Dari Karya Pangurip Jagat Bali Kabeh di Pura Pucak Penulisan, Kintamani, Bangli (1)

Bersumber dari Lontar Catur Darma Kalawasan

Rangkaian pelaksanaan upacara Pengurip Jagat Bali Kabeh di Pura  Kahyangan Jagat Pucak Penulisan, Desa Sukawana, Kintamani Bangli sesuai dengan lontar Catur Darma kalawasan, yang mana konon sudah pernah dilaksanakan saat raja Bali terakhir yakni Sri Tapulung yang bergelar Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang diperkirak an dilaksanakan sekitar 700 tahun  silam

 

Reporter dan Foto : Budikrista

Sejak dibacakannya dan disalinnya lontar Catur Darma kalawasan krama pangempon pura Pucak Kahyangan Jagat Pucak Penulisan yang ada di Desa Sukawana, Kecamatan, Kintamani, Bangli muncul ide untuk melaksanakan upacara yadnya yang disebut dengan karya pangurip jagat Bali kabeh yang memiliki makna sebagai upaya niskala untuk menciptakan atau membangkitkan kekuatan Bali secara niskala.

Upacara pengurip jagat Bali Kabeh di Pura Pucak  Kahyangan Jagat Pucak Penulisan, Desa Sukawana, Kintamani Bangli dilaksanakan mulai dari 9 Oktober hingga 2 November 2010 mendatang. Pelaksanaan upacara puncaknya pada Kamis (21/10) tepatnya pukul 00.00 Wita yang rencananya dihadiri seluruh masyarakat Kintamani dan tokoh adat serta pejabat tinggi kepolisian dan pemerintahan di seluruh Bali.

“Sejak 9 Oktober lalu dimulai dengan upacara metapakan (mulai upacara) yang dipuput oleh Dane Jero Kubayan paduluan, yang kemudian pada hari-hari berikutnya dilaksanakan membuat segala perlengkapan upacara oleh masyarakat gebog domas yang jumlahnya 30 desa di Kecamatan Kintamani dan satu desa lain yakni Desa Pausan, Payangan, Gianyar,” kata Manggala Prawartaka I Wayan Jasa.

Disebutkan dalam hitungan gebog domas tersebut terdiri dari empat gebog satak (nyatur) yang masing-masing juga mewilayahi desa lainnya seperti gebog satak Sukawana, Gebog Satak Kintamani, Gebog Satak Selulung dan Gebog Satak Bantang.  Selain 1 Desa di payangan juga ada pasemetonan warga Tambyak yang ada di Pecatu, Badung, Jembrana dan Tabanan.

Ia mengatakan dalam upacara ini diperhitungkan menghabiskan biaya sebesar Rp 2,6 miliar yang dananya dihimpun dari urunan warga gebog domas yang terdiri dari 25 ribu Kepala keluarga yang mana masing-masing KK dikenai biaya upacara sebesar Rp 10 ribu saja. Kemudian nanti jika kurang akan diambilkan dari punia-punia (donasi) baik berupa uang maupun peralatan upacara.

Dilaksanakannya upacara ini, kata dia, merupakan titah yang tertuang dalam sebuah lontar yang disebut dengan lontar Catur Darma kalawasan. “Lontar ini baru kami salin beberapa waktu lalu dan dari sana baru diketahui upacara ini ternyata sudah pernah dilaksanakan oleh Raja Bali terakhir yakni Sri Tapulung yang bergelar Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang diperkirakan dilaksanakan sekitar 700 tahun  silam,” kata wayan Jasa yang juga selaku Mekel (kades) Desa Sukawana, Kintamani.

Untuk pelaksanaaan upacaranya merupakan tingkatan tertinggi dalam lontar tersebut karena menggunakan 12 ekor kerbau dan 1 ekor kijang yang dihaturkan tepat pukul 00.00 wita pada 21 Oktober nanti. Kerbau tersebut diolah (masak) dengan berbagai jenis olahan. Selain itu juga bantennya semuanya serba 12 yang berisi isi gunung, isi sawah dan isi lautan (melambangkan isi dunia).

Upacara dilaksanakan tepat tengah malam karena waktu itu merupakan masuknya bulan purnama Kelima yang dipercaya sebagai pancaran sinar suci Tuhan  yang tinggi. Selain itu juga ada hal-hal lainya yang unik serta kaitan upacara lain yang mana bisa diikuti pada edisi mendatang.

 

Categories: unik
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.