Beranda > Uncategorized > Ritual Unik di Pura Dalem Jambangan

Ritual Unik di Pura Dalem Jambangan

Ritual yang namanya pecaruan sanak catur dan pabayuhan melik  jarang dilakukan, bahkan tergolong langka. Hanya orang-orang yang pahamlah melakukan upacara ini. Karena belum banyak diketahui. Ritual ini bertujuan memperpanjang umur dan terhindar dari maut, karena orang-orang mamelik disenangi roh-roh halus dan dewa-dewi untuk dijadikan korban.

Reporter : I A Md. Sadnyari

Pura Dalem Jambangan, Mengwi (21/12) lalu dipadati pamedek. Semuanya antusias mengikuti acara pacaruan sanak catur dan pebayuhan melik. “Dibandingkan acara yang digelar sebelumnya, kali ini memang terjadi peningkatan jumlah orang yang mengikuti pacaruan sanak catur dan pebayuhan melik. Ini melebihi perkiraan yang kami targetkan sebelumnya,” ungkap Yande panitia acara.

Peserta pecaruan sanak catur, pebayuhan melik, serta ada pula yang melakukan pawintenan menjadi sutri berasal dari seluruh Bali berjumlah kurang lebih 120 orang.

Pecaruan sanak catur (nyama pat) ini sangat penting dilaksanakan karena nyama pat inilah yang paling berperan dalam pribadi manusia. Jika ini yang tidak seimbang maka akan menimbulkan penderitaan.

Sanak catur erat kaitannya dengan yadnya. Di mana dasar yadnya diambil dari diri manusia sehingga pertemuan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit menunggal dengan Ida Sang Hyang Widhi.

Tujuan pelaksanaannya adalah untuk mendapatkan kerahayuan, serta membuang semua apes (kesusahan). Hendaknya manusia menyadari kehidupannya ini berasal dari yadnya. Demikian nyama pat yang ada dalam diri, diberi posisi sesuai dengan tempatnya, jadi yadnya pada diri sendiri tidak kurang pentingnya.

Tri Hita Karana menjaga hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, serta manusia dengan lingkungan alam. “Yang jarang dilakukan adalah bagaimana menjaga hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Ini sangat perlu menyelaraskan apa yang ada dalam diri. Sebab sebesar apapun upacara yang dilakukan tanpa diri sendiri benar maka tidak akan bisa mencapai tujuan,” ungkap Mangku Gede Sukarta, pemangku Pura Dalem Jambangan, Mengwi.

Setiap manusia yang terlahir ke dunia ini membawa karmanya masing-masing.

Dalam karma tersebut tidak luput dari kesusahan serta apes yang menjadi bagian dari hidupnya. Dalam keadaan susah dan apes semua tidak ada artinya. Inilah perlu dilakukan upacara pacaruan sanak catur. “Dalam lontar Lingga Gumana disebutkan bahwa kalau ada manusia yang tidak sembuh-sembuh diobati maka kembali pelaku tersebut harus memikirkan kejadian-kejadian seperti ini yang disebut sanak catur, pebayuhan melik, pebayuhan oton.

Dengan panangkan paran (penyebab terjadinya sesuatu) kembali para medis memikirkan dirinya sendiri. Sanak catur yang diberikan caru, dinetralisir diberikan caru sesuai dengan kedudukannya.

Menetralisir masing-masing kedudukan empat sanak lima pancer yang ada dalam diri yang tidak jauh bedanya dengan yadnya biasanya. Sesuai purana, Tuhan ada di mana-mana termasuk dalam diri, dengan demikian melakukan upacara pacaruan sanak catur untuk diri otomatis melakukan yadnya pada Beliau.

Sebab bagaimana manusia bisa membuat banten, menghaturkan canang jika manusianya sakit. “Untuk itu upacara ini lebih penting dari karya ngenteg linggih. Mulailah seimbangkan hubungan diri sendiri dengan jiwa barulah bisa menjaga hubungan sekala ke luar,” ungkap Mangku Gede.

Mengenai pelaksanaannya yaitu di Pura Dalem, menurut Mangku Gede Sukarta ini terkait dengan dunia yang penuh keinginan-keinginan. Dalem dalam artian dunia yang tidak ada batasannya.

Sanak catur dan pabayuh melik dipuput Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba, dari Griya Muding Indah, Kerobokan bersifat umum. Orang yang telah madwijati yang muput karena sifat Siwa sebagai pelebur, melebur penyebab kegagalan antara lain lingkungan diri sendiri, lingkungan karang paumahan, dan tata ruang.

Berbeda dengan pabayuhan oton dilakukan masing-masing sesuai dengan kelahirannya. Pemangku boleh, balian boleh, yang sudah maekajati.

Pebayuhan melik perlu dilakukan oleh orang-orang yang memang melik. Melik atau tidaknya seseorang biasanya diketahui setelah matetuun pada balian. Orang yang melik mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang biasa pada umumnya.  Ia disenangi semua golongan  roh-roh halus, baik yang bersifat negatif (bhuta_red) juga dewa-dewi. Tanda-tanda orang mamelik biasanya terlihat dari tubuh orang yang bersangkutan. Dari kelahiran biasanya memang sudah ada tanda-tanda yang dibawa sejak lahir. Misalnya saja dari bentuk lesung pipi yang dimiliki, bentuk gigi taring yang kurang menonjol tidak sewajarnya, pancaran mata, atau rambut gimbal juga bisa menandakan seseorang memelik.

Orang yang melik mudah melihat roh-roh halus.  Hal ini disebabkan adanya benang yang menghubungkan keduanya teramat dekat sehingga terjadi kontak yang sangat cepat jika tiba-tiba ada makhluk lain yang ada di sekitarnya maka ia akan mampu merasakan bahkan melihatnya secara kasat mata. Biasanya ada batasan waktu yang diberikan kepada mereka yang memelik untuk dapat menjalani kehidupan. Diungkapkan,  orang yang memelik akan cepat diambil dari kehidupannya karena menjadi rebutan dari roh-roh halus.

Semakin cepat seseorang mengetahui dirinya memelik maka semakin bagus sehingga akan segera dibuatkan upacara penebusan untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk dari memelik. Jika tidak mendapat banten penebusan maka biasanya orang yang memelik sesuai dengan kelahirannya ada yang diambil pada saat baru bisa berjalan, ketika baru menikah, dan ada juga pada saat baru mempunyai anak.

Dengan pebayuhan melik akan dinetralisir kekurangan yang ada dalam dirinya (menghilangkan apes pengaruh melik). Supaya semua kekuatan bersinergi, agar dapat keseimbangan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit.

“Ini sudah yang kesebelas kalinya kami menyelenggarakan upacara Sanak Catur dan pebayuhan melik. Dilakukan secara massal untuk menekan biaya serta menambah rasa kekeluargaan. Upacara yang termasuk manusa yadnya ini semakin sering dilaksanakan akan semakin bagus,” ungkapnya. Upacara ini tergolong unik karena tidak banyak orang yang mengetahuinya. Untuk kepentingan umat, jika ada yang hendak melaksanakan upacara ini bisa menghubungi pihak Pura Dalem Jambangan di nomor telpon 081338584188, 0361 8000803. 8

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: