Beranda > Panggung > Bercengkrama bersama Pelukis Nengah Subagia (Mamiyo Art) di Bangli

Bercengkrama bersama Pelukis Nengah Subagia (Mamiyo Art) di Bangli

Menuangkan Kegiatan dalam Kanvas

Filosofi Padi dan Bunga menjadi inspirasi seorang pelukis dari Bangli. Dengan itu kegilaan yang ditungkannya dalam sebuah kanvas bisa membius para kolektor barang seni. Utamanya lukisan, selain itu banyak juga tamu mancanegara dan lokal yang memesan lukisannya. Kini gilaran Anda.

Bakat, rejeki, dan berbagai hal lain yang menyangkut kehidupan seseorang banyak yang mengatakan sudah ada tandanya semenjak anak itu dilahirkan ke dunia.  Namun, terkadang para orang tua ( utamanya di pedesaan) jarang ada yang menyadari dan menindaklanjuti hal itu. Walaupun tahu, namun diabaikan begitu saja, karena ketidakmampuan biaya. Hal inilah yang sempat dialami Nengah Subagia (38) asal Dusun Umbalan Desa Yang Api, Tembuku, Bangli.  Saat ini dia adalah seorang pelukis yang sudah memiliki cukup ‘modal’ untuk menjalani kreasi seninya. Bukan modal uang melainkan kemampuan dan penemuan karakteristik dari apa yang sudah dibangunnya sejak dulu. Lukisan yang dibuatnya saat ini, adalah berupa bunga-bunga dan juga bentuk padi-padian. Rupa-rupanya ada hal yang beda dari pemaknaan bunga dan padi ini. Di mana menurutnya, kalau padi siapa saja dan di mana saja diperlukan yang namanya kebutuhan hidup yang paling pokok ini. Kemudian bunga. Bunga sendiri menurutnya, selain indah juga diperlukan oleh seluruh umat beragama untuk melaksanakan sebuah ritual ataupun yadnya tertentu. “Bahkan, dipekuburanpun bunga seolah-olah mengubah nuansa angker menjadi nilai seni yang artistik,” ujar bapak 3 anak ini.

Lalu bagaimana ceritanya dia menjadi terkenal ? berikut penuturannya. “Pada awalnya saya memang seorang pelukis abstrak biasa, namun kemudian entah siapa yang memberitahu ada dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bangli bertandang ke tempat ini,” ujar suami dari Wayan Suarjani ini. Berkat swecan Widhi, akhirnya diapun dilirik untuk diajak pameran ke Jakarta. Dan untuk itu barang-barang pun dipersiapkan. Yang mana sudah barang tentu membuat lukisan-lukisan bagus dan juga berkualitas tinggi.

Hingga akhirnya waktu yang ditunggu pun datang, malahan pameran yang baru berlangsung setahun lalu ini menjadi peluang cerah baginya. Di mana direncanakan untuk pameran enam hari, namun barang yang dipamerkan sudah habis dalam tiga hari saja. Dan bahkan banyak relasi-relasi dia kumpulkan mulai dari pengusaha, maupun pemilik galery.

Sekian waktu berjalan, hingga akhirnya karena kebutuhan barang habis, diapun hanya bisa membagikan kartu nama dan nanti berharap ada yang menghubunginya. Memang benar, akhirnya relasi-relasi pun mulai menghubunginya dan bahkan ada yang sengaja datang dari Jakarta ke rumahnya untuk membeli barangnya. Hingga akhirnya sampai sekarang tampak di rumahnya yang agak sempit karena dipenuhi lukisan-lukisannya ini masih banyak ada tamu yang senang akan lukisannya.

Mengenai order baik dari galery maupun perorangan, dalam sebulannya dia bisa menjual lukisan sampai 30 lukisan. Sungguh penjualan yang pantastik dibilang, betapa tidak sejak dia mulai melukis pada tahun 1994 sebagai seorang pelukis realis, paling banter dia dapat menjual lukisan maksimal empat  buah saja.

Seni lukisannya pada awalnya bisa dibilang ngawag, di mana mulai dari realis, kemudian pada tahun 2000 sebagai pelukis abstrak  poles, hingga akhirnya pada tahun 2002 ketemulah konsep padi dan juga bunga ini. Karena merasa cocok dan menjiwai dengan itu akhirnya berkembanglah hingga saat ini. Sedikit-demi sedikit lukisannya mulai dibenahi hingga ketemu gambar yang luar bisa dan bisa dibilang hidup. Ya maklum saja sebagai seorang pelukis otodidak dengan mengandalkan belajar dari sebuah kerja di Ubud dulunya, dia bisa menggelutinya hingga kini itu sebuah keahilan yang bisa dibilang maju.

Bahkan, dia mengaku semenjak kecil dia senang sekali akan benda-benda unik, mulai dari membuat patung dari tanah liat di rumahnya, kemudian menggambar namun karena orang tua kurang mengerti hingga akhirnya bakatnya tersebut sempat terbengkalai. Renspon terhadap lukisannya ini dari tamu mulai dari tahun 2004 dimana dia saat itu sudah mulai menitipkan di galery-galery yang cukup terkenal di Ubud dan sekitarnya. Setiap ada tamu yang datang, dirinya harus berangkat dari Bangli ke Ubud dan menurutnya, itu melelahkan maka mulailah dia mengerjakan di rumah sendiri.

Mengenai tamu bisnis langganannya sendiri dia juga sudah memiliki dan bahkan saat ini ada dari Singapura, Australia, Malaysia dan juga ada Dari Jakarta. Mereka biasanya langsung memesan lewat e-mail, maupun menelpon dan bahkan datang langsung ke kendiamannya di Umbalan.

Beli Lukisannya Tergantung Jodoh

Ditanya mengenai harga yang ditawarkan kepada tamunya, dia mengatakan tidak pernah mematok harga khusus. Walaupun ada dasar harga yang ditawarkan itu memang harus, sebagai rabaan dari calon pembeli nantinya. “Misalnya saja patokan harganya 5 juta rupiah namun pembelinya sudah ngebet dan sangat menyukai barang tersebut, sayangnya dana yang dimiliki setengah dari itu atau bahkan kurang, saya bisa toleransi,” katanya. Hal ini dilakukannya karena dia mengaku bukanlah pebisnis murni melainkan seniman, lain halnya dengan galery-galery lainnya yang murni bisnis mungkin jika ada tawaran harga hanya 10 % nya saja. Jika memang tidak berjodoh berapapun ditawar kerkadang urung untuk dilepasnya.

Dibantu Keluarga

Menurutnya, dalam melukis tidak bisa dilakukan seperti menulis atau melakukan kebiaasan lainnya. Namun, memerlukan sebuah ketenangan dan kondisi damai dalam hati. Makanya, walaupun ada order terkadang dia tinggalkan begitu saja untuk melepas kepenatan baik dengan memancing atau melakukan hal positif lainnya.

Saat ini melukis juga dibantu anak dan istrinya. Dan bahkan anak-anaknya yang masih duduk di bangku SD sudah bisa melukis bunga tanpa mesti dibantu. Mengenai kendala yang dihadapi tentu saja ada. Dia mengaku kendala terbesarnya adalah promosi ke luar negeri. Dia juga berharap ada dana bantuan atau pemerintah yang mengajaknya lagi untuk memamerkan lukisannya di luar negeri.

Namun, dia juga sangat berterima kasih sekali dengan Pemda Bangli khususnya Disperindag Bangli dalam kaitannya memperhatikan seniman dan pedagang yang ada di Bangli yang menurutnya mulai bangkit dan diperhatikan. “ Jika tidak ada Pak Dewa ( menyebut Dewa Suparta kadis Peridag-red) mungkin lukisan ini masih seperti dulu lakunya hanya satu dua saja tanpa ada perkemabangan yang berarti,” ujar pasangan Mangku Nyoman Dadi dan Nyoman Panci ini. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada Dekranasda Bangli yang juga membantu kompresor beberapa hari lalu. Untuk saat ini dia juga sedang mengerjakan sebuah galery di rumahnya dengan nama Mamiyo Art.* Krista

Kategori:Panggung
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: