Arsip

Arsip Penulis

Bayi Aneh

Desember 14, 2009 Tinggalkan komentar

Kategori:unik

Matsya Awatara

Desember 7, 2009 Tinggalkan komentar

Dalam ajaran Agama Hindu, awatara Wisnu yang turun pertama kali adalah Matsya Awatara, dalam bahasa Sansekerta berarti ikan. Matsya Awatara muncul pada masa Satya Yuga, pada masa pemerintahan Maharaja Manu, putera Vivasvan Sang Dewa matahari, yang diyakini sebagai ayah umat manusia masa kini. Satya Yuga dalam ajaran agama Hindu, adalah suatu kurun zaman yang disebut sebagai “zaman keemasan”, ketika umat manusia sangat dekat dengan Tuhan dan para Dewa, ketika kebenaran ada dimana-mana, dan kejahatan adalah sesuatu yang tak biasa.

Hampir tidak ada kejahatan. Pelajaran agama, penebusan dosa, dan meditasi (mengheningkan pikiran) merupakan sesuatu yang sangat penting pada zaman ini. Konon rata-rata umur umat manusia bisa mencapai 4.000 tahun ketika hidup di zaman ini. Menurut Natha Shastra, di masa Satya Yuga tidak ada Natyam karena pada masa itu semua orang berbahagia.

Pada masa Satya Yuga, orang-orang tidak perlu menulis kitab, sebab orang-orang dapat berhubungan langsung dengan Yang Maha Kuasa. Pada masa tersebut, tempat memuja Tuhan tidak diperlukan, sebab orang-orang sudah dapat merasakan di mana-mana ada Tuhan, sehingga pemujaan dapat dilakukan kapanpun dan di manapun.

Satya Yuga (Krita Yuga atau Kerta Yuga), merupakan tahap awal dari empat (catur) Yuga. Siklus Yuga merupakan siklus yang berputar seperti roda. Setelah Satya Yuga berakhir, untuk sekian lamanya kembali lagi kepada Satya Yuga. Satya Yuga berlangsung kurang lebih selama 1.700.000 tahun. Setelah masa Satya Yuga berakhir, disusul oleh masa Treta Yuga. Setelah itu masa Dwapara Yuga, lalu diakhiri dengan masa kegelapan, Kali Yuga. Setelah dunia kiamat pada akhir zaman Kali Yuga, Tuhan yang sudah membinasakan orang jahat dan menyelamatkan orang saleh memulai kembali masa kedamaian, zaman Satya Yuga.

Menurut agama Hindu, keberadaan alam semesta tak lepas dari siklus kalpa. Satu kalpa berlangsung selama jutaan tahun, dan satu kalpa terdiri dari empat belas Manwantara (siklus Manu). Setiap Manwantara diperintah oleh seorang Manu. Menurut Purana, enam Manwantara telah berlalu dan Manwantara yang ketujuh sedang berlangsung. Manwantara yang sekarang diperintah oleh Waiwaswata Manu. Jadi, tujuh Manwantara lainnya akan terjadi di masa depan, dan dipimpin oleh seorang Manu yang baru.

Amanat untuk Raja Manu

Matsya Awatara turun ke dunia untuk memberitahu raja Manu mengenai bencana air bah yang akan melanda bumi. Beliau memerintahkan raja Manu untuk segera membuat perahu besar.

Pada suatu hari, saat raja Manu mencuci tangan di sungai, seekor ikan kecil menghampiri tangannya dan raja tahu ikan itu meminta perlindungan. Akhirnya beliau memelihara ikan tersebut. Beliau menyiapkan kolam kecil sebagai tempat tinggal ikan tersebut.

Dalam agama Hindu, Manu adalah pemimpin setiap Manwantara, yaitu suatu kurun zaman dalam satu kalpa. Ada empat belas Manwantara, sehingga ada empat belas Manu. Zaman sekarang adalah Manwantara ketujuh dan diperintah oleh Manu ketujuh yang bergelar Waiwaswata Manu. Manu yang pertama adalah Swayambu Manu, yang dianggap sebagai kakek moyang manusia. Swayambu Manu menikah dengan Satarupa dan memiliki keturunan. Anak cucu dari Manu disebut Manawa (secara harfiah berarti keturunan Manu), merujuk kepada manusia zaman sekarang. Menurut agama Hindu, Swayambu Manu dan Satarupa merupakan pria dan wanita pertama di dunia, sama seperti Adam dan Hawa dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam.

Waiwaswata Manu, atau Manu yang sekarang, dikatakan merupakan putra dari Surya (Wiwaswan), yaitu dewa matahari menurut mitologi Hindu. Waiwaswata Manu terlahir pada zaman Satyayuga dan mendirikan kerajaan bernama Kosala, dengan pusat pemerintahan di Ayodhya. Ia memiliki sepuluh anak: Wena, Dresnu (Dresta), Narisyan (Narisyanta), Nabaga, Ikswaku, Karusa, Saryati, Ila, Persadru (Persadra), dan Nabagarista. Dalam kitab Matsyapurana, ia muncul sebagai raja yang menyelamatkan umat manusia dari bencana air bah setelah mendapat pesan dari Wisnu yang berwujud ikan (Matsya Awatara).

Namun lambat laun ikan tersebut bertambah besar, hampir memenuhi seluruh kolam. Akhirnya beliau memindahkan ikan tersebut ke kolam yang lebih besar. Kejadian tersebut terus terjadi berulang-ulang sampai akhirnya beliau sadar bahwa ikan yang ia pelihara bukanlah ikan biasa.

Akhirnya melalui upacara, diketahuilah bahwa ikan tersebut merupakan penjelmaan Dewa Wisnu. Beliau menyampaikan kabar bahwa di bumi akan terjadi bencana air bah yang sangat hebat. Beliau berpesan agar raja Manu membuat sebuah bahtera besar untuk menyelamatkan diri dari banjir besar, dan mengisi bahtera tersebut dengan berbagai makhluk hidup yang setiap jenisnya berjumlah sepasang (betina dan jantan). Akhirnya amanat tersebut dipatuhi. Raja Manu beserta pengikutnya selamat dari bencana.

Setelah air bah yang melanda bumi surut, sang raja dan makhluk hidup lainnya menempati bumi kembali. Waiwaswata Manu mendirikan kota yang disebut Ayodhya, letaknya di Kerajaan Kosala. Di antara para putranya, Waiwaswata Manu memilih Ikswaku sebagai raja. Keturunan Ikswaku merupakan para raja dari Dinasti Surya. Para raja yang mahsyur dalam legenda India, seperti misalnya Bhagiratha dan Sri Rama, lahir dalam dinasti ini.

Kisah Matsya Awatara selengkapnya terdapat dalam kitab Matsyapurana.

Penciptaan Swayambu Manu

Dalam kitab Brahmapurana (dan juga Purana lainnya), diceritakan bahwa Swayambu Manu tercipta dari tubuh Brahma. Pasangannya, yaitu Satarupa, diciptakan bersamaan. Mereka kemudian menikah lalu memiliki tiga orang putra, yaitu Wira, Priyabrata, dan Utanapada. Purana lain menyebutkan bahwa Swayambu Manu juga memiliki seorang putri bernama Prasuti. Keturunan mereka kemudian disebut Manawa.

Kitab Matsyapurana memiliki versi yang berbeda mengenai kisah penciptaan Swayambu Manu. Dalam kitab Matsyapurana diceritakan bahwa Brahma menciptakan seorang wanita cantik bernama Satarupa. Kemudian Brahma menikahinya lalu lahirlah Swayambu Manu. Dengan demikian, maka Swayambu Manu adalah putra dari Barhma dan Satarupa. Atas usaha meditasi yang keras, Swayambu Manu memperoleh seorang istri bernama Ananti. Dari hubungan mereka, lahirlah Priyabrata dan Utanapada.

Banyak kitab Purana yang memiliki kisah mengenai keturunan Swayambu Manu, dan banyak pula berbagai perbedaan antara kisah pada kitab yang satu dengan kitab lainnya. Meskipun demikian, terdapat banyak persamaan yang bisa dihimpun.

Menurut kitab Purana, Utanapada memiliki putra bernama Druwa. Keturunan Druwa bernama Pracinawarhi (kadangkala dieja Pracina Werhi). Pracinawarhi memiliki sepuluh putra yang dikenal dengan sebutan para Praceta. Para Praceta menikah dengan Marisa (hadiah para dewa), lalu berputra Daksa. Kemudian para putri Daksa menikah dengan Resi Kasyapa, lalu lahirlah leluhur berbagai spesies makhluk hidup di muka bumi.

Daksa putra Praceta berbeda dengan Daksa yang lahir dari jempol kaki Brahma, yang menjadi salah satu Prajapati.

Kategori:unik

EDISI TERBARU : EDISI 49

Desember 6, 2009 Tinggalkan komentar

” MENGUASAI DUNIA”
dengan Rp 10.000,-
Inilah cover tabloid Bali Aga untuk Edisi 49
beli tabloidnya, baca beritanya.

Kategori:unik

Desember 6, 2009 Tinggalkan komentar

Membuat Historical Foto Buat Hiasan Dinding

Software : Adobe Photoshop CS doang.

Kadang kita suka kehabisan ide untuk membuat hiasan dinding pake foto-foto kenangan. Saya kasih solusi amat sangat sederhana tapi keliatan elegan yang mungkin bisa dipake yaitu Membuat Historical foto ( foto bersejarah ) dalam 1 Frame ukuran 10R.

Ada beberapa ukuran 10R tapi Saya pake ukuran 10R Small (20×25 cm ) – CMIIW ( Correct Me If I’m Wrong) :)

Daftar Ukuran Standard Foto buat Cetak :

ukuran foto

Caranya.. buat dokumen baru Ukuran 10 R Small ukuran 20 x 25 cm – ., Bisa juga dibuat dengan ukuran-ukuran yang tertera di atas tapi sesuaikan dengan keperluan aja..Tapi yang penting resolusi nya 300 px. karena buat dicetak nantinya.

edit foto1

Atur jendela dokumen agar dalam edit foto nanti mudah.. Misal diberi garis bantu.. Caranya :

Klik View > Ruler ( Untuk menampilkan Penggaris di samping kiri dan atas)

Klik View > Snap ( supaya cursor mouse langsung menempel kalo ada garis bantu atau di tengah Dokumen untuk menandakan Letak titik tengah)

Buat garis bantu Horizontal : klik di penggaris di atas lalu Drag ke bawah.. atur..

Buat garis bantuVertikal : Klik penggaris di samping kiri lalu DRAG ke kanan.. atur..

edit foto2

Pokoknya atur sedemikian rupa, supaya dalam pengeditan jadi mudah dan gampang.. iya tho? mantep tho? hehehe..

Siapin foto-foto (6 Foto) sejarah nya.. saya pake Foto Anak saya dari umur 5 bulan sampe 5,5 Tahun (sekarang) Pilih saja foto-foto yang bisa mewakili setiap story. Jadi disini saya pake foto anak saya waktu umur 5 bulan, 1, 2 ,3 , 4, dan 5 tahun. Ayo cari foto-foto bersejarah .. kan bagus buat diabadiin. masih inget kan Stop Dreaming Start Action

Oke .. sekarang kita buka satu persatu.. saya buka foto waktu umur 5 bulan dulu..

edit foto3

Crop ..! sebelum di crop, atur dulu sehingga hasil crop nya sesuai dengan kemauan kita.

Setelah di crop.. Drag ke Dukumen baru tadi..

edit foto4

Buat garis bantu lagi.. supaya nanti lurus dengan foto bawah dan samping nya..

Crop foto kedua.. dengan settingan yang sama dengan pertama..

edit foto5

Singkatnya .. Edit semua foto / Crop dengan ukuran yang sama .. hasilnya

edit foto6

Hasilnya :

edit foto7

Save Ke JPEG…

Cetak di FUji Film atau Adorama atau Tempat cetak dengan ukuran 10R Mode nya DOFT.. jangan Glosy yaa untuk hasil lebih bagus.

NOTE : Garis bantu gak akan kecetak, itu sekedar garis bantu aja..

Kalo sudah selese cetak.. Bingkai pake bingkai kayu warna putih.. hasilnya pasti keren.. saya juga pake metode ini buat hiasan dirumah.. hehehe.

Sekedar Share aja.. moga-moga manfaat. .

Artikel Membuat Historical Foto Buat Hiasan Dinding ini dipersembahkan oleh Tutorial Photoshop Gratis. Kunjungi Wallpaper, Font, Desktop Theme Gratis Pokoknya Serba Gratis. Baca Juga Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang, untuk mengetahui lebih jauh tentang Pandeglang sebagai Objek Wisata yang patut diperhitungkan karena keindahannya.

Kategori:Uncategorized

Pemuteran Wong Menggat Mwang Dusta

Desember 5, 2009 Tinggalkan komentar

Semua orang akan melakukan berbagai upaya dan langkah untuk melindungi harta bendanya dari jarahan pencuri. Uapaya itu dilakukan bisa dengan cara sekala maupun niskala. Secara sekala dengan cara membuat pagar, tembok, memasang benda-benda tajam, dan lainnya. Sementara secara niskala, sering memagari dengan kekuatan magis, dengan cara memasang sarana yang telah diberi kekuatan, sehingga pencuri itu tidak bisa masuk ke rumah, pekarangan, kebun serta tempat di mana sarana itu dipasang.

Bahkan diyakini ada kekuatan yang bisa digunakan untuk mencelakai pencuri itu dengan cara khusus, tetapi tak sembarang orang bisa melakukannya, melainkan orang yang memiliki kekuatan olah bhatin tinggi untuk menghidupkan sarana serta rerajahan yang digunakan. Seperti yang dikutif dalam lontar yang disusun oleh I Gusti Nyoman Djelantik Srongga, berjudul Pemuteran Wong Menggat Mwang Dusta.

“Sanghiang Puter Putih, Puter Bhuana, Puter Dewa Nawasangan. Iki ne wenang mejahang dusta, manih ne wenang tineben denining iki lwirnia, yening sraja druene sampun ilang, wenang katibakin. Malih tingkahe sig pagenahan duwene ilang, parakang di tanah wenang nganggen srana kadi iki. Aon diarep pajalikan di paon, 11 sangkop, worakena uyah,mica,tabiabun cakcak adukang, usania sasahang di genahe usan ilang, raris rajah antuk kaktik sate asem 2 katih, pagenti ya anggon”.

‘ Iki rajahnia; Kurubing kutageni arania, wus rinajah pacek bahan pangrajahnia , tugel-tugel pangarajahe manih tajepin. Ne wenang pacek, trasnia, tatania mwang bilang buku wenang pacek, manih tajepane wenang bebehin bija kuning, malih dimanglekase , wenang canang kampuh sagi-sagi genep. Wenang pingitakena  juga, yenia pageh anemu lara pati sang corah.’

Iki mantrania; Om Sanghiang Candra ya namah swaha, ih sanghiang puter putih saka wetan, yen ana wong pecadi ring si anu, nemu doraka corah, anyolong sahananing kacolong mwang  saraja druwene si anu, ana pamastunira sanghiang puter putih ring sang corah, yen kita arep maring wetan, ana pamastunira hiang iswara, kawastu kita salantang jalan salah ualah,  moga kita tan ana suwe anemu ala pati ring awan wastu 3.Sang corah yen kita arep maring kidul, wetan ana pamastunira  Sanghiang Isora , kawastu kita salah  jalan salah ulah,  moga kita tan ana suwe anemu ala pati ring awan, wastu 3. Sang corah yen kita arep kita ring kidul,  ana pamastunira Sanghiang Brahma, kawastu sira salah jalan salah ualah,  moga kita tan ana suwe anemu ala pati ring awan wastu 3. Sang corah yen kita arep kita ring kidul kulon, ana pamastunira Sanghiang Rudra, kawastu sira salah jalan salah ulah,  moga kita tan ana suwe anemu ala pati ring awan wastu 3. Sang corah yen kita arep kita maring kulon, ana pamastunira Sanghiang Mahadewa, kawastu kita salah jalan salah ulah, moga kita tan ana suwe anemu ala pati ring awan wastu 3. Sang corah yen kita arep kita maring lor kulon, ana pamastunira Sanghiang Sangkara, kawastu sira salah jalan salah ulah,  moga kita tan ana suwe anemu ala pati ring awan wastu 3. Sang corah yen kita arep kita maring Lor, ana pamastunira Sanghiang Wisnu, , kawastu sira salah jalan salah ulah,  moga kita tan ana suwe anemu ala pati ring awan wastu 3. Sang corah yen kita arep kita maring  lor wetan,  ana pamastunira Sanghiang  Sambu, kawastu sira salah jalan salah ulah,  moga kita tan ana suwe anemu ala pati ring awan wastu 3. Sang corah yen kita arep kita maring tengah,  ana pamastunira Sanghiang Putteringbuwana, kawastu sira salah jalan salah ulah salah ucapan, apan Sanghiang Puter Putih, Sanghing Puterbuwana, manrahang kita ring batara watek Nawasangane, batara mamastu kita, menemu ala patinta norana suwe, kita anemu ala patinta, moga kita mati makakaruh, moga kita mati alungguh, mati angadeg, mati anganggur, mati anguyuk, mati amangan, mati anginum, mati aturu, mati angipi, mati makemuh, mati mejun, mati mangenceh, mati, mapees, mati mawedak, mati malemurud, wastu 3. Moga kita mati madius, mati sinandering gelap, mati kaselang uga, mati magantung, mati manunduk, mati katebek dening wong edan, mati sinaraping mregepati, mati sinahuting ula mandi, mati anud, mati sinaraping ulam agung, mati labuh, mati tepen taru, mati  sapalakunira wong corah, kawinastu anemu ala patinta, wastu 3.  Apan Sang Jahtasmat, moga anurut sapamastuniraSanghiang Puterinngbuwana, wastu Sang Doraka Corah kena kasawang, wastu tata, astuya namah, Poma 3 X. Kekuatan rerajahan ini akan berguna maksimal apabila orang yang bersangkutan memiliki keahlian khusus dalam bidang ini.

Kategori:Utama

Menyingkap Pemuteran Wong Maling

Desember 5, 2009 Tinggalkan komentar

Zaman serba maju, kebutuhan juga semakin kompleks, maling pun semakin merajalela. Semua kehidupan tidak bisa dilakoni tanpa uang. Bagi yang imannya rendah, kesulitan ekonomi dilakukan dengan berbagai cara. Bagaimana mencegah kemalingan di masing-masing rumah?

Persaingan hidup yang makin ketat, ditambah gaya hidup manusia yang glamour, gengsi tinggi, konsumtif, salah satu faktor manusia ingin mendapatkan harta dengan berbagai cara. bahkan dharma tidak lagi menjadi landasan untuk mendapatkan rejeki.  Dengan kondisi tersebut, tidak mengherankan banyak terjadi kasus-kasus korupsi, pungli, premanisme, penipuan melalui kedok sms berhadiah.

Bahkan, ada modus canggih belakangan muncul, yaitu pelaku dengan pongahnya menelpon keluarga yang sedang tenang-tenang di rumah dengan mengabarkan anggota keluarganya ditimpa kecelakaan parah. Ujung-ujungnya disuruh menyetor uang jutaan rupiah untuk biaya pengobatan/operasi di rumah sakit.

Lebih aneh lagi, di conter-conter penarik uang melalu ATM, juga tidak kalah serunya cara penipuan dengan mudah dan gampangnya. Yaitu menjebak pemilik ATM ketika ATM-nya nyantol dengan menawarkan jasa nomor telpon ketika terjadi masalah. Si penipu minta nomor pin-nya. Begitu ATM ditinggalkan pemiliknya, sang penipu datang ke tempat anjungan bukannya menolong, melainkan langkah kaki tanpa merasa berdosa menguras uang pemilik ATM. Ketika pemilik ATM kembali ke anjungan, mereka  keteteran bersambut raut wajah kecut dan kecewa besar,  karena saldo uangnya sudah ludes dicaplok penipu yang hanya ingin kaya tanpa membanting tulang.

Dengan cara-cara tersebut, begitu pongahnya mencari makan, tanpa peduli orang lain tersiksa atau bagaimana caranya orang mengumpulkan uang, penjahat tidak mau ambil pusing. Yang penting mereka mendapat uang, tidak peduli apakah berdasarkan dharma atau jahat.

Makanya, bagi pemilik uang atau mereka yang merasa punya uang banyak di bank, waspadai ketika ada sms nyasar, atau jangan percaya begitu saja dengan informasi yang yang diberikan. Begitu juga, jangan panik kalau ATM tidak bisa menarik uang. Tenanglah dulu, jangan tinggalkan lokasi.

Untuk itu, khusus untuk di rumah masing-masing, juga sering terjadi pencurian yang semakin menggila. Tidak pandang siang hari, malam hari. Yang penting ada kesempatan. Sungguh pun stang sepeda motor sudah dikunci, maling tidak pernah bodoh.  Begitu juga yang namanya maling tidak akan pernah berpikir kentara atau tidak. Yang penting ambisi untuk punya harta dengan gampangan, tanpa keluar keringatan adalah tren.

Begitu juga, petugas yang punya wewenang, tidak segan-segan menerima pungli dari sang supir, tidak ada rasa malu, walaupun di depan orang banyak. Dengan kondisi demikian, salah siapa apakah menyalahkan zaman atau prilaku manusia yang tidak tahu malu? Pelaku kejahatan tidak hanya orang bawahan atau orang miskin, orang kaya yang punya tahta kekuasaan pun tidak pernah merasa malu, hanya saja caranya berbeda. Sulit dilihat atau dibuktikan dengan hitam di atas putih atau dengan kasat mata. Karena sistem sudah dibuat seperti itu.

Sekarang, jagalah citra diri, citra keluarga, citra tanah kelahiran sampai citra nusa dan bangsa. Tanpa ada rasa malu, kapan pun di manapun, tidak akan ada kemajuan apa-apa, hanya uang yang menjadi ukuran hidup manusia. Akhirnya tidak pernah ada kenyamanan, kesejahteraan, kedamaian di dunia ini. yang ada hanya perasaan cemas, cemas meningglkan rumah, cemas di perjalanan, cemas melakukan aktivitas dan cemas di mana dan kapan saja. Karena begitu gampangnya menemukan kejahatan. Jarak orang baik dengan orang jahat begitu dekatnya. Siapa tahu selepas dari bank ada orang yang dikira orang baik menguntit dari belakang, ternyata orang jahat.

Untuk itu, satu-satunya jalan adalah mohon petunjuk kepada Hyang Widhi agar diberikan jalan. Caranya, sebelum berangkat, luangkan waktu barang seberapa menit untuk berdoa, sembahyang, mohon pamit kepada Ida Bhatara, leluhur di merajan atau kepada nyama papat agar diberikan keselamatan dan tuntunan supaya tidak ada orang berniat jahat kepada diri kita sendiri. = tra

Penyengker Gaib Bulu Kukang

Ternyata antara perbuatan baik dan buruk sudah ada yang mengatur, artinya ada sastra yang melandasi orang bisa atau dibolehkan berbuat baik atau jahat. Termasuk profesi pencuri pun sudah ada anggah-ungguhnya, ada hari baiknya, ada sastranya yang memberikan tuntunan. Itu maling di zaman dulu, atau setidak-tidaknya maling-maling di zaman tetua kita.

Coba saja baca darma pamalingan, tampak maling, aji pamalingan, diberikan tuntunan bagi mereka yang ingin melakukan pencurian.  Sehingga yang layak dicuri hartanya tidak boleh sembarangan. Siapa yang boleh dicuri barangnya, lalu untuk apa hasil kejahatan tersebut, tidak semata-mata untuk kepentingan pribadi. Lantas, disebut dengan maling dermawan. Karena hasil kejahatan bisa saja untuk kepentingan orang yang tidak mampu atau orang miskin.

Bagitu juga, darma pamalingan tidak membenarkan membunuh korban, juga bagaimana caranya menggunakan sasirep, siapa saja yang boleh dipasang sasirep. Orang yang bisa dicuri adalah orang yang rakus terhadap harta orang lain, seperti pedagang mencari untung terlalu banyak, orang kaya pelit, kikir dan orang senang menipu atau lintah darat.

Maling darmawan kini tidak masih ditemukan. Justru maling melakukan aksinya dengan sembarangan, yang penting ada kesempatan, tidak pandang bulu, apakah orang yang dicuri merasa takut atau orang baik-baik.

Anehnya lagi, pencuri di zaman sekarang justru lebih banyak menimbulkan korban nyawa. Sehingga, orang yang kecurian selain harta lenyap alias dimaling, juga nyawanya terancam, nyawa melayang di tangan penjhat, bahkan sangat menakutkan. Perubahan sangat drastis kalau dibandingkan dengan dasar-dasar orang mencuri.

Karena didasarkan atas aturan main, jarang sekali maling di zaman dulu kentara. Bahkan sulit dicari jejak si pencuri. Kenapa sulit dilacak? Karena maling bersangkutan tidak sembarangan mencari hari yang baik. Pencuri zaman dulu sangat perhitungan mencari hari baik, termasuk arah mana yang dituju. Sehingga maling selamat dari kejaran bahkan seolah-olah maling mendapatkan tuntunan.

Sekarang pertanyaannya, adakah cara menangkal pencuri agar tidak leluasa bisa masuk ke pakarangan atau ke lokasi kebun milik seseorang. Seorang Jro Dasaran Kadek Suwini menjelaskan, banyak cara menjebak maling agar tidak leluasa bisa masuk ke rumah atau menggarong milik si empunya.

Lanjut Jro Dasaran asal Banjar Binong, Desa Werdi Bhuwana, Mengwi, Badung menguraikan, sarana yang sudah pernah dipratekannya dengan menggunakan sarana bulun kukang. Bulun Kukang, ujar ibu satu putri angkat ini, handaknya dibuat atau diracik oleh orang yang benar-benar mampu membuatnya. Karena diperlukan tahapan-tahapan secara niskala agar sengker bulun Kukang bisa meranen.

Balian usia 57 tahun memaparkan kembali, bulun (baca bulu) kukang dimasukan ke dalam botol ukuran kecil. Diisi dengan beras secukupnya. Terus dimohonkan dengan puja dan puji bahasa bebas (saa), intinya mohon kepada Ida Bhatara, atau sasuhunan agar bulu kukang ikut menjaga pekarangan atau lokasi yang dimohonkan sengker. Dilengkapi dengan sarana upakara segehan manca warna. Setelah lengkap dibuat dengan cara sederhana atau sudah diyakini memiliki energi niskala, botol yang berisi bulu kukang ditanam setiap di sudut pekarangan sebanyak empat.

Disebutkan Jro Kadek Suwini yang sudah lama ngiringan, masa tenggang atau kekuatan dari sengker bulun kukang ini sampai lima tahun. Setelah lima tahun masa kerjanya, bisa diotonkan lagi atau istilah niskalanya dihidupkan kembali dengan segehan manca warna. Karena jangka waktu lima tahun sudah tidak efektif lagi, dan sudah perlu ditambah energi lagi.

“Apa yang dibuat ini, lakukan dengan keyakinan yang sangat tinggi, juga si pembuatnya diperlukan orang yang sudah wikan atau mempunyai kekuatan bathin yang sudah handal,” tegas Jro Kade Suwini.  Dengan cara ini, diharapkan maling tidak mudah melakukan aksinya. Sekarang sudah zaman maju, upaya niskala ini masih bisa menangkal maling, sebaliknya kemajuan zaman sudah ada alat canggih untuk menangkal maling.

Kategori:Uncategorized

Maling Budiman dalam Darma Pamalingan

Desember 5, 2009 2 komentar

Dalam Lontar Darma Pamalingan dan Aji Pamalingan, tercantum rambu-rambu dari profesi maling tradisional, siapa saja yang boleh dicuri, perhitungan hari yang baik untuk mencuri dan ajimat untuk melumpuhkan sengker gaib rumah korban. Maling tradisional yang mengacu pada dua lontar tersebut, melakukan aksinya tanpa jejak dan tanpa kekerasan.

Terciptanya berbagai bentuk ajimat yang fungsinya disesuaikan dengan kebutuhan pemesan oleh para waskita, membuat ada dua sisi yang berbeda dari kasiat ajimat yang beredar di kalangan masyarakat, yakni jimat yang fungsinya mengarah jalur kanan (kebaikan), dan yang mengarah ke jalur kiri (kejahatan).

I B Putra M Aryana seorang dosen Sastra di sebuah Universitas di Bali ini menyebutkan ada banyak benda-benda bertuah yang bisa dipakai untuk melindungi pemiliknya dari pengaruh-pengaruh negatif. Namun ada banyak pula benda-benda gaib buatan manusia atau pun yang asli produk alam memiliki kegunaan untuk melancarkan usaha-usaha para penjahat melancarkan aksinya.

“Jika ditengok ke belakang, dalam sejarah Bali yang tertuang dalam lembaran-lembaran daun lontar, ada banyak kisah menarik tentang “maling budiman”, yang untuk selanjutnya menjadi figur protogonis pembela rakyat miskin dari dominasi keuangan para “lintah darat”,” ujarnya.

Profesi rendah seorang pencuri kemudian dipandang sebagai orang budiman, lantaran ia membagi-bagikan harta hasil curiannya pada rakyat miskin, di mana sasaran aksinya adalah orang kaya yang pelit dan kikir. Kisah heroik klasik pencuri seperti ini, terdapat hampir di setiap penjuru dunia.

Di Bali, kisah seperti ini tertuang dalam Babad Bendesa Manik Mas. Adalah KI Gedar dan Ki Sleseh, yang dikisahkan menjadi maling budiman. Lewat profesinya ini kejayaan Bedesa Manik Mas yang sempat runtuh lantaran serangan Raja Timbul (Sukawati) dikembalikan oleh Dalem Sukawati.

Ki Gedar dan Ki Sleseh dalam aksinya memakai jimat yang dinyatakan anugerah dari Ida Bhatara Tanah Lot, hingga aksinya ini tidak bisa dilacak oleh para prajurit maupun telik sandi kerajaan Sukawati, hingga kemudian Dalem Sukawati sendiri terjun ke lapangan memburu maling budiman ini.

Profesi maling seputar Swadarmaning Maling (aturan mencuri), tertuang dalam lontar yang disebut dengan Aji Pamalingan, Darma Pamalingan dll. Jika profesi pencuri mengikuti pola-pola yang dinyatakan menjadi rambu-rambu maling (swadarmaning maling), niscaya kasus pencurian yang membabi buta dan tak segan membunuh korbannya, tidak akan pernah dijumpai.

Dalam lontar Aji Pamalingan dan Darma Pamalingan, dengan jelas tertera kriteria orang yang boleh dicuri, tentang penggunaan aji sasirep (cara gaib menidurkan korban), aji maya-maya (menghilang), jimat-jimat yang baik dipakai pegangan dan perhitungan cermat hari-hari yang cocok melakukan aksi.

Sedangkan dalam lontar Paukiran keris dan Cakcakan keris, dijelaskan bentuk-bentuk dan pamor keris yang sangat baik jika dipakai mencuri (kris lapahan belah ring awak),  senjata ini bukanlah untuk menusuk, mengancam atau membunuh korban, namun untuk melengahkan pemilik rumah, para penjaga sekaligus pelindung gaib rumah tersebut. Keyakinan, tuah keris yang dipakai pegangan untuk mencuri akan punah jika dipakai menakut-nakuti atau membunuh korban membuat maling-maling tradisional yang memakai aturan-aturan dari darma pamalingan dalam aksinya tidak pernah menghunus kerisnya.

Lewat perhitungan hari sunia (sepi) yang cermat serta pusaka atau ajimat yang dibawa, membuat maling-maling tradisional ini dalam melakukan aksinya tanpa meninggalkan jejak atau pun kekerasan. Korbannya baru merasa kecurian setelah mereka (pencuri) jauh meninggalkan lokasi.

Aturan dari darma pemalingan hanya membolehkan para pencuri untuk mencuri ke rumah orang-orang kaya yang kikir, lintah darat, pemungut pajak yang tanpa etika, pedagang yang terlalu banyak mencari untung, pedagang yang sering bertengkar dan berkata kasar, para calo, pejabat yang jahat (tanda mantri acorah durlaksana), raja yang tidak memperhatikan kesejahteraan rakyatnya (Sang Angawerat tan angagem ing darma niti), dan lain lain yang mengarah ke orang yang mencari kekayaan dengan jalan tidak manusiawi. sta

Kategori:Utama

Dewi Laksmi

Desember 5, 2009 Tinggalkan komentar

Menurut Vishnu Purana, Lakshmi adalah putri Bhrigu dan Khyaati dan berada di sorga. Karena kutukan dari Durvasa, dia Swarga kiri dan membuat rumahnya.  Dengan kata lain kekayaan, harta benda, kecantikan, rahmat, menggiurkan, kemuliaan, di dalam Mahabharata.

Kekayaan, kemakmuran, kemurnian, dan kedermawanan selalu dihubungkan dengan Dewi Laksmi. Dewi Laksmi juga diwujudkan dengan sosok yang mempesona. Penyajian-penyajian Lakshmi ditemukan juga di dalam monumen-monumen Budha, yang diketemukan awalnya oleh arkeolog.

Dewi Laksmi adalah pasangan dari Dewa Vishnu. Seperti Rama menikah (di dalam  inkarnasi nya seperti Sita) dan Krishna sebagai Rukmini. Evolusi dan Legenda-legenda Deva dan Asura kedua-duanya  mereka mengocok samudra dari susu. Wisnu sebagai kurma Awatara,” kura-kura darat yang di atasnya ditempatkan sebuah gunung.

Dalam wujudnya ini, Dewa Siwa memberikan kekebalan kepada seorang gadis cantik jelita Lakshmi, putri raja samudra yang seperti susu. Terakhir dimunculkan adalah” madu dari kekekalan. Kemudian Dewi Laksmi dinikahinya.

Menurut Vishnu Purana, Lakshmi adalah putri Bhrigu dan Khyaati dan berada di sorga. Tetapi karena kutukan dari Durvasa, dia Swarga kiri dan membuat rumahnya.  Dengan kata lain kekayaan, harta benda, kecantikan, rahmat , menggiurkan, kemuliaan, di dalam Mahabharata.

Mahalakshmi adalah kepemimpinan terbaik dari peristiwa terkecil dari Devi Mahatmya.  .Di sini dia dilukiskan ketika Devi di dalam  wujud universalnya seperti Shakti. Devi untuk membunuh Mahishasura dibentuk oleh cahaya-cahaya dari semua para dewa.

Dewi Laksmi digambarkan ketika delapan belas dawai bantalan bersenjata embun/manik-manik-embun/manik-manik, kapak bergagang panjang, simpang siur jalan, panah, halilintar, bunga teratai, busur, cerek penyiram, tongkat, tombak, pedang, perisai, bel, anggur, cangkir; piala, trisula, simpul tali gantungan dan cakram sudarsana. Dia mempunyai suatu kompleksitas. Dewi Laksmi didudukkan di suatu bunga teratai. Dia juga dikenal sebagai Ashta Dasa Bhuja Maha Lakshmi. Dia dilihat pada dua wujud, Bhudevi dan Sridevi, kedua-duanya yang manapun sisi  dari Sri Venkateshwara atau Vishnu. Bhudevi adalah penyajian dan secara total dari Material dunia atau energi Bumi.

Lakshmi adalah kuasa (tenaga dan Maya dari Tuhan Vishnu. Semua dewi berbeda  di dalam kuil untuk semua dewa Hindu adalah penjelmaan-penjelmaan, atau wujud-wujud berbeda Lakshmi. Kehadiran Mahalakshmi adalah juga ditemukan di Tuhan  Sri Venkateswara atau dada Vishnu, pada hatinya. Lakshmi adalah perwujudan Dari Cinta. Dia adalah juga personifikation energi spiritual di dalam kita (kami dan alam semesta memanggil Kundalini.

Dia dikenal sebagai sangat lekat dihubungkan dengan Bunga teratai, dan banyak nama yang dihubungkan dengan bunga. Seperti : Padma, Kamala, Padmapriya : Orang yang seperti bunga teratai. Padmamaladhara devi : Orang yang memakai suatu karangan bunga dari bunga teratai. Padma mukhi : sebagian wajahnya adalah sebagai bunga teratai. Padmakshi, Padmahasta, Padmasundari: Orang yang adalah sebagai indah/cantik sebagai suatu bunga teratai. Vishnupriya, Ulkavahini: Orang yang mengendarai burung hantu.

Nama-nama yang lainnya memasukkan: Rama, Indira, Manushri, Chakrika, Kamalika, Lalima, Nandika, Rujula ,Vaishnavi, Narayani, Bhargavi, Sridevi, Chanchala, Bhumi Devi,  Jalaja, dan Aiswarya adalah juga dikenal sebagai Jaganmaatha (ibu dari segalanya) di dalam Shri Mahalakshmi Ashtakam.

Secara phisik, Dewi Lakshmi digambarkan sebagai suatu Ibu jujur, dengan empat lengan, berpakaian bagus dan permata-permata mahal, menganugerahkan koin-koin dari kemakmuran dan diapit oleh gajah-gajah menandakan kuasa. Fitur paling mencolok dari ilmu arca dari Lakshmi adalah bunga teratai. Arti dari bunga teratai dalam hubungan dengan Shri Lakshmi mengacu pada kemurnian dan kuasa rohani. Memakukan di dalam lumpur tetapi bunga di atas air, dengan sepenuhnya tidak terjangkit oleh lumpur, bunga teratai mewakili kesempurnaan upacara agama dan otoritas yang naik di atas pencemaran duniawi.

Perayaan  di dalam Hindu masyarakat

Pemujaan untuk Dewi Laksmi kebanyakan di Diwali. Menurut orang-orang tradisi akan menaruh lampu minyak kecil di luar rumah-rumah mereka di Diwali dan harapan Lakshmi akan datang untuk memberkati mereka. Selama satu malam ketika bulan purnama itu percaya, dia kekayaan akan muncul.

Mereka memuja Dewi Laksmi bertujuan untuk memperoleh atau untuk memelihara kekayaan. Kekayaan akan datang diyakini bila saja rumah itu semua yang bersih dan di mana orang-orang adalah bekerja keras. Dan tidak mengunjungi tempat-tempat yang kotor/kotor atau di mana orang-orang  malas.

Gaja Lakshmi Puja

Gaja Lakshmi Puja dirayakan di dalam Sharad Purnima, penuh bulan hari di dalam Oriya bulan dari Aswina (September-October). Musim gugur ini festival adalah salah satu dari festival paling populer dan penting dari Orissa. Dewi dari kekayaan dipuja untuk suatu hari dan dalam beberapa menempatkannya dirayakan selama 7 hingga10 hari. dan festival dengan taat dirayakan oleh komunitas pebinis. Di mana-mana Orissa secara mewah menghias dan gambaran-gambaran indah/cantik dibuat dari Lakshmi.

Kategori:unik

Pura Tamansari Agung, Kerobokan

Desember 5, 2009 Tinggalkan komentar

Panyungsungan Pasek Kayu Selem Berlimpah Berkah

Pura yang satu ini, berlokasi di jalan raya Kerobokan menuju Canggu, adalah pura sungsungan warga Pasek Kayu Selem, tapi prakteknya memberikan berlimpah-limpah berkah bagi umat dari mana saja. Karena terdapat berbagai keunikan. Salah satunya yeh klebutan yang manfaatnya sangat ampuh untuk sembuhkan berbagai penyakit dan tirta panglukatan. Berikut ulasan selengkapnya.

Pura Tamansari Agung yang terletak di Butyeh, Banjar Anyar Kaja, Desa Adat Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Badung erat kaitannya dengan Pura Peti Tenget. Ini diketahui dari Bhisama Ida Bhatara Kawitan Leluhur Penyungsung/Pengempon dan penyiwi Pura Tamansari Agung terdapat pada lontar yang ada di Pura Tamansari Agung.

Disebutkan sejarah Pura Tamansari Agung, merupakan parahyangan linggih Ida Bhatara sebagai tempat semua umat Hindu menghaturkan sembah bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi sane mapragayang Sang Hyang Siwa mapelemahan ring marcapada dados Sang Hyang Daniswara. Beliau dalam menjalankan sesana kawikuan atau Brahmana Siwa nyukla Brahmacari. Sang Hyang Daniswara merupakan dewane balian yang menjalankan tetambaan dan memberikan panglukatan segala leteh di jagat ini.

Ida Bhatara Dalem Samudralah yang disungsung di Pura Tamansari Agung ini. Kisah Ida Bhatara berasal dari Laut Kidul maperagayang wiku (Brahmana Siwa) yang nyukla Brahmacari. Ida Bhatara membawa tirta Sudamala dan ditempatkan di bulakan yang ada di gedong pangresikan pada utama mandala. Inilah yang digunakan untuk matetamban untuk setiap umat yang mengalami kesusahan. Ida Bhatara Dalem Luhur Tamansari Agung masemeton sareng Ida Bhatara Dalem Luhur Peti Tenget yang menguasai lautan, Ida Bhatara Dalem Luhur Mas Ceti Ulun Tunjung yang menguasai sawah dan tegalan (subak), Ida Bhatara Dalem Luhur Panepi Siring yang menguasai alas panepisiring sebagai tameng jagat Badung dari sisi barat.

Pura Tamansari Agung dibangun oleh leluhur pretisentana Ida Bhatara Kawitan Warga Pasek Kayu Selem yang saat itu terdiri dari empat keluarga dari Gua Song, Songan, wilayah Gunung Batur. Mereka diperintahkan Ida Bhatara Kawitan mencari tirta klebutan (sumber mata iar) Sudamala yang keluar dari ibu pertiwi (ksititala) yang ada di pasisi kelod Bali. Tempat yang terlihat hitam puun ketika Ida Bhatara Kawitannya melakukan yoga semadhi.

Dipastikanlah tempat itu tidak lain Pura Tamansari Agung seperti saat ini terletak di Butyeh, Desa Adat Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Keberadaan pura diperkirakan pada tahun saka 933 (1011 Masehi) sebelum Majapahit menguasai jagat Bali yaitu pada tahun Saka 1265 (1343 Masehi) sudah ditemukan pada Purana Pura Petitenget ketika Ida Dang Hyang Nirarta dari Jawa melaksanakan dharmayatra semadhi pada bulakan Sudamala Tamansari. Barulah kemudian melanjutkan perjalanan ke jagat Gelgel-Klungkung.

Sebagai pangempon pura, warga Pasek Kayu Selem di Butyeh. Sedangkan panyiwi pura merupakan presanak dan ke putu dari Ida Bhatara Tamansari Agung terdiri dari delapan pura, antara lain : Pura Pancoran Butyeh, Pura Hyang Warga Pasek Kayu Selem Batan Tanjung Gangsian, Pura Hyang Warga Pasek Gelgel Aan Butyeh, Pura Panti/Dadya Warga Pasek Kayu Selem Butyeh, Pura Hyang Warga Pasek Dukuh Sakti Banjar. Silayukti, Pura Hyang Warga Pasek Kayu Selem Banjar. Kancil, Pura Hyang Warga Bhujangga Waisnawa Butyeh, Pura Hyang Ratu Gede Warga Arya Batu Lempang Batan Jepun Gangsian Banjar. Anyar Kaja. Lan Penyade Pura Tamansari Agung yaitu presanak Ida Bhatara Dalem Peti Tenget yang diberikan wewenang untuk menjaga dan membantu Ida Bhatara Dalem Luhur Tamansari Agung, antara lain : Ida Bhatara Ratu Made Cakra Negara di Pura Hyang Bhujangga Waisnawa Batan Sabo, Ida Bhatara Ratu Made Kentel Bhumi di Pemrajan Agung Ampinan Banjar. Anyar, Ida Bhatara Ratu Made Kerthanegara di Pura Pan Jengki, Ida Bhatara Ratu Bagus Sinulus di Pura Batan Papasan, dan Presanak putu Ida Bhatara Dalem yang ada di 21 pura sajebag Desa Adat Kerobokan dan Denpasar.

Tirta Sudamala Sembuhkan Penyakit

Pertama memasuki areal pura, bisa disaksikan pemandangan pura yang selalu ramai. Tidak pernah kosong karena warga di sekitar mencari air klebutan yang ada di madya mandala pura. Jangan ragu untuk mengonsumsi air tersebut tanpa dimasak, penelitian menunjukkan kandungan air masih bagus meski dikonsumsi sebelum dimasak. Berjalan lebih jauh, memasuki utama mandala pura, yang pertama menjadi pusat perhatian adalah gedong pangresikan yang tidak tampak seperti biasanya. Inilah ciri khas Pura Tamansari Agung.  Apalagi setelah ditelusuri lebih jauh, tidak terlihat adanya padmasana pada areal utama mandala pura.

Driki memang unik, tidak terdapat padmasana. Namun terdapat gedong pangresikan yang fungsinya sama dengan padmasana, terdapat lingga yoni di dalamnya. Di Gedong pangresikan ini pula terdapat tirta Sudamala dan tidak sembarang orang yang bisa mengambilnya,” papar Wayan Suyasa keturunan pemangku Pura Tamansari Agung.

Di sinilah Tirta Sudalama dimohonkan untuk melebur dasa mala, mohon panglukatan, dan berkah kesembuhan. Sudah banyak orang yang tertolong dari penyakit yang dideritanya. Bagi yang memohon tirta sudamala hendaknya mencari pemangku pura, karena hanya pemangku pura yang boleh masuk ke gedong pangesikan. Dengan membawa daksina pejati sebagai pasaksi dari penangkilan.

“Untuk memohon tirta tersebut terdapat lima batok kelapa dari lima jenis kelapa sebagai tambangnya. Di antaranya kelapa surya, gading, bulan, gadang dan sudamala. Hanya salah satu yang digunakan mengambil tirta dari sumur, disesuaikan dengan kepentingan penangkilan,” ungkap Nyoman Wirajaya selaku penyarikan pura.

Misalnya untuk memohon panglukatan digunakan batok kelapa sudamala, untuk pengobatan disesuaikan dengan jenis penyakitnya digunakan batok kelapa surya, gading, bulan. Bahkan dari pengambilan tirta yang dilakukan bisa diprediksi apakah pasien tersebut berjodoh memperoleh kesembuhan atau sebaliknya tidak bisa tertolong. Jika sakitnya sudah parah, dan akan memperoleh kesembuhan, maka ciri yang terlihat ular rencang Ida Bhatara akan terlihat melilit pada tambang yang digunakan mengambil tirta sudamala. Tidak salah jika disebutkan di sini merupakan linggih Ida Bhatara Daniswara sebagai dewane balian.

Demikian juga pada saat orang tersebut ngalinggihan tirta sudamala pada rong telu di sanggah/merajannya akan terlihat tirta bercahaya. Itulah kemahakuasaan Tuhan, sebelum nunas tirta sudamala terlebih dahulu dipercikkan pada Hyang Guru sehingga nyambung antara leluhur dan pura.

Secara lengkapnya pada utama mandala terdapat beberapa bangunan palinggih antara lain : Pelinggih Pangresikan Agung (sumur/bulakan tirta Sudamala, cikal bakal berdirinya Pura Tamansari Agung). Pelinggih Ratu Ngurah Mangku Bhumi Sudamala dari Bhatara Kawitan. Palinggih Gedong Bhatara Kawitan. Palinggih Pregina Agung, Palinggih Ida Bhatara Ratu Made Lor Tirta, Palinggih Ida Ratu Bagus Manik Kembar. Palinggih Ida Bhatara Ratu Mayun Gede Kedewatan. Palinggih Para Rabi Mekabehan/Ratu Ayu. Palinggih Ida Bhatara Ratu Made Gede Manik Toyo. Meru Tumpang Lima Palinggih Ida Bhatara Dalem Samudra Luhuring Tamansari Agung dan Palinggih Sari Ida Bhatara Sakti.

Selain itu terdapat bangunan-bangunan pendukung lainnya seperti : bale gong, bale pengrawuhan/bale pengaruman, Bale Mundak Sari, Bale Piyasan/Bale Tajuk, Bale Banten/Gedong Taulan/Gedong Pretima, dan Gedong Simpen.

Butyeh, Pusat Klebutan Yeh

Munculnya ular di sekitar pura menjadi pemandangan yang biasa bagi warga. Yang tidak wajar, ular tersebut bisa terlihat berkepala dua, kemudian menghilang entah ke mana. Ini diyakini sebagai rencang Ida Bhatara. Selain ular, rencang Ida Bhatara Pura Tamansari Agung adalah macan, buaya.

Jika terjadi banjir, masyarakat sering melihat ada air klebutan di tehel (ubin) bangunan pura. Sangat tidak masuk akal, karena pada hari biasa ketika tidak ada banjir, tidak ada lubang air pada tehel tersebut. Begitupun ketika diraba, klebusan itu tidak ada. Inilah sesungguhnya kawasan titik yeh, Keyakinan ini berkembang sehingga muncullah ungkapan warga Kerobokan menamakan desa di sebelah selatan dan utara pura sebagai Delod Yeh dan Dajan Yeh. Titik yeh ini sebagai tempat sumber air disebut Butyeh.

Yang tak kalah menarik kebiasaan dari tahun 1975 sudah diselenggarakan upacara manusa yadnya secara masal di pura yang piodalan jatuh setiap Tumpek Klurut ini. Mulai dari upacara tiga bulanan, mesangih, nepeh, nyejeg digelar setiap lima tahun sekali. Yang terakhir dilakukan pada tahun 2005 lalu.

Setiap 12 tahun sekali diadakan penyucian lingga ioni yang ada di gedong pangresikan. Linggih Bhatara Siwa mapragayang Sang Hyang Daneswara. Biasanya dipilih Purnama Kapat atau Kadasa untuk menyelenggarakan penyucian yang berlangsung selama satu hari penuh.

Wirajaya mengungkapkan,  terdapat lima petapakan barong landung yang disungsung di pura ini antara lain Ratu Ngurah Gede, Jro Luh, Ratu Ngurah Sakti, Ratu Bagus Kusuma, dan Ratu Ayu Mas Sekar Tunjung.

Pada Palinggih Gedong Bhatara Kawitan bisa dilihat terdapat patung Buddha. Menurut Suyasa ini menandakan, bersatunya aliran Siwa-Bhuda saat itu. Bahkan pada kenyataannya memang pernah ada orang Buddha dari Jepang sekitar tahun 1980 datang memohon tirta amerta di sini. Menurut orang Jepang tersebut, ia mendapat petunjuk untuk memohon tirta yang tempatnya tidak terkena hujan ketika hujan dan tidak terkena sinar matahari. Di sinilah ia menemukan tirta seperti itu.

Berbagai keunikan bisa ditemukan pada pura ini, menurutnya telaga pada utama mandala dan pada madya mandala terhubung. Namun ketika telaga di dalam diubek, telaga di madya mandala tidak ikut keruh. Begitu juga saat dilakukan pembersihan pura, air telaga pada utama mandala kering namun air dari madya mandala tidak berpindah ke utama mandala.

Driki sane malinggih Ida sampun lingsir. Seperti pada dunia nyata orang yang tua akan semakin lambat. Demikian juga dalam dunia niskala. Setiap pujawali, pasti mulainya di atas jam 11. Padahal sesudah dari pagi dipersiapkan. Besok paginya baru selesai,” ungkap Wirajaya.  Reporter                      : IA. MD. Sadnyari

Parindikan Pura :

  1. Nama Pura : Pura Tamansari Agung
  2. Alamat  : Butyeh, Desa Adat Kerobokan, Kuta Utara
  3. Pujawali   : Tumpek Klurut
  4. Pangempon  : Keluarga Pasek Kayu Selem
  5. Pemangku Pura : Pan Sura (alm)
  6. Pemade     : Ketut Sura
Kategori:Tirtayarta

Ida Pedanda GD.MD.Lanang Putra Manuaba

Desember 5, 2009 Tinggalkan komentar

Aneh dan unik, terkadang menghiasi hidup seseorang. Dari tidak ada cita-cita pun, terkadang dipaksa untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba Tuhan. Pengalaman ini dialami juga Ida Bagus Tantra dengan bhiseka Ida Pedanda Gede Made Lanang Putra Manuaba setelah munggah dwijati. Bagaimana kisah suka dan duka Peranda selama walaka? Berikut ulasannya.

Setiap sulinggih memiliki latar belakang, dan tujuan yang berbeda. Di satu sisi, ada yang malinggih dengan kesadaran sendiri untuk semata-mata meningkatkan kesucian diri, sementara di sisi lain tidak sedikit dari mereka menjadi sulinggih karena tuntutan niskala atau melanjutkan Titah Bhatara Kawitan. Seperti yang dialami  Ida Pedanda GD.MD.Lanang Putra Manuaba, dari Griya Gd. Beneh Kangin, Banjar Abiantuwung, Kediri, Tabanan.

Keseharian Ida Pedanda GD.MD.Lanang Putra Manuaba, yang sebelumnya bernama Ida  Bagus Tantra ini, lebih banyak berkecimpung dalam urusan adat, dan agama. Pasalnya Ida Peranda yang dikenal ramah ini, pernah dipercaya memimpin berbagai organisasi, di antaranya, di desanya pernah menjadi Pengurus Suka Duka Banjar Dangin Margi, dan menjadi Pengurus Adat Satus, serta menjadi Bendesa Adat, Desa Abiantuwung dan menjadi Ketua LKMD Seksi Agama.

Di samping itu,  bapak tujuh orang putri ini, pernah juga menjabat Ketua Parisada Kecamatan, Kediri Tabanan, dan Kepala Seksi Kemasyarakatan Parisada  Kabupaten Tabanan serta pernah menjadi Ketua Tim Penyuluh Agama Hindu. Dari semua pengalaman itu ada pengalaman yang tak pernah terlupakan, yakni ketika menjabat sebagai Bendesa Adat, dalam satu hari pernah menyelesaikan pengesahan perkawinan sebanyak 18 kali.

“Pengalaman itu tak pernah tiang lupakan, bayangkan dari pagi hingga pukul 10 malam tiang mengurusi pengesahan perkawinan. Mungkin tidak ada Bendesa Adat yang memiliki pengalaman seperti ini, setahu tiang paling banyak lima kali atau paling maksimal 10 kali dalam sehari,” katanya.

Lebih lanjut pensiunan guru agama ini mengaku, selama menjabat sebagai Bendesa Adat, semua kabupaten di Bali pernah didatangi untuk mengurus perkawinan.

Sejatinya sejak dulu tidak ada niat sedikit pun terlebih bercita-cita  menjadi sulinggih, tetapi niskala berkehendak lain, di mana beliau menunjuknya harus menjalankan tugas suci ini sebagai sulinggih.

“Sebelumnya tidak ada niat atau cita-cita tiang menjadi sulinggih tetapi Ida Bhatara Kawitan menunjuk tiang harus ngiring dan melanjutkan titah beliau menjadi sulinggih,” ujar Ida Pedanda dengan nada serius.

Pun sebelumnya pernah beberapa kali menolak, karena Ida Pedanda merasa belum siap/mampu secara lahir-bhatin mengemban tugas suci itu. Tetapi apa yang terjadi? Beberapa kali diberikan peringatan bahkan pelajaran di antaranya Ida Pedanda mengaku pernah kehilangan uang selama dua kali, tanpa sebab yang jelas.

“Padahal uang itu tiang taruh di dalam dompet tertutup rapat, begitu diambil untuk membayar barang yang telah dibeli, uang itu raib tanpa bekas. Hal itu tiang alami dua kali, tetapi tiang tidak juga bersedia ngiring,” jelas Ida Pedanda sambil mengenang peristiwa yang pernah dialami itu.

Tidak berhenti sampai di sana, kali ini bukan lagi kehilangan, tetapi Ida Peranda beberapa kali mengalami kecelakaan tanpa sebab. Pernah suatu hari lanjut Ida Pedanda, mengalami kecelakaan ditabrak dari belakang padahal saat itu Ida Pedanda mengendarai sepeda motornya di pinggir jalan bahkan lewat garis putih.

Entah kenapa tiba-tiba Ida Pedanda ditabrak dari belakang hingga harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Setelah sembuh, berselang enam bulannya lagi kembali mengalami kejadian serupa, bahkan kejadian ini yang paling parah, karena harus menjalani perawatan beberapa minggu.

Anak Karauhan

Yang namanya titah Ida Bhatara, tidak bisa ditunda terlalu lama, walaupun tidak siap, justru ketidaksiapan it uterus diberikan peringatan. Ini artinya, sudah waktunya menjalani tugas mulia dan suci dalam hidup seseorang.

Setelah sembuh, salah satu anak Peranda sering kerauhan. Takut terjadi sesuatu, Ida Pedanda sekeluarga memutuskan pergi ke salah satu balian untuk menanyakan penyebab semua kejadian yang pernah dialami.

Dari sana diketahui semua merupakan suatu peringatan, agar Ida Peadanda bersedia Ngiring Ngetut Pemargin Ida Bhatara Kawitan menjadi sulinggih. Tak ada pilihan akhirnya Ida Pedanda menyanggupi permintaan itu. Tepat tanggal 18 Sepetember 2005 dilaksanakan upacara madwijati ditapak Ida Pedanda Istri Nabe Ketut Punia dari Griya Pidada, Klungkung. Sehingga setelah dilakukan upacara madwaijati, segala aktivitas nguncarang Weda , muput upacara bisa dilakukan tidak berbeda dengan sulinggih lainnya, dan resmi menjadi sulinggih hungga saat ini.

Kini keseharian Peranda selain muput karya, Ida Pedanda dikenal kaya wawasan dan pengalaman ini, tak henti-hentinya belajar untuk meningkatkan kemampuan. Serta tidak pernah surut ngrastitiang jagat Bali mangda tetep rahayu lan ajeg.

“Tiang berharap semua umat selalu memohon kerahayuan jagat. Bila umat sadar dan eling (ingat) akan swardamanya masing-masing, dunia akan menjadi aman, demikian juga sulinggih kalau setiap hari nguncarang Weda agar Bali akan menjadi suci dan semakin bersinar,” tutur Ida Pedanda dengan kalem.

  • Nama walaka     : Ida Bagus Tantra
  • Bhiseka        : Ida Pedanda GD.MD.Lanang Putra Manuaba
  • Lahir        : 27 Juli 1932
  • Nama istri, walaka      : Ida Ayu Putu Mayun. Bhiseka: Ida Pedanda Istri GD.MD Lanang Putra Manuaba
  • Anak    : 7 orang putri
  • Nama Griya    : Griya Gd.Beneh Kangin
  • Alamat :    Br. Abiantuwung, Kediri, Tabanan
  • Profesi sebelumnya     : Guru Agama, Ketua Tim Penyuluh Agama Hindu
  • Pengalaman   : Bendesa Adat, Ketua Parisada Kecamatan Kediri, Tabanan,   Ketua  Seksi Kemasyarakatan Parisada Kabupaten Tabanan,   Ketua LKMD Seksi Agama, Pengurus    Suka Duka Banjar Dangin Margi   Pengurus Adat Satus, Desa Abiantuwung, Kediri, Tabanan.
  • Didiksha    : 18 September 2005
  • Nabe     : Ida Pedanda Istri Ketut Punia
  • Griya   : Griya Pidada, Klungkung

Kategori:Sulinggih
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.