Bergelar Ida Dalem Semaraputra di Hari Istimewa

Ir. Tjok. Gde Agung Semaraputra akhirnya dinobatkan menjadi raja Puri Klungkung. Yang mana penobatannya dilaksanakan pada umanis Tumpek Landep (Minggu 10-10-10). Dalam upacara yang digelar sangat meriah di Puri Klungkung ini, Ida bergelar Ida Dalem Semaraputra.

Reporter dan Foto : Budikrista

 

Pada hari yang sangat istimewa yang dipercaya banyak orang yakni pada tanggal 10 oktober tahun 2010 merupakan hari bahagia bagi keluarga Puri Klungkung dan juga masyarakatnya. Di mana pada waktu itu digelar upacara abiseka ratu di Puri Klungkung.

Menariknya selain memakai angka istimewa yakni 10.10 dan 10 jamnya juga ditepatkan mulai jam 10 pagi. Namun demikian sejak pukul 07.00 Wita para tamu dan masyarakat serta tokoh masyarakat se-Klungkung dan puluhan sulinggih turut hadir menjadi saksi acara suci ini.

Sesuai pemandangan di lapangan, para tamu kehormatan baik dari tokoh masyarakat dan juga sejumlah raja-raja dan perwakilan kerajaan se-Indonesia hadir dan duduk berjejer di pendopo Puri Klungkung yang memiliki nilai historik pada zaman dulu. Selain itu masyarakat Klungkung juga hadir menyaksikan upacara dengan berpakaian adat Bali ke pura. Sementara undangan untuk para Sulinggih ditempatkan di dua tempat yakni di Bale Dangin yang ada di depan merajan Agung Puri Klungkung.

Prosesi upacara dimulai dengan upacara mungkah lawang yang dilaksanakan di Gedong Puri Agung Klungkung yang lokasinya berada sebelah barat dari pada pendopo agung. Upacara sacral ini dipimpin oleh pamangku setempat dan didampingi sejumlah pemuka puri.

Selanjutnya setelah upacara mungkah lawang usai, , Tjok. Gde Agung Semaraputra ditandu menuju Merajan Puri untuk dilakukan upacara majaya-jaya dan paseleng.4 Para penandu menggunakan pakaian hitam-hitam dan dengan dua pembawa tedung seperti ibaratnya penobatan raja pada jaman dahulu. Melihat hal ini masyarakat terasa diajak kembali kejaman kejayaan kerajaan Bali yakni raja Waturenggong di Gelgel yang merupakan leluhur dari Puri Agung Klungkung. Pasalnya, saat ditandu kemerajan, para tamu dan masyarakat langsung berdiri untuk menyaksikan momen berharga ini. Tidak luput para media dan fotografer sibuk mengabadikan upacara yang belum tentu ada pada tahun-tahun berikutnya.

Saat ke merajan, Tjok. Gde Agung Semaraputra diikuti istrinya sang istri A.A. Sagung Mas Parasari sebagai pendamping ratu. Dan juga para keluarga puri utamanya anak-anak dari Tjok Agung. Walaupun merajan halamannya luas akan tetapi karena banyaknya keluarga yang ingin menyaksikan terpaksa keluarga dekat saja yang bisa masuk. Beruntung beberapa media diberikan masuk untuk mengabadikan prosesi upacara yang dipimpin oleh Ida Pedanda Putra Tembau dari Griya Aan, Klungkung.

Calon ratu duduk berjejer didampingi istri, keluarga dan sejumlah sulinggih turut mendampingi di bale dauh merajan. Sementara sulinggih sibuk muput upacara. Kemudian upacara di merajan dimulai dan fotografer kembali sibuk mengambil gambar tanpa menghiraukan terik matahari yang kebetuan sangat menyengat waktu itu.

Usai upacara di merajan baru dilanjutkan dengan upacara di Bale paselang yang sudah dipenuhi dengan banten. Selain itu saat itu kebetulan juga para Sulinggih lanang istri yang ada turut langsung menyaksikan sekaligus mendoakan. Upacara dipeselang dipuput oleh Ida Ratu Dalem. Usai itu baru bisekanya diumumkan dihadapan para raja undangan dan masyarakat yang hadir bahkan masyakat semuanya dengan perpanjangan tangan dari media yang meliput saat itu.

 

Perwakilan Raja-raja se-Nusantara Jadi Saksi

 

Salah seorang tokoh puri sempat menyebutkan pembentukan abiseka ratu bukan bermagsud untuk menyaingi pemerintahan yang demokrasi saat ini. Melainkan hal ini merupakan tradisi Nusantara yang sedianya mesti dilaksanakan karena untuk mengingatkan bahwasannya pada jaman dulu nusantara bisa bersatu karena adanya raja-raja.

Saat prosesi upacara di pamerajan, perwakilan raja-raja mulai berdatangan. Seperti perwakilan keraton dan kesultanan/raja-raja Nusantara dan raja-raja di Bali. Di antaranya Ketua Umum Forum Silahturahmi Keraton Nusantara (FSKN) Keraton Surakarta Hadiningrat, Sri Sesuhunan Paku Buwono XIII Tejo Wulan, Puri Pakualam Yogyakarta, KPH Agni Kusumo, Haryo Gunorekso Kesumo Hadiningrat (Keraton Surakarta), perwakilan Kesultanan Serdang, Sumatera Utara, Putri Mira Rosana, perwakilan Kesultanan Palembang Darusalam, Prabu Diraja Badarudin III, Keraton Banjar Kalimantan, Gusti Abidin Syah, Keraton Siliwangi, Ratu Prawira, Kesultanan Samiling Kaltim, Ratu Fahirudin dan lainnya. Mereka duduk berdampingan dengan muspida propinsi bali dan juga tokoh Se Bali yang hadir.

Yang tidak kalah menariknya juga dari penampilan pragina diiringi berbagai tarian sakral (tari wali) di antaranya, wayang, topeng, baris jangkang, wayang wong (parwa), termasuk tarian muslim Rudat yang sudah ada sejak 6 abad silam di Desa Gelgel Klungkung.

Ketua Panitia Tjok. Gde Raka Putra menyebutkan, Abhiseka Ratu pada hakikatnya untuk melanjutkan tradisi keratin. Mendekatkan diri dengan masyarakat sekaligus meneruskan kewajiban menjaga adat, budaya Bali. Pada zaman kerajaan, raja punya kekuasaan mutlak untuk mensejahterakan rakyat. Namun, setelah kemerdekaan, puri tetap eksis berkiprah pada urusan adat, budaya dan agama,” ujarnya. Yang pasti, kata dia, raja (puri) bersama pemerintah sebagai pemegang kekuasaan formal politis tetap berfungsi mengayomi dan mensejahterakan masyarakat. Kesejahteraan, kata dia, tak semata kesejahteraan fisik juga rohani.

Sebenarnya menurut Tjok. Raka, Abhiseka Ratu dirancang sejak 2005 dan rencananya digelar tahun 2008. Namun, saat itu bertepatan dengan 100 tahun Puputan Klungkung. Karenanya, saat inilah kata dia, waktu yang tepat untuk menggelar Abhiseka Ratu yang bertepatan dengan manis Tumpek.

Dulu sebelum Bali menjadi bagian dari NKRI pada 1945, sejarah Bali mencatat peran raja-raja Bali yang sangat heroik untuk mempertahankan Pulau Bali sebagai pusat agama Hindu, terutama paska runtuhnya Kerajaan Hindu Majapahit 500 silam. Atas peran raja-raja Bali, Pulau Dewata saat ini menjadi satu-satunya wilayah di Indonesia yang masih eksis nilai-nilai kehinduannya.

Categories: unik
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.