Beranda > Uncategorized > Menyingkap Pemuteran Wong Maling

Menyingkap Pemuteran Wong Maling

Zaman serba maju, kebutuhan juga semakin kompleks, maling pun semakin merajalela. Semua kehidupan tidak bisa dilakoni tanpa uang. Bagi yang imannya rendah, kesulitan ekonomi dilakukan dengan berbagai cara. Bagaimana mencegah kemalingan di masing-masing rumah?

Persaingan hidup yang makin ketat, ditambah gaya hidup manusia yang glamour, gengsi tinggi, konsumtif, salah satu faktor manusia ingin mendapatkan harta dengan berbagai cara. bahkan dharma tidak lagi menjadi landasan untuk mendapatkan rejeki.  Dengan kondisi tersebut, tidak mengherankan banyak terjadi kasus-kasus korupsi, pungli, premanisme, penipuan melalui kedok sms berhadiah.

Bahkan, ada modus canggih belakangan muncul, yaitu pelaku dengan pongahnya menelpon keluarga yang sedang tenang-tenang di rumah dengan mengabarkan anggota keluarganya ditimpa kecelakaan parah. Ujung-ujungnya disuruh menyetor uang jutaan rupiah untuk biaya pengobatan/operasi di rumah sakit.

Lebih aneh lagi, di conter-conter penarik uang melalu ATM, juga tidak kalah serunya cara penipuan dengan mudah dan gampangnya. Yaitu menjebak pemilik ATM ketika ATM-nya nyantol dengan menawarkan jasa nomor telpon ketika terjadi masalah. Si penipu minta nomor pin-nya. Begitu ATM ditinggalkan pemiliknya, sang penipu datang ke tempat anjungan bukannya menolong, melainkan langkah kaki tanpa merasa berdosa menguras uang pemilik ATM. Ketika pemilik ATM kembali ke anjungan, mereka  keteteran bersambut raut wajah kecut dan kecewa besar,  karena saldo uangnya sudah ludes dicaplok penipu yang hanya ingin kaya tanpa membanting tulang.

Dengan cara-cara tersebut, begitu pongahnya mencari makan, tanpa peduli orang lain tersiksa atau bagaimana caranya orang mengumpulkan uang, penjahat tidak mau ambil pusing. Yang penting mereka mendapat uang, tidak peduli apakah berdasarkan dharma atau jahat.

Makanya, bagi pemilik uang atau mereka yang merasa punya uang banyak di bank, waspadai ketika ada sms nyasar, atau jangan percaya begitu saja dengan informasi yang yang diberikan. Begitu juga, jangan panik kalau ATM tidak bisa menarik uang. Tenanglah dulu, jangan tinggalkan lokasi.

Untuk itu, khusus untuk di rumah masing-masing, juga sering terjadi pencurian yang semakin menggila. Tidak pandang siang hari, malam hari. Yang penting ada kesempatan. Sungguh pun stang sepeda motor sudah dikunci, maling tidak pernah bodoh.  Begitu juga yang namanya maling tidak akan pernah berpikir kentara atau tidak. Yang penting ambisi untuk punya harta dengan gampangan, tanpa keluar keringatan adalah tren.

Begitu juga, petugas yang punya wewenang, tidak segan-segan menerima pungli dari sang supir, tidak ada rasa malu, walaupun di depan orang banyak. Dengan kondisi demikian, salah siapa apakah menyalahkan zaman atau prilaku manusia yang tidak tahu malu? Pelaku kejahatan tidak hanya orang bawahan atau orang miskin, orang kaya yang punya tahta kekuasaan pun tidak pernah merasa malu, hanya saja caranya berbeda. Sulit dilihat atau dibuktikan dengan hitam di atas putih atau dengan kasat mata. Karena sistem sudah dibuat seperti itu.

Sekarang, jagalah citra diri, citra keluarga, citra tanah kelahiran sampai citra nusa dan bangsa. Tanpa ada rasa malu, kapan pun di manapun, tidak akan ada kemajuan apa-apa, hanya uang yang menjadi ukuran hidup manusia. Akhirnya tidak pernah ada kenyamanan, kesejahteraan, kedamaian di dunia ini. yang ada hanya perasaan cemas, cemas meningglkan rumah, cemas di perjalanan, cemas melakukan aktivitas dan cemas di mana dan kapan saja. Karena begitu gampangnya menemukan kejahatan. Jarak orang baik dengan orang jahat begitu dekatnya. Siapa tahu selepas dari bank ada orang yang dikira orang baik menguntit dari belakang, ternyata orang jahat.

Untuk itu, satu-satunya jalan adalah mohon petunjuk kepada Hyang Widhi agar diberikan jalan. Caranya, sebelum berangkat, luangkan waktu barang seberapa menit untuk berdoa, sembahyang, mohon pamit kepada Ida Bhatara, leluhur di merajan atau kepada nyama papat agar diberikan keselamatan dan tuntunan supaya tidak ada orang berniat jahat kepada diri kita sendiri. = tra

Penyengker Gaib Bulu Kukang

Ternyata antara perbuatan baik dan buruk sudah ada yang mengatur, artinya ada sastra yang melandasi orang bisa atau dibolehkan berbuat baik atau jahat. Termasuk profesi pencuri pun sudah ada anggah-ungguhnya, ada hari baiknya, ada sastranya yang memberikan tuntunan. Itu maling di zaman dulu, atau setidak-tidaknya maling-maling di zaman tetua kita.

Coba saja baca darma pamalingan, tampak maling, aji pamalingan, diberikan tuntunan bagi mereka yang ingin melakukan pencurian.  Sehingga yang layak dicuri hartanya tidak boleh sembarangan. Siapa yang boleh dicuri barangnya, lalu untuk apa hasil kejahatan tersebut, tidak semata-mata untuk kepentingan pribadi. Lantas, disebut dengan maling dermawan. Karena hasil kejahatan bisa saja untuk kepentingan orang yang tidak mampu atau orang miskin.

Bagitu juga, darma pamalingan tidak membenarkan membunuh korban, juga bagaimana caranya menggunakan sasirep, siapa saja yang boleh dipasang sasirep. Orang yang bisa dicuri adalah orang yang rakus terhadap harta orang lain, seperti pedagang mencari untung terlalu banyak, orang kaya pelit, kikir dan orang senang menipu atau lintah darat.

Maling darmawan kini tidak masih ditemukan. Justru maling melakukan aksinya dengan sembarangan, yang penting ada kesempatan, tidak pandang bulu, apakah orang yang dicuri merasa takut atau orang baik-baik.

Anehnya lagi, pencuri di zaman sekarang justru lebih banyak menimbulkan korban nyawa. Sehingga, orang yang kecurian selain harta lenyap alias dimaling, juga nyawanya terancam, nyawa melayang di tangan penjhat, bahkan sangat menakutkan. Perubahan sangat drastis kalau dibandingkan dengan dasar-dasar orang mencuri.

Karena didasarkan atas aturan main, jarang sekali maling di zaman dulu kentara. Bahkan sulit dicari jejak si pencuri. Kenapa sulit dilacak? Karena maling bersangkutan tidak sembarangan mencari hari yang baik. Pencuri zaman dulu sangat perhitungan mencari hari baik, termasuk arah mana yang dituju. Sehingga maling selamat dari kejaran bahkan seolah-olah maling mendapatkan tuntunan.

Sekarang pertanyaannya, adakah cara menangkal pencuri agar tidak leluasa bisa masuk ke pakarangan atau ke lokasi kebun milik seseorang. Seorang Jro Dasaran Kadek Suwini menjelaskan, banyak cara menjebak maling agar tidak leluasa bisa masuk ke rumah atau menggarong milik si empunya.

Lanjut Jro Dasaran asal Banjar Binong, Desa Werdi Bhuwana, Mengwi, Badung menguraikan, sarana yang sudah pernah dipratekannya dengan menggunakan sarana bulun kukang. Bulun Kukang, ujar ibu satu putri angkat ini, handaknya dibuat atau diracik oleh orang yang benar-benar mampu membuatnya. Karena diperlukan tahapan-tahapan secara niskala agar sengker bulun Kukang bisa meranen.

Balian usia 57 tahun memaparkan kembali, bulun (baca bulu) kukang dimasukan ke dalam botol ukuran kecil. Diisi dengan beras secukupnya. Terus dimohonkan dengan puja dan puji bahasa bebas (saa), intinya mohon kepada Ida Bhatara, atau sasuhunan agar bulu kukang ikut menjaga pekarangan atau lokasi yang dimohonkan sengker. Dilengkapi dengan sarana upakara segehan manca warna. Setelah lengkap dibuat dengan cara sederhana atau sudah diyakini memiliki energi niskala, botol yang berisi bulu kukang ditanam setiap di sudut pekarangan sebanyak empat.

Disebutkan Jro Kadek Suwini yang sudah lama ngiringan, masa tenggang atau kekuatan dari sengker bulun kukang ini sampai lima tahun. Setelah lima tahun masa kerjanya, bisa diotonkan lagi atau istilah niskalanya dihidupkan kembali dengan segehan manca warna. Karena jangka waktu lima tahun sudah tidak efektif lagi, dan sudah perlu ditambah energi lagi.

“Apa yang dibuat ini, lakukan dengan keyakinan yang sangat tinggi, juga si pembuatnya diperlukan orang yang sudah wikan atau mempunyai kekuatan bathin yang sudah handal,” tegas Jro Kade Suwini.  Dengan cara ini, diharapkan maling tidak mudah melakukan aksinya. Sekarang sudah zaman maju, upaya niskala ini masih bisa menangkal maling, sebaliknya kemajuan zaman sudah ada alat canggih untuk menangkal maling.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: