Beranda > Sulinggih > Ida Pedanda GD.MD.Lanang Putra Manuaba

Ida Pedanda GD.MD.Lanang Putra Manuaba

Aneh dan unik, terkadang menghiasi hidup seseorang. Dari tidak ada cita-cita pun, terkadang dipaksa untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba Tuhan. Pengalaman ini dialami juga Ida Bagus Tantra dengan bhiseka Ida Pedanda Gede Made Lanang Putra Manuaba setelah munggah dwijati. Bagaimana kisah suka dan duka Peranda selama walaka? Berikut ulasannya.

Setiap sulinggih memiliki latar belakang, dan tujuan yang berbeda. Di satu sisi, ada yang malinggih dengan kesadaran sendiri untuk semata-mata meningkatkan kesucian diri, sementara di sisi lain tidak sedikit dari mereka menjadi sulinggih karena tuntutan niskala atau melanjutkan Titah Bhatara Kawitan. Seperti yang dialami  Ida Pedanda GD.MD.Lanang Putra Manuaba, dari Griya Gd. Beneh Kangin, Banjar Abiantuwung, Kediri, Tabanan.

Keseharian Ida Pedanda GD.MD.Lanang Putra Manuaba, yang sebelumnya bernama Ida  Bagus Tantra ini, lebih banyak berkecimpung dalam urusan adat, dan agama. Pasalnya Ida Peranda yang dikenal ramah ini, pernah dipercaya memimpin berbagai organisasi, di antaranya, di desanya pernah menjadi Pengurus Suka Duka Banjar Dangin Margi, dan menjadi Pengurus Adat Satus, serta menjadi Bendesa Adat, Desa Abiantuwung dan menjadi Ketua LKMD Seksi Agama.

Di samping itu,  bapak tujuh orang putri ini, pernah juga menjabat Ketua Parisada Kecamatan, Kediri Tabanan, dan Kepala Seksi Kemasyarakatan Parisada  Kabupaten Tabanan serta pernah menjadi Ketua Tim Penyuluh Agama Hindu. Dari semua pengalaman itu ada pengalaman yang tak pernah terlupakan, yakni ketika menjabat sebagai Bendesa Adat, dalam satu hari pernah menyelesaikan pengesahan perkawinan sebanyak 18 kali.

“Pengalaman itu tak pernah tiang lupakan, bayangkan dari pagi hingga pukul 10 malam tiang mengurusi pengesahan perkawinan. Mungkin tidak ada Bendesa Adat yang memiliki pengalaman seperti ini, setahu tiang paling banyak lima kali atau paling maksimal 10 kali dalam sehari,” katanya.

Lebih lanjut pensiunan guru agama ini mengaku, selama menjabat sebagai Bendesa Adat, semua kabupaten di Bali pernah didatangi untuk mengurus perkawinan.

Sejatinya sejak dulu tidak ada niat sedikit pun terlebih bercita-cita  menjadi sulinggih, tetapi niskala berkehendak lain, di mana beliau menunjuknya harus menjalankan tugas suci ini sebagai sulinggih.

“Sebelumnya tidak ada niat atau cita-cita tiang menjadi sulinggih tetapi Ida Bhatara Kawitan menunjuk tiang harus ngiring dan melanjutkan titah beliau menjadi sulinggih,” ujar Ida Pedanda dengan nada serius.

Pun sebelumnya pernah beberapa kali menolak, karena Ida Pedanda merasa belum siap/mampu secara lahir-bhatin mengemban tugas suci itu. Tetapi apa yang terjadi? Beberapa kali diberikan peringatan bahkan pelajaran di antaranya Ida Pedanda mengaku pernah kehilangan uang selama dua kali, tanpa sebab yang jelas.

“Padahal uang itu tiang taruh di dalam dompet tertutup rapat, begitu diambil untuk membayar barang yang telah dibeli, uang itu raib tanpa bekas. Hal itu tiang alami dua kali, tetapi tiang tidak juga bersedia ngiring,” jelas Ida Pedanda sambil mengenang peristiwa yang pernah dialami itu.

Tidak berhenti sampai di sana, kali ini bukan lagi kehilangan, tetapi Ida Peranda beberapa kali mengalami kecelakaan tanpa sebab. Pernah suatu hari lanjut Ida Pedanda, mengalami kecelakaan ditabrak dari belakang padahal saat itu Ida Pedanda mengendarai sepeda motornya di pinggir jalan bahkan lewat garis putih.

Entah kenapa tiba-tiba Ida Pedanda ditabrak dari belakang hingga harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Setelah sembuh, berselang enam bulannya lagi kembali mengalami kejadian serupa, bahkan kejadian ini yang paling parah, karena harus menjalani perawatan beberapa minggu.

Anak Karauhan

Yang namanya titah Ida Bhatara, tidak bisa ditunda terlalu lama, walaupun tidak siap, justru ketidaksiapan it uterus diberikan peringatan. Ini artinya, sudah waktunya menjalani tugas mulia dan suci dalam hidup seseorang.

Setelah sembuh, salah satu anak Peranda sering kerauhan. Takut terjadi sesuatu, Ida Pedanda sekeluarga memutuskan pergi ke salah satu balian untuk menanyakan penyebab semua kejadian yang pernah dialami.

Dari sana diketahui semua merupakan suatu peringatan, agar Ida Peadanda bersedia Ngiring Ngetut Pemargin Ida Bhatara Kawitan menjadi sulinggih. Tak ada pilihan akhirnya Ida Pedanda menyanggupi permintaan itu. Tepat tanggal 18 Sepetember 2005 dilaksanakan upacara madwijati ditapak Ida Pedanda Istri Nabe Ketut Punia dari Griya Pidada, Klungkung. Sehingga setelah dilakukan upacara madwaijati, segala aktivitas nguncarang Weda , muput upacara bisa dilakukan tidak berbeda dengan sulinggih lainnya, dan resmi menjadi sulinggih hungga saat ini.

Kini keseharian Peranda selain muput karya, Ida Pedanda dikenal kaya wawasan dan pengalaman ini, tak henti-hentinya belajar untuk meningkatkan kemampuan. Serta tidak pernah surut ngrastitiang jagat Bali mangda tetep rahayu lan ajeg.

“Tiang berharap semua umat selalu memohon kerahayuan jagat. Bila umat sadar dan eling (ingat) akan swardamanya masing-masing, dunia akan menjadi aman, demikian juga sulinggih kalau setiap hari nguncarang Weda agar Bali akan menjadi suci dan semakin bersinar,” tutur Ida Pedanda dengan kalem.

  • Nama walaka     : Ida Bagus Tantra
  • Bhiseka        : Ida Pedanda GD.MD.Lanang Putra Manuaba
  • Lahir        : 27 Juli 1932
  • Nama istri, walaka      : Ida Ayu Putu Mayun. Bhiseka: Ida Pedanda Istri GD.MD Lanang Putra Manuaba
  • Anak    : 7 orang putri
  • Nama Griya    : Griya Gd.Beneh Kangin
  • Alamat :    Br. Abiantuwung, Kediri, Tabanan
  • Profesi sebelumnya     : Guru Agama, Ketua Tim Penyuluh Agama Hindu
  • Pengalaman   : Bendesa Adat, Ketua Parisada Kecamatan Kediri, Tabanan,   Ketua  Seksi Kemasyarakatan Parisada Kabupaten Tabanan,   Ketua LKMD Seksi Agama, Pengurus    Suka Duka Banjar Dangin Margi   Pengurus Adat Satus, Desa Abiantuwung, Kediri, Tabanan.
  • Didiksha    : 18 September 2005
  • Nabe     : Ida Pedanda Istri Ketut Punia
  • Griya   : Griya Pidada, Klungkung

Kategori:Sulinggih
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: