Beranda > Mitos > Permata Anugerah Bhatari Dewi Danuh (9)

Permata Anugerah Bhatari Dewi Danuh (9)

Tantangan Ki Pungakan  Adu Kesaktian

I Gusti Pasekan adalah orang yang cepat beradaptasi dengan lingkungan, dengan cepat ia dapat memperoleh teman-teman baru sebayanya di Denbukit; demikian juga Karena karismanya I Gusti Pasekan selalu menjadi yang paling menonjol dan memimpin kelompok-kelompok sebayanya. Apalagi dalam asuhan Ki Dumpyung dan Ki Dosot, I Gusti Pasekan sedikit tidaknya mengenal dasar-dasar ketatanegaraan dan etika-etika yang menjadi aturan di Karang Kapatihan ayahnya.

I Gusti Pasekan dengan cepat tumbuh dewasa, tubuhnya tegap dan ia tumbuh dengan kepribadian pemimpin. Ia sangat suka bertualang, naik gunung turun gunung, menyisir danau beratan dan keluar masuk desa yang ada di sekitaran Buleleng. Kerap kali ia tidak pulang lantaran kesukaannya melakukan tapa di daerah-daerah yang dirasakannya sebagai pusat-pusat spiritual. Kehebatan I Gusti Pasekan pertama kali di tunjukkan dengan menundukkan buaya besar penghuni salah satu sungai di desa panji.

Suatu hari masyarakat yang sedang mandi dikejutkan oleh munculnya seekor buaya yang sangat besar dan hendak memangsa salah seorang penduduk. Melihat kedatangan buaya, masyarakat Desa Panji yang sedang mandi lari ketakutan, ada yang teriak-teriak meminta bantuan, bahkan banyak yang hingga terkencing-kencing lantaran takutnya. Kebetulan pada saat itu I Gusti Pasekan berada di tegalan dekat dengan sungai dimana buaya tersebut muncul; mengdengar teriakan warga, dengan langkah ringan bagai walet, I Gusti Pasekan turun ke Sungai menghadang si buaya besar. Melihat ada manusia yang datang, buaya tersebut lalu dengan ganas menyerang menggunakan mulut dan ekornya, namun I Gusti Pasekan gesit mengelak lalu dengan cekatan dan sigap menelikung buaya itu hingga mati.

Melihat kehebatan I Gusti Pasekan dalam membunuh buaya, masyarakat Desa Panji mengelu-elukannya, bahkan berita keberanian dan ketangkasan I Gusti Pasekan dengan cepat menyebar hingga ke daerah-daerah pelosok desa-desa di Buleleng. Rupanya berita ini membuat Ki Pungakan, salah seorang tokoh yang sangat ditakuti di Buleleng menjadi tidak senang.

Perasaan tidak senang dari Ki Pungakan membuatnya ingin sekali menantang anak muda penakluk buaya tersebut adu kesaktian dengannya; bahkan secara terang-terangan Ki Pungakan selalu menyatakan hendak mengadu kesaktian dengan Ki Pasekan kepada setiap orang yang sedang menceritakan kehebatan I Gusti Pasekan.

Suatu hari, saat I Gusti Pasekan sedang berada di tegalan dan sedang mencongkel umbi ketela dengan kerisnya, lewatlah Ki Pungakan di jalan dekat dengan tegal tersebut. Ia diiringi oleh pengawalnya menuju tempat judi sabung ayam. I Gusti Pasekan yang sedang asik mencongkel-congkel ketela, lalu mendengar suara yang keluar dari kerisnya sendiri, keris itu berkata “tugasku bukanlah untuk mencongkel-congkel ubi, tugasku adalah membunuh musuh-musuhmu, itu manusia yang memiliki kebencian denganmu sedang melintas, ayo gunakan aku untuk membunuhnya”. demikianlah suara yang terdengar dari keris pusaka.

I Gusti Pasekan lalu berdiri, dengan sigap ia bergerak menuju jalan dimana Ki Pungakan akan segera melintas. Ia tidak mau mendahului, ia hanya duduk-duduk saja di tepi jalan menunggu lewatnya Ki Pungakan. Pengawal Ki Pungakan sangat terkejut melihat Ki Pasekan seorang diri duduk di pinggir jalan, salah satu dari pengawalnya lalu membisiki Ki Pungakan bahwa orang yang ada di depan dan yang sedang duduk santai itu adalah I Gusti Pasekan yang hendak ditantangnya adu ilmu. Ki Pungakan merasa sangat gembira mendengarnya lalu menghentikan kudanya tepat di depan I Gusti Pasekan.

Ki Pungakan lalu berkata, “Hai Gusti Pasekan, aku sudah mendengar akan kehebatanmu mengalahkan buaya Desa Panji, namun aku tidak yakin apakah kau akan mampu mnghadapi aku”. “jika kau takut, segeralah menyembahku, maka aku akan jadikan kau abdi setiaku”. mendengar kata-kata dari Ki Pungakan yang menantang dengan sombongnya, I Gusti Pasekan lalu berkata, “aku tidak pernah takut melawan manusia, apalagi manusia sepertimu yang hanya menebar ketakutan di desa-desa, kau ingin menguasai orang dengan cara membuat mereka takut, tindakanmu adalah perbuatan tolol seorang pemimpin”. “seperti telah aku katakan tadi, aku tidak pernah takut pada manusia”. apabila sekarang kau yang takut, segeralah pergi dari hadapanku dan berhentilah menakut-nakuti masyarakat”.

Mendengar kata-kata I Gusti Pasekan seperti itu, bukan alang kepalang marahnya Ki Pungakan, ia lalu turun dari kudanya, mencabut keris pusakanya lalu menantang I Gusti Pasekan bertempur. I Gusti Pasekan berdiri lalu mencabut kerisnya yang sedari tadi sudah tidak sabar hendak meminum darah Ki Pungakan. Singkat cerita terjadilah pertempuran sengit. Rupanya I Gusti Pasekan lebih sakti dari Ki Pungakan, setelah sekian lama dalam pertempuran, akhirnya keris I Gusti Pasekan yang bernama Ki Semang dapat menembus dada Ki Pungakan, dan akhirnya tewas saat itu juga. ***

Kategori:Mitos
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: