Medamplang, Ritual Aneh Bikin Kapok Pencuri di Desa Antugan
Di
arak Keliling Desa dengan Barang Hasil Curiannya
“Ritu al mendam plang memi liki makna upacara yang dilakukan oleh seorang pencuri dengan cara berjalan keliling desa diiringi tabuh gamelan gong baleganjur dan juga diikuti masyarakat desa dengan membawa barang curiannya,” ritual yang unik memang, berikut ulasannya.
Reporter & Foto : Krista
Kabupaten Bangli merupakan salah satu kawasan di Bali yang banyak memiliki tradisi dan ritual-ritual unik yang tidak terdapat di daerah manapun. Salah satunya ritual medamplang yang ada di Desa Antugan, Kecamatan Tembuku, Bangli. “Ritual mendemplang memiliki makna upacara yang dilakukan oleh seorang pencuri dengan cara berjalan keliling desa diiringi tabuh gamelan gong baleganjur dan juga diikuti masyarakat desa dengan membawa barang curiannya,” kata Bendesa Adat Antugan, Nyoman Sudiana (50) saat upacara berlangsung di desa setempat pada Kamis (7/10).
Ia menjelaskan hukuman ini berlaku bagi masyarakat Desa Antugan yang sudah ditetapkan dalam perarem (peraturan) awig-awig (undang-undang) Adat Desa Antugan. Di mana dalam peraturan tersebut disebutkan warga Adat Desa Antugan yang melakukan tindak kejahatan pencurian barang-barang milik adat dan desa akan dikenakan sanksi adat.
“Sebenarnya ada dua pilihan yang harus dipilih di mana sebelumnya dilakukan sebuah musyawarah bersama 42 KK warga adat dan memutuskan hukuman apa yang harus dijalani,” kata pria berambut panjang ini.
Dalam ritual kali ini, ungkap dia, tersangka yang bernama Wayan Patri awalnya dipergoki oleh salah satu warga yang bernama Ni Tesa. Wayan Patri kedapatan mengambil tiga bilah kayu pala di depan Pura Bale Agung setempat pada 19 September lalu. Dan kemudian dilaporkan ke pemuka adat setempat. Selanjutnya dilakukan sebuah musyawarah untuk menentukan sanksi apa yang akan dibebankan. Apakah sanksi hukum Negara atau hukum adat. Dari rapat tersebut diputuskan untuk mendapatkan sanksi adat berupa ritual Medamplang ini.
Setelah disetujui oleh tersangka pencuri, akhirnya upacara digelar pada Kamis, mulai siang hari. Yang dihadiri masyarakat dan ada juga dari pihak kepolisian untuk mengamankan situasi ritual ini. Setelah semua berkumpul, tersangka diberikan pakaian khas dengan wajah dan tubuh dihiasi dengan kapur dan juga arang sebagai tanda bahwa dia melakukan kesalahan.
Setelah menjalani ritual keliling desa, tersangka kemudian sembahyang di Pura Dalem yang mana tujuannya untuk mohon ampunan dan tidak lagi melakukan tindak pencurian lagi. Selain itu jika melanggar akan kena kutukan melarat sampai tujuh turunan.
“Sebenarnya dulu sempat ada ritual ini pada tahun 1963, di mana saat itu tersangka kedapatan mencuri ayam milik desa,” ujar bendesa. Dikatakan, untuk orang yang mencuri di rumah tetangga ataupun di luar desa dan itu bukan barang milik adat maka kasusnya akan diserahkan kepada pihak kepolisian.
Untuk diketahui prosesinya bisa terbilang menarik. Ketika Wartawan Bali Aga ke Desa Antugan saat upacara berlangsung, tampak salah seorang krama naik bale kulkul dan membunyikannya pertanda masyarakat desa untuk berkumpul. Kemudian, datang mobil pick up dengan membawa barang bukti kayu curian yang selanjutnya diturunkan di bale banjar. Saat kayu diturunkan tampak pihak kepolisian Polsek Tembuku dan juga beberapa staf dari instansi di Bangli turut melihat barang bukti kayu pala yang sudah dipotong menjadi 8 bagian oleh pelaku pencurian.
Setelah semua krama berkumpul, sekaa baleganjur pun mencoba gamelannya. Selanjutnya dua orang pecalang menghampiri pencuri yang bernama Wayan Patri ini. Mereka membuka baju dan kemudian memberikan pakaian khas berupa ikat pinggang berisi kayu-kayu yang diruncingkan dan juga badong dengan jenis yang sama yakni ada kayu rincingnya.
Selanjutnya badan dan wajah tersangka dibubuhi pamor dan arang sebagai make up-nya. Selanjutnya dia diarak keliling desa mulai dari selatan kemudian terus memutar sampai selesai. Dalam perjalanan ini, tampak krama baik dari desa setempat maupun dari desa luar tampak asyik menyaksikan pencuri yang diarak dengan berpakaian aneh dan wajah dengan make up aneh serta membawa satu barang bukti dari hasil curiannya.
Selanjutnya dia dibawa ke pura dalem untuk memohon ampunan dan tidak mengulangi perbuatannya lagi. “Dengan upacara ini mudah-mudahan pelaku tidak mengulanginya lagi,” ujar Jro Mangku Dalem saat di Bale Banjar setempat.
BACA SELENGKAPNYA EDISI 43



Komentar