengalami shock hebat. Akibatnya, sakit jantungnya kambuh. Dia kemudian jatuh sakit, dan dalam waktu tak lama mangkat.

Pendeta Ngali Samsujen, merasa bersalah karena nasehatnya menimbulkan malapateka ini terjadi. Akhirnya beliau mati dalam rasa bersalah. Tinggal Mahapati Ngerum, karena rasa setianya, dia ingin melanjutkan missi luhur yang dicita-citakan rajanya. Dia akhirnya ingat pada sahabatnya yang sakti bersanama Jaka Sangkala alias Aji Saka, yang tinggal di Tanah Maldewa atau Sweta Dwipa.

Jawa Dihuni Manusa Sakti

Habisnya para migran dari Ngerum ke Tanah Jawa itu, menurut Jaka Sangkala adalah karena hati mereka yang kurang bersih. Mereka tidak meminta izin dahulu pada penjaga Nuswa Jawa. Padahal, karena sejak zaman dahulu, tanah ini sudah ada yang menghuni. Yang menghuni tanah Jawa adalah manusia yang bersifat suci, berwujud badan halus atau ajiman (aji artinya ratu, man atau wan artinya sakti).

Selain penghuni yang baik, juga dihuni penghuni brekasakan, anak buah Bathara Kala. Makanya tak ada yang berani tinggal di bumi Jawa, sebelum mendapat izin Wisnu atau manikmaya atau Semar.
Akhirnya, Mahapati Ngerum diantar Aji Saka menemui Wisnu dan isterinya Dewi Sri Kembang. Saat bertemu, dituturkan bahwa wadyabala warga Ngerum yang mati tidak bisa hidup lagi, dan sudah menjadi Peri Prahyangan, anak buah Batara Kala. Tapi ke-8 Hadipati yang gugur dalam tugas itu berhasil diselamatkan oleh Wisnu dan diserahi tugas menjaga 8 mata angina. Namun mereka tetap menghuni alam halus.

Atas izin Wisnu, Mahapati Negrum dan Aji Saka berangkat ke tanah Jawa untuk menghadap Semar di Gunung Tidar. Tidar dari kata Tida; hati di dada, maksudnya hidup. Supaya selamat, oleh Wisnu, Mahapati Ngerum dan Aji Saka diberi sifat kandel berupa rajah Kalacakra, agar terhindar dari wabah penyakit dan serangan anak buah Batara Kala.

makna : Kisah di atas hanya merupakan gambaran, bahwa ada makna yang tersirat di dalamnya. Wisnu dan Aji Saka itu dwitunggal, bagaikan matahari dan sinarnya, madu dan manisnya, tak terpisahkan. Loro-loro ning atunggal. Maka itu, keraton Wisnu dan Aji Saka itu di Medang Kamulan, yang maksudnya dimula-mula kehidupan. Kalau dicermati, intinya adalah kawruh ngelmu sejati tentang kehidupan manusia di dunia, sejak masih gaib hingga terlahir di dunia, supaya hidup baik, sehingga kembalinya nanti menjadi gaib lagi, perjalanannya sempurna.

Singkat cerita, perjalanan ke tanah Jawa dipimpin oleh Aji Saka dengan jumlah warga yang lebih besar, 80 ribu atau 8 laksa, disebar di berbagai pelosok pulau. Sejak itulah, kehidupan di tanah Jawa Dwipa yang disebut masyarakat Kabuyutan telah ada sejak 10.000 SM, tetapi mulai agak ramai sejak 3.000 SM.

selengkapnya baca tba edisi 4

Kategori:Mitos

Bhisama Pande (2)

Februari 2, 2010 Tinggalkan komentar

Warga Pande Bertalian Erat dengan Warga Pasek

Gelar abhiseka sengaja dikemukakan agar warga Pande mengetahuinya, karena dalam babad-babad Pande gelar itu tidak pernah disebutkan. Warga Pande hendaknya mempergunakan gelar itu secara sadar, karena gelar itulah yang benar menurut sumber yang layak dipercaya.

Oleh karena itu gelar abhiseka itu mutlak harus disosialisasikan kepada seluruh warga Pande agar mereka lebih mendalami jati dirinya guna memperkuat tekad ngayah, sebagaiman yang dibhisama kepada Brahmana Dwala oleh Mpu Siwa Saguna.

Eratnya keterkaitan antara Penataran Ida Ratu Bagus Pande dan warga Pande dengan Pura Besakih dikemukakan pula oleh peneliti Prancis, Jean Francois Guerpmonprez dalam desertasi doktoralnya yang berjudul ”Les Pande De Bali” (1987) yang dikutipnya dari tulisan C.Hooykaas, seorang pakar sejarah dan budaya Bali asal Belanda. Berikut kutipan pendapatnya sebagaia berikut: tidak ada warga di Bali yang mempunyai tempat pemujaan yang jelas untuk menyembah leluhurnya yang suci pada pura penyembahan leluhur di Pura Besakih di kaki Gunung Agung, sebagaimana dimiliki oleh warga Pande. Juga tidak ada warga yang telah menyebarluaskan sejumlah naskah-naskahnya (maksudnya: babad-babad) mengenai diri mereka dan lelintihan atau silsilahnya seperti halnya dengan warga Pande. Bersama-sama dengan warga Pasek, mereka merupakan satu-satunya kelompok atau soroh yang menulis aturan-aturannya dalam bentuk buku (lontar), sebagaimana saya temui pada kunjungan saya ke Bali pada tahun 1959.

Apa yang kemukakan oleh C.Hooykaas yang dikutif Jean Francois Guerpmonprez tidaklah jauh berbeda dengan yang termuat dalam Raja Purana Pura Pasar Agung. Eratnya kaitan warga Pande dengan warga Pasek dengan Pura Besakih tersurat dengan jelas pada Raja Purana Pura Pasar Agung, yang juga merupakan kesatuan dengan Pura Besakih kendati letaknya berjauhan dengan Pura Besakih.

Dalam Raja Purana itu ditegaskan sebagai berikut: ”Sangkan apengaran Pasar Agung, mapan papasaran Bhatara kabeh saking Kadewatan. Dini sira manusa pada. Aja kita langgana ring Dewa, mangencak aci-aci, manguwugang Khayangan, kena kita sapadrawa Bhatara ring pucaking Gunung Agung, rusak kita wong Bali, sarang kos boros, sapi pada arang, kurang pangan kinum ira, masuduk kalawan rwang. Yan kita eling ring khayangan jagat kabeh, anyanyapuh balik sumpah maring khayangan, pada angelingin panembahan Ida Pada Sang Ratu ring Gunung Agung, muah kita punggawa, muah kita Pasek, kita Pande sane wenang ngelah panyembahan ring Besakih, stata tindih saking Majapahit sane ngutpeti linggih Ida Bhatara ring Gunung Agung, apang pada eling, aja ya pada predo kita wong Bali. Yannya predo, matemahan rusak, anging rusake meganti gumi, geledug, ktug, gejor sadina-dina, gunung uwug pacaloscos, gumi rengat dahata mapanes, sing tanur pada mati pasedsed, terak maka Bali, aharig pada mangemasin pejah. Ida Bhatara pada mantuk maring gunung Mahameru, norana Bhatara tumurun malingga maring khayangan, gumi tulus rusak, manusa tandruh maring dewa”.

(Mengapa bernama Pasar Agung, karena pura itu merupakan pasar para Dewata semua. Di pura itu semua manusia sama/sederajat. Janganlah kalian lupa kepada para Dewa, dengan menghentikan upacara-upacara, merusak kahyangan karena hal itu akan menyebabkan engkau mendapat marah dari Ida Bhatara di Gunung Agung, rusaklah semua wong Bali kalau berbuat begitu, dan kamu semua menjadi pemboros, sapi-sapi berkurang, kamu menjadi kurang makan dan minum, kamu akan berkelahi sesamamu. Kalau engkau ingat akan semua kahyangan jagat, selalu melakukan upacara malik sumpah pada kahyangan, semuanya ingat pada Bhatara Sesuhunan di Gunung Agung. Demikian pula para Punggawa (penguasa jaman dulu) engkau para Pasek, para Pande, yang berhak mempunyai pelinggih (parahyangan atau pura penataran) di Pura Besakih, karena selalu taat sejak semasih di Majapahit, engkaulah yang bertugas memelihara pelinggih-pelinggih Ida Bhatara di Gunung Agung. Engkau semuanya agar selalu ingat, janganlah hendaknya kamu bertengkar dengan sesamamu, semuanya akan menjadi rusak, akan tetapi kerusakan itu adalah bergantinya jaman (maksudnya: Bali dijajah ?) gempa bumi tidak berkeputusan setiap hari, gunung meletus tidak henti-hentinya, bumi belah karena panas yang tak tertahankan, atau hujan tidak berkeputusan, segala yang ditanam mati semuanya, Bali paceklik, kurus kering menunggu ajal. Akibatnya Ida Bhatara pergi dari Bali, kembali ke Gunung Mahameru, tidak akan ada lagi Ida, kembali ke Kahyangan, bumi Bali terus terusan rusak, manusia menyangsikan keagungan para Dewa. sumber : (Keputusan/Ketentuan Pesamuhan Agung IV Maha Semaya Warga Pande Prov. Bali)

Bhisama kedua

Tentang Ajaran Panca Bayu

Bermakna agar warga pande memahami ajaran Panca Bayu yang diajarkan oleh Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala pada pertemuan dan dialog imajiner mereka di Pura Indrakila. Panca Bayu adalah ajaran kekuatan yang sangat penting bagi mereka yang melakoni Dharma Kapandeyan. Panca Bayu juga sangat penting bagi pengendalian diri untuk mengenal fungsi-fungsi atau kekuatan anggota badan tertentu. Uraian beliau tentang Panca bayu kepada Brahma Dwala adalah sebagai berikut : ”Ndi hingaran Panca Bayu. Panca Bayu ngaran APANA, PRANA, SAMANA, UDHANA, BHYANA. Apana ngaran bayu saking weteng, mwang kakembungan, yatika jambangan. Prana ngaran bayu metu saking peparu, humili amarga lenging grana, yatika hububan, pinaka pamurungan. Samana ngaran bayu metu saking hati, ghni ring sarira. Udhana ngaran bayu saking siwadwara, yatika pinaka uyah. Bhyana ngaran bayu humili saking sarwa sandi pupulakna ring pupu, yatika pinaka landesan. Ndi kang pinaka palu-palu? Tapak tangan ta. Jariji kang pinaka sepit”. (mana yang dimakasud dengan Panca Bayu. Panca Bayu adalah apana, prana, samana, udhana dan bhyana. Apana adalah kekuatan dari perut atau juga disebut tempat air. Prana adalah kekuatan dari paru-paru berada ditengah tengah dada, yang berfungsi sebagai pengububan yang mengeluarkan udara yang berfungsi untuk menghidupkan api dalam pekerjaan memande. Samana adalah kekuatan yang keluardari hati, adalah api yang bertempat dalam badan manusia. Udhana adalah kekuatan dari siwadwara, itulah ibarat garam. Bhyana adalah kekuatan gaib, yang memeberi kekuatan kepada paha yang berfungsi sebagai landesan atau paron. Lantas yang manakah berfungsi sebagai palu? Adalah tanganmu. Jerijimu berfungsi sebagai sepit). *

Kategori:Bhisama
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.