Kisah

Mangku Pande Siun/ Empu Nyoman Punduh

Kreator Keris Bali Warisan Kumpi

Berlatar belakang pande dan warisan leluhur seorang empu keris dari Kintamani, Bangli mengkreasikan pengetahuannya dengan membuat keris pajenengan. Selain itu juga membantu orang yang sedang mengalami sakit (malianin).

Soroh Pande di Bali, kerap dikenal memiliki sebuah kemampuan lebih untuk mengasah senjata-senjata tajam yang dipergunakan untuk peperangan zaman dahulu. Seperti kisah keris empu gandring dahulu dari sinilah keturunan Pande di Bali ini diturunkan, hingga jika saja orang pande mau bekerja bidang besi atau perlengkapan senjata akan cepat untuk menguasainya.

Jro Mangku Pande Siun atau sering juga dikenal dengan Empu Nyoman Punduh (di kalangan pakerisan Bali-red) memiliki kemampuan lebih sebagai soroh Pande. Dia tinggal di Desa Kayuamba, Kintamani Bangli. Untuk menuju ke lokasi bengkelnya ini tidaklah sulit. Dia mengerjakan semuanya di rumahnya sendiri. Semua orang, utamanya peternak pasti tahu yang namanya Pasar Kayuamba. Nah di sebelah utara pasar ini di timur jalan rumah daripada empu berjanggut putih ini.

Empu ini bekerja di rumahnya dibantu keluarga dan terkadang tetangga sekitar jika ada orderan yang banyak seperti membuat seperangkat gong, keris untuk pecalang, perlengkapan pertanian (cangkul, sabit dll). Pria kurus 50 tahun ini sulit untuk mengakui kepintarannya membuat keris, karena menurutnnya masih banyak orang lain yang lebih pintar dan berpendidikan dibanding dirinya yang hanya otodidak. Bagaimana sih kisah Mangku Siun bisa membuat keris?

“Ini warisan kumpi tiange, mulai dari membuat gong, keris, dan pande besi lainnya,” tutur suami Wayan Bunter ini.

Dengan kemampuannya mande besi ini ternyata berpengaruh pada kehidupan sosial dan niskala Mangku bersaudara enam ini, karena sebelumnya usaha perpandean ini sempat vakum selama 25 tahun lamanya. Selama itu dirinya tidak melanjutkan kegiatan yang sudah digeluti leluhurnya ratusan tahun silam. Selama vakum itu ternyata banyak kejadian aneh pada keluarganya ini. Jatuh dari kendaraan sering kali terjadi, bahkan juga sakit yang menahun tanpa sembuh pun sempat terjadi. Usaha inipun digelar kembali mulai dari tahun 1993, namun sebelumnya dia sempat mengalami sakit keras dengan tidak pernah makan selama 42 hari.

Divonis Mati, Hidup Langsung Malianin

Dengan polosnya bapak 5 anak ini menuturkan dirinya sempat mengalami kematian. Begini ceritanya, saat itu dirinya pas sedang tidur ada sebuah kendaraan datang dari utara ke selatan dan bolak balik terus di hadapannya. Karena itu dirinya kemudian berkeinginan naik namun malah dilarang. Dirinya mengaku melakukan pemaksaaan dan akhirnya kenek dari kendaraan tersebut menendangnya. Nah pas jatuh dari kendaraan tersebut kemudian dirinya terbangun, pas bangun banyak orang ramai yang mengatakan dirinya sudah meninggal.

Mengenai kejadian-kejadian yang dilakukannya ini karena penasaran pun ditanyakan ke orang pintar. Akhirnya diketahui dari baas pipis disebutkan dia mesti ngiringan Ida Bhatara di Pura Dukuh Sakti. Selain itu dia pun dianjurkan untuk malianin.

Mengenai membuat keris dirinya mengaku melakukan dengan cara otodidak, selain itu dirinya sempat mengkursuskan diri di Yogyakarta. Namun kursus ini dilakukan Cuma seminggu saja.

Paica Berdatangan

Semennjak dirinya menjadi balian seringkali ada paica yang datang. Paica yang nyata dia miliki adalah menjadi pajenengan Pura Dalem Sakti yakni Keris Ganja Dungkul. Keris inilah sarana utama dalam kegiatan malianin.

Ada juga paica kumis, sebelumnya dia tidak mengetahui apa kegunaan dari benda ini. Pas ada bule yang ingin mengetahui kegiatan pakerisannya ini, diapun menujukkan kumis tersebut. Kumis ini menurut bule yang kebetulan saat itu bermeditasi di rumahnya. Bule itu meyebutkan kumis itu untuk pangraksa jiwa. Selain itu masih banyak senjata atau paica yang lainnya berdatangan.

Keris Pajenengan Langsung Pasupati

Berbekalkan buku pakerisan dirinya terus mempelajari luk, pamor ganja dan semua hal yang berhubungan dengan keris. Sehingga akhirnya dia pun membuat keris dan mendapatkan dukungan masyarakat dengan membeli produknya ini. “Lebih banyak yang datang adalah mereka yang ingin membuat keris pajenengan,” lanjutnya.

Bukan saja dari wilayah Bangli saja, namun juga ada dari luar daerah seperti Karangasem, Tabanan, Buleleng dan bahkan ada juga dari Sulawesi dan Sumatra.

Saat membuat keris pajenengan dirinya melakukannya dengan dewasa terbaik selain itu juga sering dilakukan pemasupatian. “Masalah harga disesuaikan dengan tingkat pemasupatian, kesulitan pembuatannya juga, namun karena ini untuk yadnya dipersilahkan untuk membayar sekemampuan yang terpenting adalah bantennya saja,” tuturnya polos.

“Masalah pembuatan gong, untuk saat ini jarang ada yang ngorder, mungkin karena semua sudah punya gong kali,” katanya. Mengenai gong, dia mengatakan untuk seperangkatnya seharga Rp 45 jutaan tergantung ukiran dan prada yang akan dipergunakan.

Reporter & foto : Budikrista

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: