Beranda > Panggung > Dari Pentas Wayang Kulit di Daya Putih, Gianyar

Dari Pentas Wayang Kulit di Daya Putih, Gianyar

Arjuna Matapa Tolak Bala 2010

Masihkah wayang menjadi kesukaan masyarakat seperti dulu?  Inilah yang  menjadi pertanyaan, setiap ada pementaan wayang kulit khususnya di Bali. Sementara di Jawa, wayang begitu sangat disukai masyarakatnya, walau masih suntuk pun masih enak ditonton.  Sementara di Bali? Entahlah ………!!!! Justru dijadikan media penolak bala.

Pengamatan Bali Aga, sepanjang ada pementasan wayang kulit yang dikhususkan untuk wali atau upacara, sangat minim peminat. Sehingga, wayang menjadi sepi-sepi saja. Di mana pun di Bali. Ini tidak lain, karena canggihnya berbagai hiburan yang sudah memberikan kemudahan di depan mata. Contohnya, hadirnya televisi, salah satu penyebab, lesunya minat warga untuk nonton wayang. Di sisi lain, generasi muda, sudah bangkit semangatnya untuk menjadi dalang.

Hanya saja, wayang versi hiburan total sesuai kemampuan dalangnya, ternyata mampu membuat penonton ketagihan untuk terus menikmatinnya. Karena, di dalamnya ada variasi pementasan, pakem serta kemampuan dalang untuk mengolah cerita agar tidak ditinggalkan penonton. Dengan ramuan pornonya  yang tidak terlalu melanggar etika dan norma agama, mampu membuat jebol gawang menjadi terbuka lebar alias tertawa sampai perut dibikin sakit.  Itu salah satu contoh wayang Cenk Blonk yang sangat diminati semua kalangan.

Di sisi lain, ada tokoh spiritual yang menghentak dunia pewayangan, agar anak-anak muda bangkit dari wayang. Dialah Kanjeng Madi yang sangat intens terhadap dunia pewayangan. Maklum, tokoh Keraton Surakarta ini, adalah sosok yang sangat suka dengan dunia wayang dan tokohnya. Untuk itu, Kanjeng Madi sengaja mengundang dalang pemula usia 17 tahun yang masih duduk  di SLTA sesuai dengan dunia pewayangan (Kokar).

Kanjeng Madi, berkenaan dengan ultah seorang kerabatnya berusia tujuh tahun bernama  Padmasiwi Nawang Enjang, menyertai dengan pementasan wayang tolak bala tahun 2010. Tujuannya, dengan pementaan wayang “Arjuna Matapa” bisa menjadikan jagat ini lebih rahajeng. Energi negatif bisa dinetralisir dengan sihir wayang yang dipentaskan. Dalang muda dan pemula ini adalah  Made Yoga Giri yang beralamat di Banjar Tojan Tegal, Desa Pering, Blahbatuh, Gianyar.

Wayang ini, juga mendapat perhatian tamu asing yang kebetulan sedang menimba  ilmu kebathinan di Daya Putih, Ndalem  Tojan, Desa Pering, Blahbatuh, Gianyar. Menurut Kanjeng Madi, wayang ini yang disetir Yoga Giri, dimohonkan dari Daya Putih, selanjutnya agar dalam pemula ini bisa berkiprah lebih lanjut dalam lakon yang lain dan dalam lingkup yang lebih luas lagi.

Kanjeng Madi pun memberikan tema pementasan wayang ini dengan “Menghidupkan Arjuna dalam Diri dengan Pagelaran Wayang Kulit” digelar dalam suasana gelap dan bernuansakan alam yang sesungguhnya. Ndalem Daya Putih yang berlokasi di tengah persawahan, sangat disenangi tamu asing. Di sinilah Kanjeng Madi memberikan ilmu-ilmu kebatinan (spiritual) kepada murid-muiridnya yang lebih disenangi tamu asing. Pementasan wayang yang disaksikan semua kerabatnya, termasuk tamu asing, memberikan keheningan alam dengan suara binatang malam yang hidup di persawahan.

Wayang Tolak Bala Tahun 2010 ini, menjadi media untuk menjadikan alam ini lebih memancarkan aura positif, sehingga umat manusia bisa melakukan aktivitasnya dengan damai, nyaman dan diberkati Tuhan. Pementasan wayang ini dilakukan bertepatan dengan rarahinan Hindu Anggarakasih Prangbakat (12/01/10) dengan durasi dua jam.  *** patra

Kategori:Panggung
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: