Ida Pandita Mpu Tirta Jayanti

Demi Melayani Umat, Madiksa pada Usia Senja

Lugu, polos, ramah dan murah senyum. Demikianlah sekilas yang tertangkap dari sosok sulinggih ini saat Bali Aga tangkil di grianya yang berlokasi di kaki Giri Tolangkir atau di kaki Gunung Agung. Tepatnya di Griya Taman Astika Meranggi, Banjar Pasek, Desa Muncan Kecamatan Selat-Karangasem. Lalu, apa saja yang terungkap dari sulinggih yang pada saat walakanya bernama Made Putu Dharma ini? Berikut ulasannya.

 

Selayaknya masyarakat pedesaan, terlebih lagi lahir, besar dan bermasyarakat di pegunungan, pada saat walaka Ida Pandita mengisi hari-harinya dengan bertani. Apalagi latar belakang pendidikannya tidak sampai ke jenjang pendidikan atas ataupun pendidikan tinggi. Otomatis dunia bertani menjadi pilihan profesi untuk menanggung beban ekonomi keluarga.

Jauh sebelum melinggih, Ida Pandita dikenal oleh masyarakat Desa Muncan sebagai krama yang jujur, ulet dan memiliki bakat memimpin. Hal ini kemudian melandasi krama Muncan untuk memilihnya menjadi kelian desa. Jabatan ini disandangnya sejak tahun 1979 hingga 1994 atau selama lima belas tahun.

Masyarakat Desa Muncan ternyata tidak hanya melihat Ida Pandita sewaktu walaka sebagai figur pemimpin dalam dunia sekala. Dengan kata lain masyarakat juga melihat kemampuannya dalam hal mengatur dan memimpin sebuah perhelatan yadnya. Hal ini menjadikan Ida Pandita menorehkan dirinya sebagai seorang pemangku di kahyangan Desa/Puseh setempat yang dilakoninya selama tiga belas tahun.

“Semasih walaka, tiang dipercaya sebagai kelian Desa Muncan selama lima belas tahun,” ungkap Pandita. “Tiang juga dipercaya sebagai pemangku di kahyangan Desa selama tiga belas tahun. Artinya dua puluh delapan tahun hidup tiang abdikan kepada masyarakat dan umat di seputaran Desa Muncan,” jelas Pandita 4 anak ini dengan apa adanya. Dikatakan Pandita lebih jauh, malinggih merupakan tuntunan untuk menjalani hidup sebagai umat Hindu yang bertujuan untuk menyucikan diri.

Di samping itu, malinggih memang bukan untuk muput upacara, tapi mendoakan umat, jagat agar selalu diberikan kerahayuan. Pandita pun memilih madiksa di usia senja, karena kesibukan mengabdi di masyarakat. Lebih-lebih ngayah di tengah-tengah karma desa dan manjadi jan bangul tapakan Ida Bhatara.

 

Periindikan Sulinggih

 

Nama Sulinggih                 : Ida Pandita Mpu Tirta Jayanti

Nama Griya                         : Griya Taman Astika Meranggi.

Alamat Griya                       : Barat Pasar Desa Muncan, Kecamatan Selat-Karangasem.

Didhiksa                              : Bulan Agustus Tahun 2008.

Nama Walaka                     : I Made Putu Dharma

Tempat dan Tanggal Lahir  : 27 Juli 1927

Jumlah Anak                       : 4 orang (1 orang telah meninggal dunia)

Jumlah Cucu & Kompiang : 10 cucu dan 4 kompiang.

Nama Sulinggih Istri          : Ida Pandita Istri Tirta Jayanti

Nama Walaka                     : Ni Nyoman Dundun

Nama Nabe                        : Ida Pandita Mpu Dukuh Jayanti

Alamat Nabe                      ; Griya Agung Nataran Dukuh Badeg

 

selengkapnya di edisi 43

 

 

 

 

 

Categories: unik
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.